
Baca
postingan harley (sebelumnya juga mbak mia, teh uci) tentang perjalanan berhijab, tertarik nulis juga.
Saya dibesarkan di keluarga yang Islamnya biasa-biasa aja. Selain yang wajib-wajib seperti sholat (belang bentong pula) dan puasa dan belajar baca Quran, lainnya nggak begitu diperhatikan. Memang dulu sekolahnya juga di sekolah Katolik, yang menurut ortu saya punya nilai plus dari segi kedisiplinan, fasilitas sekolah dan kualitas pengajar pada waktu itu. Jadi nggak aneh kalo waktu SMA saya sama sekali nggak tertarik ikutan DKM, bahkan kadang-kadang saya pikir yang pada pake jilbab itu ekstrimis, serius, tertutup, anti sosial, terbelenggu, nggak cool (gitulah pemikiran orang tidak berpengetahuan...seperti saya waktu itu). Di angkatan saya semasa SMA, satu-satunya cewek berjilbab yang menurut saya (mengacu ciri di atas) anomali, adalah Devi yang ngocol dan tukang heureuy. Memang tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka....kenalanlah!
Saya baru agak tertarik belajar Islam lebih sungguh-sungguh setelah kuliah, karena sahabat, teman-teman kuliahnya banyak yang aktif di mesjid, kadang suka diskusi santai tapi kritis soal agama, juga karena program mentoring dari Salman.
Kalo ketertarikan berhijabnya sendiri, mungkin sejak sobat saya Ana dan kemudian Dyo berkerudung taun berapa ya...Ana 94, Dyo 94 juga apa 95 gitu. Saya jadi terpengaruh, tapi juga nggak ingin kalo akhirnya saya 'pake', sekedar karena ikut-ikutan. Musti jelas alasannya, musti yakin. Saat itu saya mikirnya masih : belom pantes, belom lancar baca Quran, pengetahuan Islam masih minim, dll.
Eniwei enihaw, suatu hari minggu Februari 96, saya bertiga Ana dan Dyo jalan-jalan ke BIP. Sempet ketemu beberapa temen kuliah yg juga lagi JJS. Pulangnya saya maen ke rumah Ana, terus iseng coba-coba kerudungnya. Seneng kali si Ana, saya coba-coba kerudungnya, dikasihlah 2 biji. Saya pulang ke rumah, matut-matut lagi di depan cermin. Semaleman mikir, "Pake ga ya, pake ga ya. Kenapa pake, kenapa enggak?" Pada akhirnya yang menang ternyata "Kenapa enggak".
Besoknya adalah hari pertama kuliah setelah libur lebaran. Saya berangkat dari rumah udah berkerudung, warna krem, baju sweater ijo pupus bermotif, celana slack warna khaki. Ibu saya cuma pesen "Pakenya jangan sekedar ikut-ikutan ya". OK.
Di kampus, di kelas tepatnya, pada heboh. Soalnya saya dikenal 'preman', makhluk malam penunggu studio, dengan penampilan tomboy abis, dengan jeans bolong dan kadang sepatu bolong atau cukup nyendal ke kampus. Ada dua reaksi temen yang saya inget : Dupi langsung terbahak-bahak liat saya pake kerudung, dan komentar Maya "Kok bisa kamu duluan yang pake?". Temen-temen saya emang lucu...
Eniwei enihaw lagi, pertengahan 96 karena sesuatu hal saya mengalami mental breakdown, serasa kehilangan pegangan. Pada saat itulah saya membaca iklan Pesantren Liburan Mahasiswa-nya Unpad. Wah, sepertinya ini nih solusinya. Ikutan deh. Dan betul, ini ternyata jawabannya. Pengetahuan Islam saya yang nol besar tiba-tiba bertambah menuju ke arah satu. Dalam waktu dua minggu aja luar biasa banyaknya yang saya dapet. Agak-agak shock therapy juga sebetulnya, tapi betul-betul ngefek. Dan efeknya sangat terasa, dan terlihat.
Lepas dari PLM, hijab saya berubah. Dari sekedar baju panjang dan kerudung standar, berganti dengan jubah dan kerudung panjang. Why? Karena dalam pikiran saya, hijab seperti inilah yang disuruh untuk dipakai dalam Quran. Karena jilbab adalah baju terusan panjang (jubah/gamis) yang menutup dari leher hingga mata kaki. Sementara kerudung itu 'hanya sekedar' khimar, bukan jilbab. Padahal yang disuruh kan berjilbab. Begitulah logika pemikiran saya saat itu.
