dydy's posts with tag: film
Istirahat dulu ah ngomongin NYC...bosen.. Hari ini tumben saya iseng nonton Bizarre Foods-nya Andrew Zimmern di Travel Channel. Kali ini episode makan yang aneh-aneh di Vietnam sekitar Hanoi. Saya nggak akan ngebahas makanannya, tapi 'soundtrack' di salah satu bagian acara. Sambil nonton gitu tiba-tiba saya merhatiin musik backgroundnya, dan bingung, "Lho, ini katanya di Vietnam kan? Kenapa musiknya Cianjuran?" Penasaran, saya cari di YouTube episode ini, ketemu. Dan saya juga nyari video-video musik tradisional Vietnam, nggak ada yang bunyinya ala kacapi suling Cianjuran. Memang pake kecapi juga, tapi rata-rata seperti musik tradisional Cina. Atau ada tapi saya ga tau? Mbak Syl di Hanoi, ada nggak sih yang seperti Cianjuran? Tapi saya yakin ini kacapi suling Cianjuran. What do you think? Gara-gara ini saya jadi inget beberapa film yang memasukkan unsur Indonesia, tapinya nggak akurat. Misalnya beberapa taun yang lalu ada film seri action judulnya "Threat Matrix", salah satu yang maennya itu James Denton yang di Desperate Housewives. Episode yang saya tonton waktu itu ceritanya tentang teroris di Indonesia. Nyebut-nyebut Abu Bakar Ba'asyir segala gitu deh. Terus ada cerita di 'Jakarta' dan 'penjara Cipinang'. Yang lucu (atau sebetulnya nggak lucu), karena 'Jakarta' digambarkan seperti semacam Chinatown yang kumuh, orang-orangnya lebih mirip orang-orang di film-film perang Vietnam, terus di 'penjara Cipinang' itu, penjaganya pake seragam militer dan yang paling parah, bahasanya di film itu pake bahasa planet yang jelas-jelas bukan bahasa Indonesia. Kesel nggak sih? Payah. Coba gitu yah kalo bikin film itu yang niat. Riset dulu kek. Udah jaman internet kayak gini masih juga nggak usaha. Kalo film yang lain lagi, yang nggak akurat juga, film jadul "Road to Bali", filmnya Bob Hope. Taun berapa ya, 50an? Tapi ini mah rada maklum lah. Jadul banget sih. Di sini Bali digambarinnya seperti Thailand. Makanya saya seringkali nggak peduli dengan latar belakang pembuatan suatu film, yang bikin anu dan anu jadi nggak akurat. That's not an excuse.
 | MacGyver | Mar 17, '08 9:09 PM for everyone |
theme song. for you KPA3ers. Import.flv (2.9 MB)
 | Michael | Mar 17, '08 4:34 PM for everyone |
 | Michael | Mar 17, '08 4:30 PM for everyone |
brad turner aka condor bruce sato aka rhino Import.flv (4.8 MB)
another one Import.flv (5.7 MB)
soundtrack dorama Under the Same Roof enakeunnnn! Import.flv (4.1 MB)
hayoh yang mau karaokean... dengerin lagunya aja ah...penyanyinya tidak seperti yang dibayangkan sih...:D Import.flv (9.5 MB)
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
...saya kesampingkan kekecewaan terhadap musiknya...karena terus terang hal itu yang paling mengganggu saya dan membuat saya bahkan serasa bermurah hati memberi bintang satu. *saya masih penasaran, film versi bioskopnya musiknya seperti apa?*
Dari segi isi dan alur cerita, menurut saya seperti drama percintaan yang sering diangkat sinetron dan telenovela. Cowok keren yang dikelilingi cewek-cewek cantik yang semua jatuh cinta sama dia. Ketika si cowok memilih salah satu, yang lain patah hati. Lalu ada yang sakit keras, ada yang ditabrak, ada yang fitnah, ada yang dipenjara, ada yang mati. Bertaburan adegan dramatis penuh air mata. *Jadi inget Esmeralda*. Bintang satu aja deh.
