dydy's posts with tag: living in the us
 | Panas! | Jun 8, '08 12:28 PM for everyone |
kena heatwave... seperti 2 taun yang lalu... kemaren lebih panas dari hari ini, besok katanya lebih panas juga .... ga ada AC lagi...
 akhirnya...jadi juga Obama sebagai calon presiden dari partai Demokrat. Tiga pidato hari ini : dari John McCain, Hillary Clinton, Obama. Yang satu, seperti pidato kampanyenya yang lain, divisive. Yang kedua, pidato nggak mau kalah. Yang ketiga dong, pidato keren. Komentator2 CNN sampe terkagum-kagum...salah satunya kira-kira bilang gini "The speech had echoes of Reagan, Martin Luther King and Abraham Lincoln" Orator jenius. Saya jadi pengen tau presiden Sukarno kalo pidato kayak gimana. Pidatonya nggak pernah menjelek-jelekkan, nggak pernah divisive, nggak pernah menyerang secara negatif (personal attack, etc). Selalu positif. Lebih sering bicara "we" daripada "I". Naga-naganya Obama jadi presiden nih. The first black president. It's exciting to be in the US at this historical time. Meskipun cuma jadi pemirsa.
Sewaktu baca berita tentang artikel udanya Lessy di majalah Gatra, saya tertumbuk gelar "Prof.Dr" dan tulisan visiting professor. Saya jadi ingat obrolan sama suami beberapa tahun lalu tentang perbedaan gelar profesor di Indonesia dengan di luar negeri. Waktu itu kita baru pindah ke Lehigh university di Bethlehem, Pennsylvania. Di milis lalu ada yang tanya, "Oh, satu kampus sama profesor termuda dari Indonesia itu ya?". Ya, memang ada dosen di Lehigh yang asal Indonesia, namanya Nelson Tansu. Tapi profesor termuda? Apalagi di artikel itu disebut guru besar? Orang Indonesia suka salah kaprah dengan kata profesor. Kalo di US, yang namanya dosen di universitas, rata-rata disebut professor. Mau profesor betulan ataupun bukan. Maksudnya profesor betulan? Baca di wikipedia aja deh. Tapi gambarannya sih, professor yang betul-betul professor itu ada tingkatannya. Mungkin di tiap negara beda, kalo di US mulai dari associate professor, assistant professor, eh kebalik (thanks mbak mamiek), assistant dulu baru associate, dan puncaknya full professor. Saya menduga, karena pendidikan tinggi di Indonesia mengacu ke Belanda, makanya "profesor" di Indonesia disamakan dengan guru besar. Karena di Belanda yang namanya profesor itu selevel dengan full professor di US. Malah kata suami saya, untuk mencapai gelar profesor di Indonesia, jauh lebih sulit lagi. Dia mencontohkan pak Jorga Ibrahim dosen Astronomi ITB. Kalo di luar negeri, katanya, pak Jorga pasti udah termasuk professor. Tapi di Indonesia, belum. Nelson Tansu sendiri sampai sekarang masih berstatus assistant professor, belum full professor. Bukan bermaksud mengecilkan keprofesoran ybs, tapi cuma ingin meluruskan pemahaman orang Indonesia tentang status profesor. Sekolah di Indonesia lebih susah lho. Level S1 di Indonesia sama dengan level Master di sini. Jadi nggak usah heran kalo di sini banyak Doktor-doktor muda, karena graduate student bisa langsung jadi doktor kalo emang mau. Program Master didesain untuk mereka yang nggak pengen melanjutkan jadi Doktor. Malah kata suami saya skripsi/TAnya mahasiswa Fisika ITB seringkali canggih-canggih, hanya selevel di bawahnya riset doktoral di sini. Sayangnya, S1-nya Indonesia nggak diakui di sini. Sigh...nasiiiib nasib orang Indonesia. Jadi kalo mampu, lulus SMA sekolahin aja ke sini....cepet jadi doktornya...hihihi...
Kemaren waktu naik subway R menuju Elmhurst dalam rangka nganteri n Tarlen jalan-jalan ke craftstore Michaels, makan di Minang Asli, dan belanja di Topline, kita ketemu sama salah satu seniman yang sering beraksi di subway-nya New York. Kalau biasanya seniman subway ini berupa pengamen --> nyanyi, main musik, atau kadang-kadang breakdance, kali ini kita ketemu seniman gambar. Seorang pemuda kulit hitam yang ramah. Dia menawari orang-orang di subway yang duduk di sekitarnya untuk digambar. Menggunakan marker abu-abu, dengan cepat 'sret sret sret' dia mulai membuat sketsa. Waktu kita datang, dia sedang membuat sketsa seorang pemuda bertopi di seberangnya lengkap dengan gitar yang dibawanya. Menarik banget deh ngeliatnya. Sambil menggambar dia ngobrol dengan seorang wanita setengah baya yang sepertinya barusan digambarnya juga, dan cerita kalau sodaranya yang juga pernah digambar sama dia, titip salam. Setelah gambar si pemuda selesai, si seniman menawari saya dan Aliefya yang waktu itu lagi tidur, untuk digambar. "Ok!" saya bilang. Dia mulai sketsa lagi. Sret sret sret. Saya ngeliat dia ngegambar sambil nggak bisa nahan senyum. Suka sih ngeliatnya. Setelah selesai dan diparaf, dia nulis sesuatu di belakangnya, dan gambar itu dikasih ke saya. Tulisan di belakangnya ternyata "Please tip if you like". Oooo...tadinya saya pikir dia gagambaran sebagai having fun, ternyata ngamen juga. Tapi ngamen jenis ini saya suka : interaktif, personal, tapi tetep nggak maksa. Si pemuda yang tadi udah kasih tip. Waktu saya mau ngeluarin dompet, eh...si seniman turun "This is my stop," katanya. Sayang juga, padahal saya rela hati banget ngasih tipnya. Hasilnya? Lumayan.  New York itu menarik.
|  | kayak Central Park...cuma lebih sepi |
|  | Pulang dari Brooklyn, kita tertipu peta subway. Di peta 'tampaknya' ada jalan tembus dari stasiun subway F 63rd and Lex ke stasiun subway 59th and Lex. Ternyata enggak ketemu. Jadi kita keluar ke jalan untuk kemudian menuju 59th street. Nyampe 62nd st...lho....jalan diblokir polisi! Ternyata oh ternyata, Paus Benedict mau lewat (tapi ga jelas lewatnya kapan, kata pak polisi sih "in a few minutes" tapi ga lewat-lewat...). Alhasil banyak orang yang terjebak di situ, padahal cuma mau nyebrang, termasuk kita. Bingung dong, soalnya yang diblokir adalah 62nd street dan Park Avenue, padahal pilihan kita kalo ga ke 59th, ke Central Park, dan jalan ke dua-duanya terblokir.
Sambil nunggu iseng-iseng motret kembang...
