dydy's posts with tag: nostalgia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag nostalgia
Blog EntryNostalgia: di LSS ITBJun 23, '08 1:31 AM
for everyone
Seperti juga alasan saya masuk SMA 3 adalah supaya bisa gabung KPA 3, salah satu alasan saya masuk ITB adalah supaya bisa gabung LSS (Lingkung Seni Sunda)nya. Selain tentunya, karena pengen jadi arsitek, atau sekedar pengen jadi anak ITB. Atau kalo ancamannya kakak-kakak saya "Kalo ga masuk ITB, moal diaku adi! (ga akan diakui sebagai adik)". Hahaha, heureuy mereka memang kabina-bina. Tapi memang ancaman yang manjur. Gara-gara ancaman itu pasca Ebtanas saya belajar untuk UMPTN 8 jam sehari, mengurung diri di kamar, latihan soal-soal. Alhamdulillah lulus. Kalo ga lulus ke ITB, saya jadi mahasiswa STTTekstil Cicadas (serius).

Anyway, kenapa saya pengen gabung LSS? Pertama, karena ada something happened di KPA yang membuat KPAers angkatan saya sebagian 'bersumpah' kalo masuk ITB nggak akan masuk KPA. Apakah itu? Well, let's just keep it a mystery.
Kedua, sepertinya gara-gara cerita-cerita kakak saya yang ikutan LSS. Kok kayaknya asik. Bukan karena kegiatannya atau apa, tapi karena dari cerita-ceritanya sepertinya orang-orangnya rame, tukang heureuy dan pikaseurieun (yang nggak ngerti ngacung!).

Okeh, ceritanya udah masuk ITB nih. Daftarlah ke LSS, yang waktu itu tempatnya masih di... di...aduh apa namanya ya. Sesuatu Timur (Nanti kalo inget diganti. Memori saya udah parah sekarang.). Sekarang udah hilang tak berbekas, diganti Campus Center.

Seperti juga aktifnya saya waktu SMA di KPA, di ITB saya juga 'nyandu' LSS. Mulai dari proses orientasinya: belajar degung, sampe ikutan malam pelantikan (rasanya ada istilahnya, tapi lagi-lagi lupa). Setelah resmi jadi anggota makin aktif aja. Belajar segala-gala sambil tetep nyadar kemampuan (maksudnya, kalo buat nari mah, saya engga luwes...kurang cocog). Pas awal-awal biasanya angkatan baru dikaryakan buat maen degung dan upacara adat. Saya biasanya main bonang atau jadi mamayang (penari). Manggung di banyak acara kawinan, wisudaan, dll dsb. Jadi 'terbiasa' wajah bermake up tebal dan rambut bersanggul (waktu belom kerudungan).

Kesenian favorit saya di LSS adalah rampak kendang. Nontonnya, bukan maennya. Da maennya mah engga bisa. Meskipun pengen bisa.

Berorganisasinya juga ikut, meskipun nggak sepenuh hati karena sebetulnya saya nggak suka jadi pengurus. Lebih suka maen (siapa sih yang engga). Jadi seksi dokumentasi yang ga jelas, bendahara junior Lustrum yang ga ngerti jobdes, sekretaris yang juga teu baleg. Moral of the story: jangan mau memegang jabatan yang tidak disukai. Dijamin menderita. Jabatan yang saya sukai dan hayati selama di LSS adalah jadi tukang rias (sampe dikursusin ke salon di Balubur), dan redaktur MaCa (Majalah kaCa) dengan spesialisasi mengasuh kolom QoMa (Qomik Maca).

Yang pasti sih saya rajin bantu-bantu urusan dekor kalo LSS lagi ada acara. Sampai begadang-begadang di kampus, tidur di lantai Aula Barat pun hayu. Dan yang lebih pasti lagi, saya selalu menyediakan diri kalo LSS ada acara makan-makan atau nonton bareng. Dulu tempat makan yang sering jadi 'korban' LSS adalah Wendy's Dago (terus bangkrut diganti rumah makan Padang). Kenapa korban? Soalnya kalo barudak LSS makan di sana, dijamin paciweuh dan ribut.

