Habis baca tulisannya nenengceriwis tentang kontes putri-putrian yang 'mewakili Indonesia' tapinya nggak ada yang menguasai kesenian daerah, dan harus punya tinggi minimal sekian dan sekian. Habis itu baca tulisannya umminida tentang temennya, seorang ibu yang sudah meraih doktor di usia 30 dan baru saja mendapat beasiswa penelitian.
Saya jadi inget satu kontes putri-putrian yang bener-bener beda banget dengan kontes-kontes putri-putrian jaman sekarang yang menurut saya lebih seperti kontes kecantikan, yaitu kontes Puteri Remaja yang diadain majalah Gadis sekitar awal 80-an.
Saya nggak hafal mulainya dari tahun berapa, tapi sepertinya PR terakhir itu tahun 85 atau 86, soalnya tahun 87 mulailah tradisi Gadis Sampul yang berlanjut sampai sekarang. Taun segitu memang saya masih SD, tapi sampai kuliah pun saya masih suka buka-buka bundelan majalah Gadis jadul yang ada di perpustakaan rumah, soalnya isinya bagus.
Yang saya ingat dari kontes Puteri Remaja adalah, nggak ada syarat tinggi minimal, dan yakin seyakin-yakinnya bukan kontes kecantikan. Kenapa? Soalnya saya inget ada kontestan yang kecil mungil, ada yang kacamatanya setebel pantat botol, dan banyak yang saya yakin nggak akan menang kontes kecantikan. Bukan menghina lho, yang baca pasti ngerti lah maksud saya.
Tapi yang bikin kagum dari para kontestan adalah prestasi dan kemampuannya. Yang menang lomba karya ilmiah remaja bidang sains, yang aktif di organisasi, yang jago tari, teater, musik, dll. Jadi bukan tipe-tipe yang baru belajar sasando setelah menang kontes, atau yang baru punya kepedulian sosial setelah dinobatkan jadi putri, tapi yang sudah aktif dan punya keahlian dari awalnya.
Karantina-nya Puteri Remaja bukan berkunjung ke pabrik kosmetik, belajar koreografi untuk malam penobatan, belajar dandan, sesi pemotretan dll. Isinya sesi diskusi, belajar berorganisasi, malam ajang bakat, semacam itu lah.
Salah satu finalis Putri Remaja yang mungkin temen-temen kenal namanya adalah Tika Bisono. Tapi dari semua finalis dan pemenang yang pernah saya baca, satu yang paling saya inget adalah pemenang Puteri Remaja taun 85 : Ravenska Radjawane dari Ambon. Dia yang prestasinya juara lomba karya ilmiah remaja itu, meneliti cacing laut (gila juga nih saya masih inget kayak ginian).
Gara-gara baca postingan si nenengceriwis dan umminida, saya jadi penasaran dan browsing namanya. Ternyata...yang bersangkutan sudah bergelar Doktor dan sekarang jadi peneliti di Canada. Memang pantes jadi juara. Ini baru namanya puteri.
*berita ttg Ravenska Radjawane dan foto saya ambil dari
http://abgnet.blogspot.com/2008/01/tahukah-anda.html*