Ada yang ngerayu-rayu polisi biar bukain blokiran "Pak, pak, saya cuma mau nyebrang ke situ lho". Ada yang ngomel-ngomel sendiri "Gua ga mau dikira nungguin Pope lewat". Eh akhirnya karena ga lewat-lewat, ada polisi baik hati bukain blokiran di perempatan Park and 62nd, khusus buat yang mau nyebrang. Hehehehe...lega deh ga jadi terjebak.
Hari ini jadwalnya Paus Benedict ke site WTC dan ngasih misa di Yankee Stadium. Memang tadi siang pas kita lewat Yankee Stadium, di pintu masuknya menyemut orang-orang yang ngantri mau masuk stadium. Dan pulangnya, subway 4 arah uptown yang biasanya melompong setelah stasiun Yankee Stadium, hari ini penuh sesak dengan umat Katolik. Banyak suster berjubah pula.
I love the happiness and eagerness I saw in those people's faces. Suasananya seperti sebelum dan setelah konser Raihan, muka-muka excited dan bahagia dan damai... |
| Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | 455 7th Ave, Brooklyn 11215 |
Asli saya ga tau di Brooklyn ada restoran Indonesia. Yang ngasih tau malah orang Connecticut!
Jadi ceritanya teman keluarga kami, salah satu sesepuh orang Indonesia di Connecticut, bu Dahlia (sama suaminya, pak Yitno), beberapa hari yang lalu nelpon, katanya mau ke New York. Tepatnya ke Brooklyn. Katanya temen beliau mau ngadain syukuran, dan beliau mengundang kami untuk datang juga. Sebetulnya kita sungkan sih tadinya, diundang ke acaranya orang yang belum kita kenal. Tapi karena udah satu setengah tahun nggak ketemu beliau, dan menghormati undangannya, jadi datenglah kita ke sana.
*Akhirnya....setelah hampir 3 taun di NYC, saya nginjekin kaki di Brooklyn juga...hihihi. Naik subway F turun di Prospect Park. Wah...daerahnya indah dan bersih. Parknya besar...*
Ternyata temennya adalah pemilik restoran Java Indonesian Rijsttafel, bu Rofiah Agoes, dan acara syukuran hari itu adalah acara potong rambut cucu pertamanya, Ardian yang hari ini berumur 44 hari. Bu Dahlia dan pak Yitno ternyata yang bagian ngaji dan ceramahnya di acara ini.
Restorannya terletak di pojok persimpangan 7th Ave dan 16th st. Ruangannya kecil dengan jendela-jendela besar. Di dinding terpampang lukisan-lukisan batik, wayang, dan beberapa ukiran. Hari ini susunan meja dan kursinya pastinya nggak seperti biasanya, jadi saya ga tau biasanya kayak apa. Hari ini meja-meja disusun merapat ke dinding untuk meja prasmanan. Kursi-kursi di tengah ruangan dan di luar untuk para tamu.
Tau nggak kenapa saya kasih bintang lima? Soalnya hari ini saya ketemu tempe bacem dan kue lupis enakkkkkkkkkk! Kapan2 ke sana lagi ah. Tapi memang dari review di internet, bintangnya sekitar segitu juga.
Oiya, restorannya baru mulai buka jam 4 sore sampai 9 malem.
Jadi prens ya, restoran Indonesia enak di NYC bukan cuma di Elmhurst.
 Ya ampun nggak kerasa udah nyampe 10 lagi seri NYC ini. Ternyata kalo emang niat banyak yang bisa diceritain yah :P. Siapa waktu itu yang minta diceritain tentang tempat sangar dan seram? Yussi ya? Apa Gita? Yang selalu dapet 'gelar' tempat sangar dan seram, selalu Bronx dan Harlem. Pasti aja itu mah. Tiap denger Bronx atau Harlem, komentarnya, "Nggak serem di sana?" atau "Ih itu kan daerah kumuh, daerah orang item," dll dsb. Memangnya apa sih indikasi suatu tempat itu serem dan sangar? Kalo dari segi kondisi lingkungan yang kumuh kotor banyak sampah, bechek (meskipun ga ujan dan jelas ga ada ojek :P), saya bisa nyebut banyak tempat lain selain Bronx dan Harlem (ya, termasuk di sekitar midtown Manhattan) yang masuk kategori itu. Broadway sekitar 30th st itu kumuh lho. Padahal cuma satu blok dari 5th Avenue yang bersih terawat. Daerah situ tempat nya toko-toko grosir pakaian dan perhiasan, tempat parkir bertingkat, ada bekas hotel yang dijadiin low income apartment, dll. Salah satu yang bikin banyak bagian kota terlihat kumuh adalah hitam-hitam tetesan aspal di trotoar. Bangunan-bangunan beratap datar kan diberi lapisan aspal di atasnya untuk waterproofing, nah, mungkin pada saat pembangunannya, aspal-aspal itu nyiprat sana sini di trotoar sekitarnya. Dan nggak bisa dibersihin kali. Atau dibersihinnya cuma di tempat-tempat yang banyak turisnya aja kali ya. Yang juga mengganggu pemandangan adalah tumpukan garbage bags di trotoar pada hari-hari pengambilan sampah. Kalo di tengah kota sih biasanya paling pagi diambilnya, kalo enggak kan malu-maluin. Yang pinggir-pinggiran dinomorduakan, kadang kelewat :P. Ga sering sih, tapi pernah. Kalo kekumuhan akibat graffiti, wah itu sih tersebar di semua borough. Di mana ada tembok kosong, di situ rawan graffiti. Kasian deh departemen kebersihan yang kebagian ngehapus-hapusnya. Dan nggak jarang juga malah si pemilik bangunan yang apes terpaksa ngebersihin sendiri. Dari statistik jumlah graffiti yang dibersihkan dalam sebulan terakhir ini aja, di Brooklyn lebih dari 2000 spot, Manhattan seribu sekian, abis itu baru Bronx. Kalo lagi naik kereta yang relnya di atas jalan, keliatan deh graffiti-graffiti di gedung-gedung apartemen. Oke balik lagi ke Bronx dan Harlem. Seram dan kumuhkah? Di tempat-tempat tertentu memang iya. Seperti yang saya bilang di postingan Da Bronx dulu, memang ada tempat yang 'males banget deh' soalnya itu daerah industri, prostitusi, dan mafia controlled fish market (males kan...pasar ikan gitu lho...dikuasai mafia pula). Daerah ini namanya Hunts Point. Kalo kekumuhan kayaknya enggak memusat di satu tempat. Menclak menclok di sana-sini. Kalo Harlem, lagi-lagi tergantung tempatnya. Daerah deket kampus Columbia nggak tuh, terus di avenue-avenue besar nggak kumuh juga. Di beberapa streetnya memang iya, tapi ga semua. Ada bagian-bagian Harlem yang bagus dan asri.  