Banyak yang memorable dari LSS. Saking banyaknya nggak bisa diceritain semua. Yang pasti saya tetep cinta sama LSS, dan kesenian Sunda. Tapi jangan minta sumbangan (dulu) yah, saya alumni yang tak berduit. Hihihi...



Blog EntryNostalgia: Ga suka jadi anak baruJun 20, '08 2:28 AM
for everyone
Saya dari dulu termasuk yang susah memulai bergaul. Apalagi waktu SD...waaah payah banget lah. Pendiam (sampe sekarang...meskipun keliatan banyak omong di blog yah...hehehe), dan enggak pedean. I always consider myself an ugly duckling (who turned into an ugly duck? heheh).

Makanya, buat saya jadi anak baru adalah penderitaan. Kalo pertama masuk sekolah di kelas 1 sih, ok lah, semuanya sama-sama anak baru. No problem. Semua sama-sama memulai. Tapi kalo jadi anak baru di lingkungan baru, nah...baru deh. Diem ga inisiatif, nunggu diajak aja. Kalo kata temen saya, "Kalo ga dipencet ga bakalan hurung" (hurung=nyala).

Karena papa dimutasi dari pusat ke daerah (biasa lah, karena clash sama pimpinan... politik...politik), jadilah saya juga ikut mutasi dari pusat ke daerah waktu kenaikan ke kelas 5. Meninggalkan sekolah yang sebelumnya sebetulnya nggak terlalu berat, soalnya ya itu tadi, saya bukan anak gaul. Nggak ada sobat yang terlalu dekat waktu SD. Beratnya malah karena ninggalin sekolah yang bangunannya bagus dan banyak fasilitasnya, dengan siomay yang terkenal enaknya. Ada yang nggak tau siomay Angela? ah rugi deh.

Pindah ke Sukabumi, ortu saya tetep cari sekolah yang segrup sama St.Angela mengingat kualitas pendidikannya. Jadilah saya sekolah di SD Yuwati Bhakti yang seordo (Ursulin) sama St.Angela. Pindahan, pastinya banyak ngebanding-bandingin, apalagi buat anak kecil yang masih self oriented, gengsian, merasa 'anak kota yang diturunkan ke daerah' (ah payah deh gue): ih kelasnya kecil dan gelap. Jauh sama kelas-kelasnya Angela yg besar dan terang benderang. ih kantinnya jelek, jualannya ga mutu. Dan ih ih lainnya. (Ga tau aja pada akhirnya si ih ih ini berubah jadi ah ah...jajanannya enak lho di YB.)

Saya masuk kelas 5B, wali kelasnya bu Mahrita (yang kena kanker rahim). Waktu itu di kelas saya ada 2 anak baru. Yang satu kecil imut lucu, yang satu gede ga imut ga lucu (si ugly duckling). Karena sesuatu hal, satu di antara kami akan diambil sama kelas 5A. Yang terpilih sama wali kelas 5A untuk masuk di kelasnya ternyata temen saya yang imut lucu. Ketidakpedean saya nambah dong (uh pasti karena saya ugly). Apalagi ketika ternyata pas pembagian raport caturwulan pertama, ada policy yang aneh: murid kelas 5B tidak bisa ada nilai 9 di raport meskipun layak. Sementara 5A bisa. Jadi kalo kata guru saya sih, sebetulnya saya punya beberapa nilai 9 di raport, tapi apa daya, dibikinlah jadi 8 semua.

Tapi ternyata....ternyata...temen-temen saya di sini sangat friendly. Hangat dan menyenangkan. Si ugly duckling langsung punya banyak temen baru. Senang deh. Apalagi karena kota kecil, rata-rata rumah temen-temen nggak jauh dari sekolah. Rumah saya waktu kelas 5 itu, ga sampe 100 meter dari gerbang belakang. Jadi ini pengalaman baru: pulang sekolah bareng sama temen-temen jalan kaki. Menyenangkan.

Yang baru lagi, di Sukabumi pelajaran olahraga paling populer adalah berenang! Kalo di Bandung kan basket. Di sini saya pertama kali belajar berenang dengan baik dan benar. Apalagi waktu itu di depan rumah saya ada kolam renang umum, yang sering dipake buat pelajaran renang oleh sekolah saya. Menyenangkan.