Dari segi pemainnya, saya kadang bingung mengikuti cerita karena tidak tau mana yang "orang Mesir" dan mana yang "orang Indonesia", habisnya semua berwajah Indonesia, kecuali Maria. Saya pikir tadinya si yang diperkosa itu orang Indonesia yang kerja di Mesir. Tadinya saya pikir si Aisha ini orang Indonesia juga (apalagi yang jadi pamannya Surya Saputra...wajah Indonesia banget). Soal akting dan penghayatan, rasanya masih kelas sinetron juga. Kecuali pemain-pemain senior yang punya pengalaman teater seperti Rudy Wowor, yang istilahnya bisa 'bicara' hanya dengan sedikit tarikan ekspresi wajah, yang lainnya biasa aja. Saya nggak liat 'cinta' di mata Fahri saat memandang istri-istrinya. Dan akting orang-orang yang protes di pengadilan itu sandiwara banget. Saya kasih bintang dua aja deh. Ngomong-ngomong yang jadi Fahri itu kok tipe-tipenya mirip Onky Alexander ya....si Boy banget deh ah..
Tentang nilai Islam yang dibawa film ini. Saya suka karena film ini menunjukkan bedanya muslim dan Islam dan ingin meluruskan pandangan-pandangan luar Islam yang salah menilai keduanya.
Muslim atau orang Islam itu manusia, perilakunya manusiawi, dipengaruhi banyak nilai-nilai yang berbeda : kepercayaan/agama, tradisi, sosial, dsb. Muslim ada yang picik, yang bermuka asam kepada "kafir Amerika", menggeneralisir bahwa semua orang Amerika (atau yang dikira orang Amerika) setuju dengan langkah politik pemerintahnya, sehingga tidak pantas ditolong. Ajaran Islam tidak begitu. Islam mengajarkan "Janganlah bermuka asam" di surat Abasa. Islam mengajarkan jika ada yang kesusahan dan membutuhkan bantuan, harus ditolong, tidak perduli siapa orangnya. Islam mengajarkan untuk berlaku adil, tidak pantas menghukum seseorang atas kesalahan yang dilakukan orang lain.
Ngomong-ngomong tentang Amerika, kalau saja pemikiran "kafir Amerika" itu bisa dilepaskan, mungkin orang bisa melihat bahwa banyak nilai Islami yang lebih menerap di Amerika daripada di Indonesia. Ketaatan pada hukum (taat mengantri, taat mengikuti protokol pembuatan KTP dan SIM, taat di jalan raya, dll dsb), keadilan bahwa setiap orang punya hak diperlakukan sama, komitmen membasmi korupsi, kepedulian terhadap ilmu, soal menyantuni orang miskin juga Americans are very generous, dan masih banyak lagi. Seandainya mereka tau.
Yang saya kurang sreg, kenapa perempuan-perempuan di film ini di rumahnya pakai jilbab terus padahal nggak ada non-mahram. Tidak realistis. Kalau seperti diberitakan bahwa penulisnya tidak setuju ada adegan pegangan tangan, atau Aisha buka jilbab, dll, saya jadi mikir apakah penulisnya setuju bahwa dalam pembuatan film ini ada adegan berdua-duaan pemain yang bukan mahram, atau bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan syuting, perempuan-perempuan yang 'tidak menutup aurat', dll dsb. Kalau mau realistis, ya sesuaikanlah dengan kehidupan nyata. Kalau mau idealis, mungkin film ini nggak bisa dibuat.
Segitu cukup deh kayaknya. Saya nggak mau berpanjang-panjang ngomongin perbedaan tafsir tentang bersentuhan tangan, tentang aurat, dll. Bukan di sini tempatnya.
Akhir kata, untuk niat dan misi dakwah yang dibawa film ini, saya kasih bintang lima juga nggak cukup. Seribu bintang juga nggak cukup. Apalah artinya bintang dari saya dengan balasan dari Allah karena telah mendakwahkan Islam?
...tapi musiknya itu...kalau ternyata betul membajak lagu orang...ah nggak tau deh...
nb : saya dapat forwardan email cuplikan novelnya. Dari secuplik itu saya yakin bakal lebih suka bukunya daripada filmnya.
| |