Kalo serem dan sangarnya diukur dari kriminalitas...naaah...ini mah perlu data akurat, berhubung saya bukan NYPD Commissioner yang bisa ngasih gambaran di luar kepala :P. Kebetulan bulan Januari lalu soal kriminalitas di NYC baru dibahas di New York Magazine, jadi pertanyaan anda bisa terjawab, sodara-sodara. Dan saya sendiri baru tau kalo saya tinggal di salah satu daerah teraman di NYC! Senangnyaaaaa.... (tapi daerah sekitarnya sih ngaco...hahaha) Klik aja gambar ini buat detailnya. Jadi kalo mau tinggal di daerah aman di NYC, carilah tempat di Queens atau Staten Island (yang di peta ini bahkan warna birunya hampir transparan saking rendahnya tingkat kriminalitas). *keterangan foto : bangunan apartemen tempat saya tinggal waktu masih di Inwood. Difoto beberapa hari sebelum pindahan taun lalu*
 Saya sebetulnya masih terheran-heran, kenapa 2 olahraga paling populer di US (baseball dan American football) sama sekali nggak populer di luar US. Dan kenapa olahraga paling populer di seluruh dunia selain US (sepakbola) sama sekali nggak populer di US. Sebetulnya olahraga paling populer di sini ada 3 (ditinjau dari banyaknya liputan media) yaitu basket, baseball, dan (American) football ata u disingkat football aja yah...panjang teuing. Sepakbola di sini disebutnya soccer soalnya, bukan football. Padahal yah, American football itu maenin bolanya 99% nggak pake kaki lho. Nggak cocok pisan judulnya football. Setelah 3 itu mungkin ice hockey, golf dan tenis. OK, back to topic. Di sini klub-klub dari ketiga olahraga tadi adalah : Yankees dan Mets (baseball), Giants dan Jets (football), dan Knicks (basket). Masing-masing punya 'kandang' atau stadionnya. Yankees stadium ada di Bronx, Mets di Shea stadium (Queens), Giants di New Jersey (aneh ya), Jets numpang di stadiumnya Giants, dan Knicks berkandang di Madison Square Garden, Manhattan. Kalo lagi ada game di kandang Yankees, subway 4 pasti penuh. Saya pernah heran suatu hari pulang belanja dari Queens, terus ganti subway 4 di stasiun 59th st and Lexington menuju Bronx. Lah, kok subwaynya penuh banget dengan...anak-anak muda kulit putih. Untuk yang terbiasa naik subway menuju Bronx, that's very unusual. Diliat-liat, diperhatiin, ternyata rata-rata pake topi atau kostum Yankees yang setrip-setrip biru. Ooooo....rupanya pada mau ke Bronx karena Yankees tanding. Sampai-sampai nggak kebagian tempat duduk dari 59th ke Yankees stadium (kira-kira 10 stop), padahal sambil gendong Aliefya! Nggak ada yang ngasih tempat...sigh.  Kalo gilirannya Mets yang main di kandang, subway 7 yang penuh. Kalo Giants atau Jets...ga tau lah...mungkin PATH yang penuh. Ga peduli, selama ga ngeganggu perjalanan saya. Kalo Knicks sih karena di tengah kota jadinya ga terlalu pengaruh sama subway-subway yang menuju pinggir-pinggiran :D. Olahragawan yang paling tenar di New York adalah mereka-mereka yang kalo orang Indonesia bilang sih "Sapa tuuuh?". Sebut aja Derek Jeter, Alex Rodriguez, Eli Manning. Tuh, ga tau kan? Iya memang...ga penting kok. Dan sebaliknya, orang sini yang bilang gitu kalo kita sebut nama Zinedine Zidane, Michael Ballack atau Luis Figo. Beckham aja mereka lebih tau Victoria-nya daripada David. Eh...tergantung nanya sama siapa sih. Hehe.. Soalnya New Yorker yang bukan asli Amerika, ternyata tetep maniak bola. Kalo lewat Irish atau German pubs, kadang suka ada pengumuman di luar "Jam segini nonton bareng Liga Inggris" atau "Bundesliga". Pokoknya penggemar bola di sini, wajib punya tivi kabel kalo nggak mau ketinggalan pertandingan bola di 'dunia luar'. Sepakbola di sini sama sekali nggak populer, dianggap mainan anak-anak aja. Bahkan pas Piala Dunia 2006 kemaren, orang Amerika nggak tau kalo tim nasional mereka ikut main. Bahkan nggak tau kalo negara mereka punya tim nasional. Ngomongin PD 2006, jadi inget 2 taun yang lalu. Waktu itu saya masih tinggal di Astoria. Tetangga-tetangga saya rata-rata orang Mexico. Kalo Mexico lagi tanding, orang-orang yang biasanya suka nongkrong rame-rame di luar, mendadak saat itu senyap. Kalo Mexico menang, langsung deh barbecue di luar, atau pawai mobil bawa bendera Mexico. Saya waktu itu nggak punya tivi kabel, jadi cuma nonton pertandingan pilihan yang ditayangin di ABC aja. Atau kalo lagi ke laundromat punya orang Cina, ikut nonton sambil nunggu cucian beres. Nggak jarang loh ada yang bertengkar di jalan ngeributin timnya masing-masing. Seru lah.
Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan Yussi di postingan NYC pertama. Jawabannya : "Taman kota, Yus? DI NYC? Ada kira-kira 1700!" What do you think? Jumlah 1700 itu mencakup taman, playground, dan fasilitas rekreasi yang ada di 5 borough NYC. Mungkin ada yang mengira kalau Central Park adalah taman kota yang paling luas. Kalau konteksnya Manhattan, memang iya . Tapi kalo konteksnya New York City, Central Park 'cuma' ada di urutan kelima, dengan luas di bawah 1000 acres. Taman-taman kota di urutan 1 sampai 4, luasnya lebih dari 1000 acres, termasuk Van Cortlandt Park deket rumah saya yang ada di urutan ke 4. Saya mau ngebahas Manhattan aja ah, soalnya lebih menarik karena di skyscraper jungle semacam Manhattan, nggak susa h lho menemukan hijau-hijau dan public open space yang terancang dengan baik.  Sebetulnya Central Park lebih tepat disebut hutan kota. Karena memang dari jalan-jalan sekitarnya, lebih terlihat seperti hutan. Di dalamnya sih ada m acem-macam dan masing-masing ada namanya yang saya tentu saja enggak apal : lapangan rumput terbuka, lapangan-lapangan olahraga, playgrounds, kebun binatang, taman bunga, dll. Saya belum menjelajah semua bagiannya *capeee deh*, paling-paling ke kebun binatangnya, ke beberapa playground sambil ngelewatin beberapa lapangannya, sama duduk-duduk di taman-taman di pinggir-pinggirnya, sekitar 5th avenue dan Central Park South. Foto in i diambil dari kamar pasca bersalin Mount Sinai Hospital di Upper East Side, waktu saya abis ngelahirin Aliefya. Saya ga tau lapangan ini namanya apa. Yang pasti ini di Central Park sebelah utara. Di album foto saya ada beberapa yang diambil di Central Park dan sekitarnya, salah satunya yang ini. Selain Central Park, taman kota di Manhattan yang juga terkenal adalah Bryant Park. Selain karena posisinya yang ada di Midtown, betul-betul tengah kota, juga karena di sini tempat berlangsungnya New York Fashion Week. Kalo orang fashion, denger Bryant Park langsung mikirnya Fashion Week deh.  Bryant Park ini salah satu tempat nongkrong saya juga. Rasanya aneh aja kalo ada di situ, sambil memandangi gedung-gedung pe ncakar langit yang mengelilinginya. Seperti ada di dunia lain, yang nggak cocok dengan sekitarnya. Luas Bryant Park = (1 x 2 blok) - bangunan NYPL. Tepatnya di antara 40th dan 42nd streets, dan antara 5th dan 6th Avenue, di belakang bangunan NYPL yang besar itu, yang ada patung singanya. Di dalamnya terdiri dari lapangan rumput luas di tengah-tengah, dikelilingi taman-taman dan pohon yang lumayan rimbun, meja kursi, kolam air mancur, korsel, beberapa kios, dan ada restoran juga. Bagian depannya sepertinya sih menghadap ke 6th avenue yang ada air mancurnya, yang sering dipake panggung Good Morning America. Tapi saya nggak pernah masuk dari situ, selalu dari 40th street belakangnya NYPL. Lapangan rumput itu tertutup untuk umum kalo lagi dipake Fashion Week (tertutup tenda besar), lagi dipake jadi skating rink (kalo winter), atau lagi ditanami rumput baru. Selain itu sih terbuka-terbuka aja. Kalo summer tuh...waah...serasa di pantai deh. Banyak jemuran (banyak yang berjemur, maksudnya, pake bikini...halah...di tengah kota gitu loh).  Selain Central Park dan Bryant Park, sebetulnya banyak taman dan public open space di 'belantara' Manhattan yang menarik. Saya nggak tau aturan jelasnya, tapi memang bangunan tinggi diharuskan menyediakan open public space sekian persen dari luas tanahnya (cmiiw). Ada yang membuatnya hanya sekedar untuk memenuhi aturan, ada juga yang betul-betul dirancang dengan baik sehingga betul-betul bermanfaat untuk umum. Yang terakhir ini misalnya Paley Park, terletak di 53rd st antara Madison ave dan Fifth ave (fotonya ngambil dari website Project for Public Spaces). Saya pernah juga ke sana, tapi waktu itu lagi kosong, mungkin karena udah lewat waktu makan siang :P. Di sana ada dinding air terjun, dinding tanaman rambat, pohon-pohon rindang, dan meja kursi untuk makan atau sekedar santai. Dan taman seperti ini nggak cuma di sini, di beberapa tempat lain ada, tersembunyi di antara gedung-gedung super tinggi. Tapi seperti yang saya bilang, ada juga yang hanya sekedar mengikuti peraturan, tapinya menjadi ruang yang mati dan tidak terpakai, karena tidak dirancang dengan baik. Paling jadi tempat orang lewat, atau sekedar nongkrong merokok. Ada juga yang semi-publik, karena dipagari jadinya tidak mengundang. Wah...ceritanya jadi panjang yah? Maklum, dulu waktu kuliah Seminar, kelompok saya ngebahas tentang ruang publik, salah satunya di New York City. *apa kabar pak Tjuk ya?* Entah suatu kebetulan yang menyenangkan juga, selama di NYC, tempat tinggal saya nggak pernah jauh dari taman. Di Harlem, dekat ke Riverbank State Park. Di Astoria, deket dengan park kecil di pinggir East River. Di Inwood, deket dengan Inwood Hill Park, Isham Park. Sekarang, deket dengan Van Cortlandt Park dan Fort Independence Playground yang berada di pinggiran danau buatan Jerome Reservoir. Tapi tetep, park yang paling sering dikunjungi, biarpun jauh, adalah Bryant Park. Kalo mau tau lebih jauh tentang parks dan public space di NYC, bisa ke website NYC Dept of Parks and Recreation, atau ke website PPS yang tadi.
 Terinspirasi pertanyaan Tina di postingan Broadway, saya jadi pingin ngebahas tentang penamaan jalan di sini. Ada beberapa kekhasan dalam penamaan jalan di New York City. Di Manhattan, secara umum jalan-jalan yang memanjang dari selatan ke utara dinamakan Avenue, dan jalan-jalan yang melintanginya dinamakan Street. Tentang penamaannya, dengan batasnya di Houston Street, mulailah penamaan jalan (melintang) dengan menggunakan nomor 1st street dan seterusnya. Penomoran seperti ini berlaku sampai ke Bronx. Jadi total dari 1st street sampai ujungnya 263rd street di perbatasan Bronx-Yonkers. Sementara Avenue, dimulai dari sebelah timur ke barat (1 sampai 12, dan avenue2 yang namanya nggak berupa nomor). Ini di Manhattan aja lho ya. Yang bikin pusing, kadang-kadang suka nggak konsisten. Misalnya 6th Ave ada satu ruasnya yang dinamakan juga Avenue of The Americas. Atau, bisa pusing nyari-nyari 4th Avenue di sekitar Midtown, karena nggak ada di sana. Antara 3rd dan 5th Avenues, berturut-turut adalah Lexington Ave, Park Ave, dan Madison Ave. Lho? 4th Avenuenya di mana? Adanya di downtown sekitar Union Square (14th st), sebelum nyambung ke Park Avenue. Oya, streets di Manhattan juga terbagi antara West dan East. Patokannya, seperti yang udah saya bilang kemaren, adalah Fifth Avenue. Pokoknya penamaan jalan di Manhattan cukup gampang dimengerti...asaaaal...bukan downtown atau lower manhattan. Karena di sana penamaan jalannya nggak seperti yang disebut di atas. Sepertinya karena di sanalah awal mula perkembangan New York City, jadi susunan jalannya lebih tidak teratur (aduh apa istilah kerennya ya...lupa...dulu waktu kuliah mah sering disebut-sebut...:P). Di sana ada Avenue A, B, C, D, ada street-street yang memanjang (bukan melintang) dll. Jalan di daerah sini nggak bisa nebak-nebak...butuh peta! Nah, kalo di Queens, lain lagi khasnya. Kalo susunan jalan sih ga serapi Manhattan, jadi ngejelasinnya juga susah. Tapi ada penomoran avenue dari selatan ke utara, dan street dari barat ke timur. Yang unik adalah alamatnya. Misalnya masjid al Hikmah (masjid Indonesia) itu alamatnya 48-01 31st Avenue, Long Island City, NY 11103. Yang nggak kenal sistem penomoran di Queens mungkin bingung "Kok nomornya 48-01 pake setrip? Maksudnya empat ribu delapan ratus satu atau gimana?" It's tricky. Tapi kalo udah tau maksudnya, sebetulnya memudahkan cari alamat di Queens. 48-01 31st Avenue itu maksudnya : bangunannya menghadap ke 31st Avenue, 48 itu nomor street terdekat, 01 itu nomor bangunannya sendiri. Ini kebetulan bangunannya ada di sudut persimpangan 48th st dan 31st avenue. Contoh lain (buat latihan nebak..hehe) : 89-11 Merrick Boulevard, 33-05 Broadway, dll. Intinya, sebagian besar alamat di Queens itu disusun berdasarkan persimpangan. Jadi kalo bingung, carilah persimpangan antara nomor pertama dengan nama jalannya. Sistem ini nggak selalu berlaku juga sih (nggak konsisten ya) soalnya penamaan jalan dengan nomor tadi, nggak berlaku di semua daerah Queens. Bingung kan? Hahaha... Kalo Bronx, cara penamaan jalannya mirip Manhattan. Street dengan nomor, ada East dan West dll. Mungkin karena mengikuti sambungan jalan Broadway ya. Kalo di Brooklyn, hmmm...saya ga kenal daerah Brooklyn sih jadi ga gitu tau. Tapi yang jelas di sana avenue-avenuenya di susun pake abjad (terbatas dong ya, cuma 26). Kalo Staten Island sih biasa aja penamaan jalannya...pake nama. Enggak ada jalan nomor sekian-sekian. Kalo Bandung...naah...kalo jalannya nama-nama planet, adanya di Margahayu Raya... makanya di sana Men bukan hanya dari Mars dan Women bukan hanya dari Venus... heheh udah ah.