Ah pokonya banyak hal yang menyenangkan di Sukabumi (sementara ortu saya punya horrible memories tentang Sukabumi...that's another story in Nostalgia series. Wait for it!). SD 2 tahun di Sukabumi lebih berkesan dari 4 tahun di Bandung. Temen-temennya, jajanannya, pramukanya (wajib euy), berenangnya, ngewakilin sekolah pas Porseni (main catur! kalah pula di ronde pertama! lagiaaan...siapa suruh saya main catur. Sekedar main sih tau, strategi? Boro-boro), ngewakilin sekolah buat pelajar teladan (abis katanya saya satu-satunya murid non-Cina yang memenuhi standar. Maklumlah, Indonesia masih diskriminatif. Padahal ada Elke dan Elsa yang pinter-pinter. Tapi alhamdulillah sampai ke tingkat Jabar).

(ini foto perpisahan SD. NEM tertinggi dari kanan ke kiri. Tebak saya yang mana)

Pindahan kedua, waktu kenaikan ke kelas 2 SMP. Seperti yang sudah diceritakan, saya pindah ke SMP Negeri di daerah Kebon Kelapa. Yang ini banyak shock-nya. Pertama, pindah dari swasta ke negeri, yang katanya persaingannya bakal lebih ketat. Kedua, dari sekolah Katolik ke sekolah umum, ada pelajaran agama Islamnya (haha...dulu mah ini nightmare, karena ga bisa). Ketiga, ada sekolah siangnya. Kalo mau ngebandingin bangunannya, walah...jauh pisan. Saya asli kaget waktu pertama kali masuk kelas 2D: ih! Gelap! Kotor! Belum lagi di laci/kolong mejanya banyak...kulit kwaci! Ya ampyun.

Lagi-lagi saya jadi ugly duckling yang lama baru bisa adaptasi. Apalagi suasana nggak sehangat di YB. Alhamdulillah, yang bikin status dan kepedean mulai terangkat adalah waktu pelajaran bahasa Inggris. Soalnya saya satu-satunya yang bisa ngejawab pertanyaan si bapak dengan benar. Heheh.

Tapi memang betul, persaingan di sekolah negeri kerasa banget lebih susah dibanding waktu saya di Sukabumi. Atau mungkin gara-gara saya pindah dari daerah ke pusat lagi. Kalo di YB saya langganan juara 1 atau 2, di sini, nggak gampang! Langganan juara 1 di kelas saya dipegang Budiyana (yang akhirnya sejalur juga ke SMA 3 dan ITB). Saya mah, ah berapa ya, lupa. Sekian sekian deh, meskipun masih 10 besar.

Yang asik dan memorable semasa di sini adalah: pelajaran masak, jajanan enak (gehu, lumpia basah, roti kukus, martabak mini), grup angklung, guru-guru yang baik hati. Yang memorable tapi nggak asik: difitnah (digosipin suka sama seorang cowo yang ternyata dikeceng sama seorang cewek berbadan gede. Alhasil tiap ketemu cewe itu saya dipelototin).

Hihihi...asik ya mengingat masa kecil. Lucu.

Tapi saya tetep ga suka jadi anak baru, sampai sekarang. Termasuk jadi orang baru di lingkungan pertemanan yang sudah established. Soalnya saya susah gaul. Kecuali online. :D


Photo AlbumButuh bantuan, guru SD saya (1 photo)Jun 19, '08 6:39 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
...ibu Mahrita, guru SD Yuwati Bhakti Sukabumi, menderita kanker rahim. Mau dioperasi tapi uangnya tidak cukup. Berikut ini surat himbauan dari sekolah untuk membantu bu Mahrita..

Jadi nostalgia lagi...
Bu Mahrita yang cantik pintar dan baik hati dan selalu kurus...

Blog EntryNostalgia: Politik masuk sekolahJun 19, '08 4:53 PM
for everyone
(Nostalgianya dibikin berseri ah...)