Gaya berhijab saya bertahan seiring keaktifan di mesjid Unpad (meskipun bukan anak Unpad). Tapi lama-lama banyak yang membuat nggak sreg, juga karena kesibukan di kampus, gayanya bergeser...bergeser...yang lebih pendek, lebih praktis, balik lagi ke gaya semula. Ada yang beranggapan saya buka jilbab. Ya mungkin betul juga, saya nggak berjilbab lagi, tapi apakah saya jadi nggak berhijab? Belum tentu.
Hijab adalah salah satu topik yang menarik buat saya, jadi saya banyak baca dan tanya tentang itu. Tafsir dan pendapat begitu beragam, kata buku ini begini, kata buku itu begitu. Sampai saya pusing dan sempat nanya sama pak Aam Amirudin di acara Percikan Iman "Pak, yang bener yang mana sih?" begitu kira-kira pertanyaan saya. Pak Aam bilang, masing-masing punya nilai kebenarannya, punya landasannya, jadi keputusan kembali ke tangan Anda. Saya waktu itu nggak puas, karena saya pikir jawabannya harus satu. Padahal enggak. Saya nggak berhenti nyari, baca, dan tanya tentang ini.
Setelah membaca banyak referensi, Quran itu menyuruh berhijab tapi tidak pernah menyebut batas aurat, dan hadis yang sering dipake untuk menentukan batas aurat (hadis dari Aisyah yang mengisyaratkan harus menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan) ternyata dinyatakan dha'if oleh perawinya sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk diri saya sendiri, bahwa dalam hal berhijab, saya setuju sama tulisannya pak Quraish Shihab di buku Wawasan al Quran, bahwa berjilbab itu baik sebagai usaha menutup aurat sebaik-baiknya, tapi kita juga tidak bisa mengatakan kalo wanita yang tidak berjilbab itu telah secara pasti melanggar ajaran agama Islam, soalnya ya itu tadi, Quran tidak pernah menyebutkan batas aurat secara jelas.
(yang mau mendebat soal ini, langsung ke pak Quraish aja ya...)
Sekarang, gaya berhijab saya ya begini, sekedar baju yang sopan tertutup, tidak mempertontonkan yang enggak-enggak, plus kerudung yang tujuan utamanya adalah supaya saya dikenal sebagai muslim. Itu sajalah.
Karena luar tidak selalu mencerminkan dalam.
Apa artinya sehari-hari berjilbab/kerudung tapi masih membentak orang tua, atau memukul anak, atau korupsi, dan atau-atau yang lainnya.
Bisakah kita bilang yang tidak berjilbab/kerudung itu masih kurang iman atau tidak diberi petunjuk? Menurut saya nggak bisa.
Karena ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...
Ngomong-ngomong luar tidak mencerminkan dalam, saya jadi ingin cerita tentang seseorang. Sebut saja si M (kenapa M? karena saya suka huruf M). Dari luar dia tidak tampak seperti 'orang alim'. Penampilan biasa aja, jeans, kemeja. Ke mesjid nggak sering, pengajian jarang ikut. Bicara agama, lebih sering mendengarkan, apalagi kalau sama orang yang nggak deket banget. Gara-gara itu pula jadi cenderung disepelekan, dianggap orang nggak tahu tentang Islam.
Padahal kalau saja orang lain tau, wah pemahamannya tentang Islam daleeeeemmmm. Dan cintanya sama Allah itu...ya ampun...cinta mati. Betul-betul cinta mati.
Suatu saat saya pernah dapat ilham, mendapat gambaran rasa rindu si M kepada Allah. Ya ampun, gambaran rasa rindu itu bikin dada saya sakit, sesak, air mata saya keluar. Sebegitu rindunya dia setiap saat sama Allah.
Kita sudah selevel itu belom? Saya jelas belom.
menutup tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan rambling saya 4 tahun yang lalu "...
Banyak kejadian, orang-orang yang berbeda pendapat itu, bukannya sharing pendapat dan kemudian saling menghargai pendapat tersebut, tapi malah "saya benar kamu salah" tanpa argumen jelas dan berujung memberi gelar2 buruk. Munafik lah, fasik, kafir, dll. Hmmm...yang paling benar kan cuma Allah. Dalam ilmu tafsir aja ada kriteria bahwa si penafsir [mufassir] tidak boleh menganggap tafsirnya itu yang paling benar. Apalagi yang cuma ikut katanya mufassir.."
....saling menghargai itu lebih enak...
dan lagi-lagi, ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...