 tulisan spesial buat gita... Di NYC, ada 3 sistem library : New York Public Library (NYPL), Queens Library, dan Brooklyn Public Library (BPL), ketiganya independen dan tidak saling berhubungan. NYPL mencakup library di Manhattan, Bronx, dan Staten Island. Meskipun saya pernah tinggal di Queens, tapi berhubung dari dulu saya lebih sering maen ke Midtown daripada ke Jamaica (pusatnya QL), jadi saya lebih memilih jadi anggota NYPL dan karenanya lebih tau seluk beluk pinjam meminjam di NYPL. Jadi mulai paragraf berikutnya, cerita NYPL aja yah. NYPL dari segi koleksinya dibagi dua sistem : Research Libraries dan Branch Libraries. RL berisi koleksi langka dan/atau referensi untuk berbagai penelitian, hanya boleh dibaca di tempat. Ada 4 library yang termasuk sistem ini, yaitu Humanities and Social Sciences Library (ini fotonya, yang ada patung singa) di Fifth Avenue at 42nd st, NYPL of the Performing Arts di Lincoln Center, Schomburg Center for Research in Black Culture di Harlem, dan Science, Industry, and Business Library (SIBL) di Madison Ave at 34th st.  BL berisi koleksi umum yang bisa dipinjam (well...ada buku referensinya juga sih...tapi dari kategori yang lain dari koleksinya RL). Ada 5 central library dan sekian puluh (atau lebih dari seratus ya...ga ngitung sih) branch library. Yang central library yaitu : Mid-Manhattan Library di Fifth Ave at 40th st (nah, ini tempat yang paling sering saya tongkrongin. Fotonya yang sebelah kanan ya), Donnell Library Center (pusatnya buku anak) di 53rd st, NYPL of the Performing Arts (lagi), Andrew Heiskell Braille and Talking Book Library di 20th st, dan SIBL (lagi juga). Ada dua macam library card : kartu BL (namanya LEO) dan kartu RL (namanya ACCESS). Bikin kartu LEO sih gampang, selama dia tinggal dan/atau kerja di NYC dan punya bukti alamatnya, daftar jadi anggota gratis, mudah, dan cepat. Beberapa menit jadi. Bikin kartu RL lebih rumit, harus menyediakan photo ID, dan nanti diambil foto di tempat (kayak bikin sim ya?). Yang enak, karena katalognya sudah terkomputerisasi dan terinternetisasi, kita bisa cari buku lewat katalog di websitenya. Bisa request buku tertentu, dan minta dikirim ke library cabang yang terdekat. Malah untuk yang memang nggak bisa kemana-mana (homebound karena tua atau cacat), bisa diantar ke rumah (daftar dulu). Library materials (buku, dvd, video, cd, dll) yang dipinjam nggak ada batasan jumlah, dan dikasih waktu 3 minggu masing-masingnya. Setelah itu boleh diperbaharui sampai 3 kali, selama memang nggak ada yang request. Tapi ada juga yang cuma boleh pinjem seminggu dan nggak boleh diperbaharui, ini biasanya untuk buku-buku baru. Kalo telat ngembaliin, dendanya kalo buku 25 sen per hari, kalo lainnya...ga merhatiin :P. Library di sini tuh bener-bener rame dan banyak pengunjungnya. Minat baca orang sini memang tinggi. Terus selain untuk pinjam meminjam buku, library juga banyak program acara untuk umum, misalnya temu penulis, apresiasi buku, puisi, musik, seni, dll dsb. Keren lah. Betul-betul 'hidup'. Selama di NYC, tempat saya tinggal selalu dekat dengan library. Di Harlem, satu blok dari Hamilton Heights library. Di Astoria, kira-kira 3 blok dari Astoria branch. Di Inwood, 5 blok. Sekarang, 2 blok saja dari Van Cortlandt library. Kebetulan yang menyenangkan. Oya, saya pengen cerita tentang library universitas juga dikit nih. Entah berlaku untuk semua universitas atau tidak, tapi sistem library universitas di Amerika tersambung. Suami saya kalo pinjem buku yang ga ada di kampusnya, tinggal cari di katalog Inter Library Loan, request bukunya, dan tunggu. Tau-tau datang aja si buku dari librarynya UCLA, misalnya. Asik ya. Pokonya dalam hal library, I superlove New York dan Amerika....
Salah satu yang menurut saya sangat menarik dari New York(ers) adalah gaya berpakaian orang-orangnya. Oke lah, bukan cuma gaya berpakaiannya aja, tapi lebih tepatnya ke-pede-an berpakaian.
Di sini sangat mudah menemukan orang-orang yang cara berpakaiannya nggak biasa-biasa aja, dan terlihat sangat nyaman memakainya. Dalam artian, dia nggak peduli pendapat orang lain tentang gaya berpakaiannya itu. Ke-tidakbiasa-annya itu bisa modis, fashionable, tapi bisa juga kebalikannya. Saya pernah sampe susah nahan senyum satu waktu di subway, di depan saya ada cowok tinggi gede sangar, tapi pake kaos, topi dan tas serut kuning bergambar ....SpongeBob! Lucu! Hmmm...mungkin semacam statement yah...bahwa yang tinggi gede sangar juga boleh dengan pedenya berkostum SpongeBob.