Kadang-kadang saya ngerasa seperti Miss Marple, suka menghubung-hubungkan dua kejadian yang berbeda, tapi mirip.

Mengikuti berita-berita kampanye presiden Amerika, salah satu janji yang dikampanyekan oleh kedua kandidat adalah menumpas lobbyists dan special interests groups, yang seringkali merugikan kepentingan orang lain yang sebetulnya punya hak sama tapi tidak punya lobbying power (termasuk money).

Karena kampanye-kampanye ini saya jadi inget waktu SMP. Kenaikan ke kelas 2, saya pindah ke Bandung, setelah 3 taun di Sukabumi. Saya didaftarkan ortu ke SMP Negeri paling top di Bandung. Eh ternyata nggak keterima, katanya alasannya karena saya (dan kakak saya juga, sama2 ditolak) pindahan dari sekolah swasta di luar daerah, apalagi katanya kakak saya pindahnya di kelas 3. OK lah, whatever. Akhirnya kita berdua masuk SMP di daerah Kebon Kelapa.

Bertahun-tahun kemudian, saya ngobrol soal ini sama temen seangkatan sejurusan di kampus. Dia lulusan SMP Negeri paling top seBandung itu. Komentarnya ngagetin saya. "Kok aneh? Saya dulu juga pindahan, dari sekolah swasta, kelas 3, jauh lagi dari Jogja. NEM saya lebih kecil dari kamu, tapi saya keterima." Whattt???? Fyi, temen saya ini ortunya termasuk kaya raya, dibanding ortu saya mah jauh lah.

Gara-gara obrolan ini saya jadi sebel sama SMP Negeri paling top seBandung itu. Meskipun alumninya banyaaaaaaaaaaaaaaaak yang jadi temen-temen saya. hihihi...

politiiik politik...

Blog EntryNostalgia: di KPA 3Jun 18, '08 3:50 PM
for everyone

Abis baca tulisan Ajeng tentang buku KPA 3 keliling Eropa, jadi mood bernostalgia, kembali ke 17 taun yang lalu. *omg omg omg...17 taun..*

Saya aktif ngangklung sebetulnya dari SMP kelas 3. Waktu itu grup angklung SMP saya udah sekian taun nggak aktif, baru mulai diaktifkan kembali oleh pembimbingnya, pak Hasan guru sejarah yang kusayang *da bageur*. Lupa gimana kok akhirnya bisa gabung, apa karena si bapak nyari orang ke tiap kelas gitu ya? Yang pasti akhirnya angkatan saya yang ikut cuma sedikit banget, mungkin 5. Lainnya anak kelas 1 dan 2.

Lupa juga gimana akhirnya kok saya jadi ketua grup angklung SMP saya, plus kebagian tugas ngedisain kaos buat penampilan di perpisahan nanti. Anyway anyhow, perkenalan dengan dunia angklung di SMP ini yang bikin saya bertekad masuk SMA 3: biar bisa gabung KPA! (Soalnya tadinya pengen juga masuk SMA 8 yang ada jurusan A4-bahasa, tapi dipikir-pikir SMA 8 ga ada KPA!).

Masuk SMA 3, pilihan pertama ekstrakurikuler tentu aja KPA, karena saya sudah terlanjur cinta sama angklung. Setelah gabung, makin cinta karena saya suka jenis-jenis lagu yang dimainin di sana. Kalo ada yang mengira angklung itu cuma buat mainin lagu tradisional atau klasik, itu salah! Pemandu-pemandu visionaris dan berbakat di KPA mengaransir lagu-lagu pop bahkan rock untuk dimainkan angklung. Angkatan saya paling kenal sama Winter Games-nya David Foster sama soundtrack MacGyver. Angkatan 96 mungkin Santorini-nya Yanni.

Banyak pengalaman di KPA 3 yang nggak terlupakan. Menang festival, gagal main di Konferensi Asia Afrika padahal udah latihan selama liburan, main waktu study tour ke SMA 1 Jogja, ikut ngecat ruang KPA, ngadangdut bersama cowo-cowo bandel 96, rebutan main bas betot, latihan tiap Sabtu, manggung di mana-mana, dikira cowok sama mahasiswa Elektro, jalan-jalan, dan kampanya calon ketua KPA.

Yang terakhir ini inget banget satu pertanyaan: "Bagaimana visi kamu tentang KPA 10 tahun lagi?" Waktu itu saya jawab, KPA saat itu sudah terkenal dan mendunia. Tapi memang jawaban paling bijak dari Nane, bahwa itu semua tergantung anggota dan pengurusnya. "Kalo mau usaha dan kerja keras, bisa berkembang dan jadi kuat. Kalo nggak ya nggak akan jadi apa-apa". Nggak heran memang kalo akhirnya Nane yang jadi ketua KPA.

Ternyata memang anggota, pengurus, dan pemandunya sangat mau usaha dan kerja keras, sampe akhirnya bener-bener mendunia. Bravo!

ReviewReviewReviewReviewReviewKontes Putri-putrianApr 2, '08 7:55 PM
for everyone
Category:Other
Habis baca tulisannya nenengceriwis tentang kontes putri-putrian yang 'mewakili Indonesia' tapinya nggak ada yang menguasai kesenian daerah, dan harus punya tinggi minimal sekian dan sekian. Habis itu baca tulisannya umminida tentang temennya, seorang ibu yang sudah meraih doktor di usia 30 dan baru saja mendapat beasiswa penelitian.

Saya jadi inget satu kontes putri-putrian yang bener-bener beda banget dengan kontes-kontes putri-putrian jaman sekarang yang menurut saya lebih seperti kontes kecantikan, yaitu kontes Puteri Remaja yang diadain majalah Gadis sekitar awal 80-an.

Saya nggak hafal mulainya dari tahun berapa, tapi sepertinya PR terakhir itu tahun 85 atau 86, soalnya tahun 87 mulailah tradisi Gadis Sampul yang berlanjut sampai sekarang. Taun segitu memang saya masih SD, tapi sampai kuliah pun saya masih suka buka-buka bundelan majalah Gadis jadul yang ada di perpustakaan rumah, soalnya isinya bagus.

Yang saya ingat dari kontes Puteri Remaja adalah, nggak ada syarat tinggi minimal, dan yakin seyakin-yakinnya bukan kontes kecantikan. Kenapa? Soalnya saya inget ada kontestan yang kecil mungil, ada yang kacamatanya setebel pantat botol, dan banyak yang saya yakin nggak akan menang kontes kecantikan. Bukan menghina lho, yang baca pasti ngerti lah maksud saya.

Tapi yang bikin kagum dari para kontestan adalah prestasi dan kemampuannya. Yang menang lomba karya ilmiah remaja bidang sains, yang aktif di organisasi, yang jago tari, teater, musik, dll. Jadi bukan tipe-tipe yang baru belajar sasando setelah menang kontes, atau yang baru punya kepedulian sosial setelah dinobatkan jadi putri, tapi yang sudah aktif dan punya keahlian dari awalnya.

Karantina-nya Puteri Remaja bukan berkunjung ke pabrik kosmetik, belajar koreografi untuk malam penobatan, belajar dandan, sesi pemotretan dll. Isinya sesi diskusi, belajar berorganisasi, malam ajang bakat, semacam itu lah.

Salah satu finalis Putri Remaja yang mungkin temen-temen kenal namanya adalah Tika Bisono. Tapi dari semua finalis dan pemenang yang pernah saya baca, satu yang paling saya inget adalah pemenang Puteri Remaja taun 85 : Ravenska Radjawane dari Ambon. Dia yang prestasinya juara lomba karya ilmiah remaja itu, meneliti cacing laut (gila juga nih saya masih inget kayak ginian).

Gara-gara baca postingan si nenengceriwis dan umminida, saya jadi penasaran dan browsing namanya. Ternyata...yang bersangkutan sudah bergelar Doktor dan sekarang jadi peneliti di Canada. Memang pantes jadi juara. Ini baru namanya puteri.