Ada beberapa gaya berpakaian yang khas dari golongan tertentu. Cowok-cowok bergaya hip-hop (biasanya African-American dan Hispanics), kostumnya begini : kaos gombrang, celana jeans super gombrang dan melorot (betul-betul melorot, sakunya ada di lutut! Apa nggak susah jalan ya?), ikat kepala atau topi baseball yang dipakai miring, plus bling-bling kalung-kalung rantai panjang. Cewek-cewek Hispanics, banyak yang ngikutin gayanya JLo. Beberapa taun yang lalu waktu JLo sering tampil dengan velour sweatsuit, semua ngikutin. Di mana-mana bajunya pada sama. Warnanya kalo nggak pink, coklat. :D
Tapi kepedean orang sini berpakaian memang beneran deh. Sepertinya nggak takut pake model apapun, warna apapun. Bahkan yang sepertinya nggak cocok sekalipun. Yang bikin perutnya menggelambir kemana-mana, yang bikin kalo duduk celana dalemnya keliatan, yang celananya saking ketatnya sampai susah nekuk kaki di subway, dll dsb.
Tapi kalo yang memang modis dan pinter mix and match, biarpun tumpuk-tumpuk model dan motif, kok keliatannya tetep bagus gitu ya. Pokonya salah satu pengusir bosan saya di subway, ya merhatiin cara berpakaian orang-orang. Menarik!
 tulisan yang ini spesial buat mamacat dan Yussi... Saya betul-betul bersyukur tinggal di New York City yang muslimnya banyak dan penduduknya sangat beragam. Karena saya nggak susah cari masjid, yang jualan makanan halal, dan keragaman penduduknya membuat toleransi beragama warga New York relatif tinggi. Seperti yang ditulis mbak Dian di reply pertanyaan Yussi "Ada masjidnya gak?", di NYC buanyak masjid. Jangan ngebayangin masjid-masjid di Indonesia yang kubah-kubah seng-nya bermunculan di antara atap genteng. Masjid-masjid ala NYC, terutama yang di Manhattan, seringnya cuma berupa satu ruangan yang menjadi bagian dari sebuah bangunan dengan fungsi umum. Misalnya mesjid Ar-Rahman, tempatnya di basement restoran Pakistan. Atau mesjid apa ya namanya yang di 55th street, letaknya di lantai 2. Bawahnya? Restoran juga. Tapi kalau konsentrasi muslim di satu lingkungan itu cukup banyak dan kuat, mungkin masjidnya bisa lebih besar, atau lebih banyak. Di Harlem misalnya, bahkan ada satu jalan (kalo ga salah 116th street) di mana terdapat 2 masjid. Di Astoria yang banyak muslim Arab, ada beberapa masjid besar. Di Brooklyn juga ada satu daerah yang banyak banget muslimnya. Di Bronx ada juga.  Komunitas muslim yang mendirikan masjidnya juga beragam. Arab, Pakistan, Indonesia (mesjid Indonesia ada di Long Island City, Queens), African-American, Senegal, dll. Masing-masing jadinya unik dan bawa tradisi masing-masing juga. Saya pernah jumatan di masjid (lupa namanya) di Harlem, yang ternyata adalah masjid komunitas muslim Senegal. Khutbahnya diulang 3 kali dalam bahasa Arab, Perancis, dan Senegali. Kebayang nggak muka saya waktu itu? Blank. Udah mah lama, nggak ngerti pula bahasanya. :D Kalo Islamic Centre of New York-nya sendiri, ada di Upper East Side. Masjidnya buesar, halamannya luas, berapa lantai ya...mungkin 4. Kalo tentang restoran halal, mamacat, saya jarang ke restoran...hehehe...Tapi sebagian mungkin bisa diliat di daftar ini. Yang saya pernah paling ya Chandni, atau beli kebab/gyro di kakilima terus dibawa pulang atau dimakan di Bryant Park. :D. Pokonya di tempat-tempat yang banyak muslimnya, pasti gampang juga nemuin restoran halal atau penjual halal meat. Oya, ada juga counter fried chicken chain yang halal. Ada beberapa sih, tapi yang saya tau Crown Chicken, soalnya dulu waktu tinggal di Harlem sering banget beli di situ. Kalo supermarket besar yang menjual daging halal, saya cuma tau Trade Fair di Astoria, Queens (lagi-lagi Astoria, soalnya komunitas muslim Arabnya banyak di sana). ah segitu dulu deh...udah jam 2...huhuy... bobo dulu ah ..update... habis googling ternyata ketemu foto masjid Senegal di Harlem itu...namanya masjid Aqsa. foto yang atas, itu Islamic Center of New York, ternyata rancangan biro arsitek SOM (Skidmore, Owings and Merril) oya, jadi inget juga, kalo di belokan dari Fifth Ave menuju mesjid ArRahman & resto Chandni itu ada sebuah gereja besar (cuma kehalang 1 toko lho...akur kan New Yorkers..). Saya sering sedih lewat gereja itu, soalnya di pagarnya terikat ribuan pita kuning, biru dan hijau yang mewakili tentara-tentara Amerika yang mati di Irak. Di setiap pita disebutkan nama, pangkat, dan umur. Aduuhh...masih muda-muda....18 taun, 22 taun...hiks...
 Biasanya kalo denger kata "New York", asosiasinya langsung deh New York = New York City = Manhattan. Sampai-sampai ada seorang temen yang baru aja sampai di sini hampir aja milih tempat tes TOEFL di salah satu kota di New York state yang deket perbatasan Canada, bukannya deket-deket sini gitu lho. Kenapa gitu? Soalnya dia pikir yang namanya New York itu ya New York City ini lah. Jadi begitu ada tulisan New York langsung aja dipilih. Nggak salah sih sebetulnya, cuma kurang bener. Jadi buat yang belum tau, New York itu nama state, nickname-nya Empire State. Kalo New York yang maksudnya kota New York, yang ada Empire State Buildingnya itu, adalah New York City, atau katanya sih nama formalnya adalah The City of New York (...who cares layaw nyebut panjang-panjang :D). NYC ini terbagi jadi 5 boroughs (mungkin kira-kira wilayah kota gitu deh...) yaitu The Bronx (betul...pake 'the'), Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island. Nanti masing-masing borough dibagi lagi jadi neighborhoods.  Jadi kalo dibilang New York = Manhattan, nggak bener, tapi juga nggak salah. Soalnya untuk formal address, kalau ditulis "New York, NY" memang = Manhattan. Soalnya saya biarpun tinggalnya di NYC, tapi formal addressnya tertulis Bronx, NY. Begitulah. Kurang gaya, memang :D. Manhattan memang paling tenar, paling gaya. Padahal cuma pulau kecil. Eh, Bali juga cuma pulau kecil, tapi paling tenar juga dink. Kalo mau tau neighborhoods-nya Manhattan, nih ada petanya juga. Nah, jadi tau kan sekarang, Harlem tuh belah situnya Central Park. Yang namanya Upper East Side dan Upper West Side itu kanan kirinya Central Park. Inwood tempat saya tinggal dulu itu di ujung utara pulau Manhattan. Dan hotelnya Robert DeNiro nanti di Greenwich Village situ kali ya mbak Wanda? :P Kalo saya paling sering jalan-jalan di daerah Midtown. Masih tentang Manhattan, sekarang ngobrolin Broadway dan Fifth Avenue. Kenapa dua jalan itu? Karena lagi-lagi itu dua jalan di New York yang paling tenar. Apa yang melintas di pikiran kalo disebut Broadway, New York? Pasti panggung teater musikal. Padahal itu cuma sepersekian dari Broadway yang sebenarnya. Soalnya Broadway itu panjangnya...ampuuuun...panjang pisan! Berawal dari Battery Park di southern tip, teruuuuuuuuuuuuuuuuus ke utara, nyebrang ke Bronx, sampai ke batas kota NYC dengan Yonkers di Westchester county, yang kemudian ganti nama jalan jadi...South Broadway (halah...nggak kreatif pisan). Nomor alamatnya mulai dari 1 sampai 5000-an kalo ga salah. Broadway yang deket rumah saya nomernya memang 5000an. Jadi saya paling males kalo liat alamat di "Broadway" tanpa keterangan "between 34th and 35th street" misalnya. Soalnya pusing mengira-ngira posisinya ada di mana. Udah gitu di Queens juga ada Broadway lho. Memanjang dari Astoria sampai ke Elmhurst. Terus Fifth Avenue. Apa yang mau diomongin ya? Oya, yang bingung dengan alamat Manhattan yang ada East dan Westnya, patokannya adalah Fifth Avenue. Sebelah timurnya FA, itu East Side. Baratnya, ya West Side lah. Fifth Avenue, bagian shopping-shoppingnya sekitar 40th-59th street. Selain itu sih bukan tempat shopping yang signifikan. Kalo saya jelas ga pernah shopping di Fifth Avenue, eh pernah dink beli buku di Barnes & Noble, beli laptop di BestBuy, dan beli minum di Walgreens . Hahaha... Kalo mau cuci mata window shopping toko-tokonya designer sebangsa Yves St Laurent, Prada, Versace, D&G dan lain-lain yang enggak kebeli tea, itu mah di Madison Avenue, satu blok ke arah timur dari Fifth Avenue. cukup dulu...
Kemaren habis ngomongin subway, dilanjutin aja dengan ngomongin transportasi yah. Enaknya di kota besar itu ya, transportasi mudah, meskipun enggak murah tapi selalu meriah (banyak pengamen...hahaha...nggak dink). Transportasi umum di NYC yang dikelola oleh MTA adalah subway dan bis. Cara pembayaran tiketnya, kalo subway jelas harus punya MetroCard untuk digesek di pintu masuk stasiun. Bisa beli di stasiun lewat mesin atau sama penjaganya, bisa juga beli di warung (halah..warung) vendor-vendor yang menyediakannya (biasanya punya stiker di depan kios/tokonya "We Sell MetroCard"). Sekali naek jauh dekat $2. Selama ga keluar stasiun, gonta-ganti line subway nggak perlu bayar ulang. Jadi dari Bronx mau ke Elmhurst atau Far Rockaway juga bayarnya tetep cuma $2. Transfer dari subway ke bis atau bis ke subway gratis selama masih dalam selang waktu 2 jam. Kalo naik bis, selain pake MetroCard, bisa juga pake koin receh. Maaph, ga terima uang kertas (kenapa ya...heran deh). Yang enak kalo mesin pengecek tiket di bisnya lagi rusak, naik bis ga usah bayar...hehehe.. Bisnya MTA ini bener-bener merambah ke mana-mana lho. Peta transportasi NYC yang mutlak dipunyai itu peta subway. Kedua, peta bis di borough mana kita punya keperluan : Manhattan, Bronx, Brooklyn, Queens, atau Staten Island. Oya, bisnya ada bis biasa ada juga yang ekspres, bayarnya berapa ya yang ekspres, blom pernah naek. Kalo ga salah $4. Oh iya, buat environmentalist, bisa pilih bis electric-hybrid.  Tuh kan, nggak tau kan kalo di Manhattan banyak becak? Di sini namanya pedicab atau rickshaw, pengemudinya di depan. Tapi becaknya nggak sembarang becak sih, apalagi tukang becaknya. Becak-becak keren, tukang becaknya juga banyak yang keren. Garing dan renyah, krauk krauk! Muda-muda, rata-rata laki-laki tapi ada juga yang perempuan. Becaknya Manhattan bukan buat "Mang, ka terminal! 5000 nya?". Bukan. Becak sini khusus buat tour. Tukang becaknya juga merangkap tour guide. Tempat-tempat di mana becak sering terlihat yaitu sekitar Central Park, Times Square, dan Fifth Avenue. Foto pangkalan becak (dan delman) Central Park bisa diliat di album saya yang ini. Kalo tarif becak saya ga tau, blom pernah nyoba atau tanya-tanya. Kalo delman-nya Central Park maksimal $36 untuk 4 orang kalo ga salah inget. Sekarang ngomongin kakilima alias street vendors. Dibagi empat kategori deh : kios majalah, jualan makanan, jualan produk selain makanan, dan jualan jasa. Kios majalah mah udah jelas kan yah, ga usah dibahas. Penjual makanan yang banyak ditemui di Manhattan adalah penjual hotdog, pretzel, kacang goreng, kebab-gyro-falafel. Terus juga mobil eskrim, mobil bakery (biasanya pagi-pagi, orang cari breakfast). Kalo summer suka ada jualan buah potong dan es serut dengan sirop warna-warni ---> yang jual biasanya orang Latino. Jualan produk selain makanan, yah macem-macem. Yang sering keliatan, jualan pashmina $5, 'designer bags' (masa produk desainer dijualnya di kakilima coba...boong banget kan?), kacamata, parfum, handmade jewelry, aksesoris, dll. Jualan jasa, biasanya menjual jasa melukis potret atau karikatur. Banyak banget di sekitar Central Park, bagus-bagus lagi. Ada yang item putih, ada yang warna. Kalo ga salah bayarnya $15 deh. Ada juga bikin tulisan nama yang dihias-hias/stilasi. Yang ini di sekitar Times Square atau sepanjang 42nd street juga banyak. hmmm...segitu yang keinget... besok lagi ngomongin apa ya...
Kenapa yah kalo di tivi keliatannya New York City itu bagus....aslinya mah...biasa... bahkan untuk ukuran kota megapolitan yang jadi tujuan turis dari seluruh dunia, banyak yang nggak representatif.