*berita ttg Ravenska Radjawane dan foto saya ambil dari http://abgnet.blogspot.com/2008/01/tahukah-anda.html*


VideoJordy - Dur dur d'être bébéMar 28, '08 12:38 PM
for everyone

Dur Dur D'être Bébé

C'est dur dur d'être bébé
Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Dur dur d'être bébé

Je m'appelle Jordy
J'ai quatre ans et je suis petit
Dur dur d'être bébé, dur dur d'être bébé
Viens ici, touche pas ça
Reste assis, vaa pas là
Fais comme çi, fais comme ça
Patati et patata
Pourquoi çi pourquoi ça
Pourquoi c'est comme ci
Pourquoi çi pourquoi ça
Pourquoi c'est comme ça.

Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Dur dur d'être bébé.

Et Maman, qu'est-ce que tu dis
Fais dodo, laves tes dents
Enlève tes doigts du nez
Fais pas çi, fais pas ça
Patati et patata
Pourquoi çi pourquoi ça
Pourquoi c'est comme ci
Pourquoi çi pourquoi ça
Pourquoi c'est comme ça.
Reste assis, pas d'accord!
Touche pas ça, pas d'accord!
Va pas là, pas d'accord!
T'auras pas de dessert
Et Mamie, et Papi, et Maman
C'est dur dur d'être bébé

Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Oh la la bébé, c'est dur dur d'être bébé
Dur dur d'être bébé.


Translation:
It's Hard To Be A Baby

It's tough to be a baby
Oh, baby, it's tough to be a baby
Oh, baby, it's tough to be a baby
Tough to be a baby

My name's Jordy, I'm four years old, I'm really small
It's tough to be a baby, tough to be a baby
Come here, don't touch that, sit still, don't go there
Do this, do that, blah, blah, blah
Why this, why that, why is that like this?
Why this, why that, why is that like this?

Oh, baby, it's tough to be a baby
Oh, baby, it's tough to be a baby
Tough to be a baby

And mommy says, go to bed, brush your teeth
Don't pick your nose, don't do this, don't do that
Blah, blah, blah
Why is this, why is that, why is that like this?
Why is this, why is that, why is that like this?
Don't move - no way!
Don't touch that - no way!
Don't go there - no way!
You won't get your dessert
And grandma, grandpa and mommy
It's tough to be a baby

Oh, baby, it's tough to be a baby
Oh, baby, it's tough to be a baby
Tough to be a baby


Import.flv (7.9 MB)

VideoChin Chin Pon PonMar 28, '08 9:31 AM
for everyone


Import.flv (5.4 MB)

VideoMacGyverMar 17, '08 9:09 PM
for everyone
theme song. for you KPA3ers.


Import.flv (2.9 MB)

VideoM.A.S.K. agents assembleMar 17, '08 2:30 PM
for everyone
brad turner aka condor
bruce sato aka rhino


Import.flv (4.8 MB)

VideoMASK introMar 17, '08 2:27 PM
for everyone


Import.flv (2.4 MB)

VideoGalaxy RangersMar 17, '08 2:13 PM
for everyone


Import.flv (2.7 MB)

VideoLima SekawanMar 17, '08 1:58 PM
for everyone


Import.flv (5.1 MB)

LinkGhostly Temple (Jackie Chan) bag 1Mar 15, '08 6:45 PM
for everyone
Link: http://www.youtube.com/watch?v=g9YPc_oC2CI

ketemu! tontonlah film keren ini...
pantesan ga pernah nemu di Youtube, ternyata beredarnya di sini dengan judul Spritual Kung Fu

VideoPendekar Ulat Sutra ( 1978 )Mar 15, '08 6:37 PM
for everyone


Import.flv (7.3 MB)

VideoCandy-Candy (ending)Mar 15, '08 5:49 PM
for everyone


Import.flv (3.7 MB)

VideoCandy-Candy (opening)Mar 15, '08 5:47 PM
for everyone


Import.flv (2.6 MB)

VideoIkkyu-sanMar 15, '08 4:12 PM
for everyone


Import.flv (3.7 MB)

VideoNana Mouskouri "Only Love"Mar 13, '08 4:59 PM
for everyone
ternyata lagu ini lagunya Nana Mouskouri...


Import.flv (10.3 MB)

VideoPaul Mauriat - ToccataMar 13, '08 4:19 PM
for everyone


Import.flv (6.8 MB)

Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help