Di mana-mana ada proyek bangunan dan renovasi, bahkan sepanjang Fifth Avenue. Trotoar tertutup scaffolding. Ribut bunyi alat-alat bangunan. Belum lagi kerjaan galian kabel di mana-mana, bikin macet lalu lintas Manhattan yang udah mah memang sering macet juga, banyak jalan satu arah lagi. Pokonya jangan bawa mobil lah ke Manhattan. Parkirnya susah dan mahal. Naik subway aja...kalo berani...hahaha...*inget mbak Vanda jadinya, yang ngeri naik subway di NYC*
Ngomong-ngomong subway, stasiun-stasiun lokal subway di sini rata-rata kotor. Deh. Jangan dibandingin sama MRT Singapore yah. Seperti bumi dan langit. Banyak homeless yang suka memanfaatkan subway cars sebagai tempat tidur. Udah gitu banyak juga pengamen dan pengemis di subway car. Ngamennya macem-macem, ada yang nyanyi (suaranya banyak yang bagus), main gitar, main akordeon, sampai breakdance (yaktul, breakdance di subway yang lagi jalan). Kalo yang ngamen di stasiun sih lebih banyak lagi dan lebih canggih. Cari musik enak gratisan, di Times Square banyak. Ada klasik, jazz, new age, blues... Kalo yang suka grup musik ocarina, biasanya mangkal di deket subway no 7. Atau di Penn Station deket antrian LIRR (Long Island Rail Road). Ngemisnya juga macem-macem. Rata-rata sih koar-koar "Ladies and gentleman, I'm homeless, I haven't eaten for days, please if you have some change, some food, it will help me..". Di dinding subway biasanya ada tulisan dari MTA yang isinya jangan ngasih uang sama pengemis.
...segitu dulu ah...bagian satu... kapan-kapan disambung....udah malem soalnya...
ada request pengen diceritain NYC bagian mana?
  | Chandni | Mar 20, '08 12:48 AM for everyone |
| Category: | Restaurants | | Cuisine: | Middle Eastern | | Location: | 11 W 29th St, New York, NY 10001 |
Restoran Pakistan ini nggak istimewa sih. Penampilannya seperti kantin dengan susunan meja-kursi berdesak-desakan dan antrian pengunjung yang minta dilayani di counter makanan. Suguhannya biasa aja juga, makanan khas India-Pakistan-Bangladesh. Disuguhin di atas piring kertas, gelas plastik dengan teko air dingin yang ngambil sendiri dari kulkas. Entertainment, tivi kecil berisi film-film India/Pakistan, atau kalo lagi ada turnamen, pertandingan cricket.
Yang bikin dia laku, rame dan banyak pengunjung adalah karena sebelahan sama mesjid Ar-Rahman. Kalo habis jam sholat pasti rame. Tadinya malah orang-orang yang mau sholat suka nebeng wudhu di wc-nya Chandni. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu wc-nya dikunci, cuma buat pengunjung restoran. Kalo mau ke wc harus minta ke penjaga counter buat dibukain.
Saya kalo ke sini selalu pesen kari kambing. Males aja yang lain-lain.
Pokonya kalo lagi di midtown Manhattan sekitar Macy's dan nyari mesjid plus restoran halal, ke sini paling deket.
..hari ini gubernur New York state Elliot Spitzer resign. Dalam waktu dua hari setelah diberitakan terkait dengan jaringan pelacuran --> sesuatu yang jadi obyek pembasmian semasa dia jadi Attorney General...
kasian istrinya sama anak2nya ya..
Siang tadi saya diajak mbak Dian ke MoMA, Museum of Modern Art. Ga nolak dong nemenin turis West Haven jalan-jalan, apalagi saya juga lagi butuh refreshing keluar rumah. Lagian seumur-umur di New York belom pernah jalan-jalan ke museum. Bloon? Maybe. Tapi saya ga ambil pusing dianggap menyia-nyiakan kesempatan menjelajahi tempat-tempat yang hanya ada di New York. So what...life's more than that. Ga merasa rugi ah. Eniwei, dari 6 lantai yang tersedia, kita cuma menjelajahi lantai 1, 2, 3, dan 5. Lantai 1, lobby, sculpture garden, museum store dan restoran. Kita cuma lewat aja. Lantai 2, seni kontemporer, prints and illustrated books, media, cafe. Sempet keliling. Lantai 3, arsitektur, desain, drawings, fotografi. Keliling juga. Lantai 5, lukisan dan patung. Keliling juga deh. Terus terang saya cuma bisa menikmati saat keliling lantai 3. Di lantai 2, saya tidak tau bagaimana harus menikmati karya seni kontemporer dan media yang dipajang. Bagaimana saya harus menikmati kanvas besar segi lima berwarna oker dengan sebuah lingkaran abu-abu di dalamnya. Atau instalasi berupa kertas-kertas karton yang tergeletak. Atau sebuah kotak yang menurut saya sih seperti kandang ayam. Atau film tiga menit tentang dua orang bergulat. Seni ala seniman-seniman ini bukan jenis seni yang bisa saya mengerti. Di lantai 5, lukisan-lukisan Pablo Picasso, Henri Matisse, Piet Mondrian, Van Gogh, Monet, Cezanne, Seurat, dan lain-lain lupa lagi nama-namanya. Tetep....nggak menikmati. Beberapa lukisan Van Gogh, Monet, Cezanne dan Seurat agak-agak kena di hati, tapi yang lain....nggak tuh. "Nggak nyeni luh! Mereka kan pelukis-pelukis besar". Terserah mau dianggap nggak nyeni juga. Kalo ga selera ya ga nikmat mau makan baso Akung juga. Masa hanya karena nama besar lalu semua harus suka.  Cuma di lantai 3 hati ini agak-agak berdesir. Maklum mantan mahasiswa arsitektur. Rasanya gimanaaaa gitu bisa ngeliat langsung coretan tangan arsitek-arsitek besar yang dulu cuma tau dari buku dan kuliah Arsitektur Modern-nya pak Eko. Sketsa-sketsa Le Corbusier, Mies van der Rohe, Louis Kahn, Buckminster Fuller, gambar-gambar perspektif Frank Lloyd Wright, maket asli Villa Savoye dll. Di galeri desain juga saya sangat menikmati kursi-kursi keren yang dipajang di sana. Foto-fotonya tunggu dari mbak Dian aja ya...batere kamera saya abis. Dan saya cape ngegendong Aliefya yang nggak mau disuruh jalan. Haha. Eniwei, menurut saya menikmati seni jangan disamaratakan karena sangat subyektif, tergantung selera, latar belakang pengetahuan dan pemahaman masing-masing tentang objek yang akan dinikmati. Saya, lebih bisa menikmati gereja-gereja gotik dibanding Villa Savoye. Lebih suka bangunan-bangunannya Gaudi daripada Salk Institute-nya Louis Kahn. Saya, biasanya tidak bisa menikmati puisi, kecuali sangat sedikit diantaranya. Saya tidak suka rumah yang bagian depannya terlalu simetris, sangat berbeda dengan suami yang sebagai orang matematika sangat menjunjung simetri sebagai syarat keindahan. Bagaimanapun, begitulah cara saya menikmati seni. Uniquely my way. laporan lengkap di http://pecintamuseum.multiply.com/photos/album/3/Melongok_Hasil_Karya_Seni_Modern_di_MOMA_I#foto-foto oleh Dian Yustisiana
| |