 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Michele Rose Orne |
Dua hari yang lalu saya jalan-jalan ke Barnes and Noble, liat-liat buku-buku merajut yang baru, dan menemukan buku ini. Huhu..langsung jatuh cinta, meskipun nggak sampe beli bukunya. Buku ini menurut saya salah satu yang perlu dibaca untuk yang berniat jadi desainer knitwear. Meskipun pembahasan how-to nya nggak seekstensif buku Designing Knitwear-nya Deborah Newton, tapi buku ini menunjukkan proses desain dari mulai pencarian inspirasi dan penerapannya ke dalam rajutan. Buku ini secara umum berisi desain dan pola dari Michele Rose Orne (one talented knitwear designer, I must say), plus workshop perancangan : mencari inspirasi, menerapkannya dalam desain, dan teknis perancangan (membuat pola, fitting etc). Desain-desain di buku ini terbagi ke dalam 4 inspirasi yang didasarkan pada musim: fall, winter, spring, summer.     Buku ini terbitan Interweave Press...jaminan mutu lah buat urusan buku-buku knitting. Harganya $24.95. Kalo mau ngintip isinya ada di websitenya Interweave Press http://www.interweave.com/knit/books/Inspired_to_Knit/default.asp  | Category: | Books | | Genre: | Business & Investing | | Author: | Dorothy Finell |
Saya pesen buku ini ke library udah lama banget, berbulan-bulan yang lalu waktu lagi seneng mimpiin kafe merajut. Sebelum terganggu ke-geek-an dan ke-nerd-an. Waktu itu bukunya belum ada di library, masih dalam proses pemesanan. Banyak yang ngantri mau pinjem pula. Saya pribadi pinjem buku ini karena salah satuyg dibahasnya adalah knitting shop di LA. Eh akhirnya dapet juga sekitar seminggu yang lalu. Sayang kedatangan bukunya nggak pas sama moodnya, jadi bacanya juga ga gitu semangat. Isinya, jelas dong ngebahas specialty shops, retail businesses yang topikal dan tematik, yang tidak hanya jualannya yang unik, tapi juga suasananya yang bikin betah. Berikut ini pembagian babnya: 1. Planning Your Business 2. Ambience, Decor, and Display 3. Location, Location, Location 4. Creating Mini Boutiques 5. Finances 6. Customer Service and Hiring and Training Personnel 7. Marketing, Advertising, and Promoting 8. Bringing the Community Inside 9. Your Grand Opening Sebetulnya siiih, lumayan bukunya. Tapi masalahnya adalah, kebanyakan toko yang dibahas lokasinya ada di daerah tujuan wisata (secara demografis kurang mewakili). Tapi menarik baca berbagai macam toko yang dibahas di sini. Ada knitting shop, toko teh (yup...teas and accessories), toko permen, arts and crafts, buku bekas, buku alternatif, gift shops, cafe&bakery, etc. Harusnya baca buku ini bareng sama bukunya Martha Stewart. Biar makin semangat.   | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Jay Walljasper |
Di saat kita sudah putus asa dengan kebijakan pemerintah kota yang seolah-olah lupa untuk menomorsatukan penduduknya dalam kaitannya dengan penyediaan ruang publik yang baik dan bermanfaat, membaca buku ini rasanya ada semangat baru, suntikan motivasi, bahwa : "Kalau pemerintah nggak peduli, yuk kita kerjain sendiri aja! Nih petunjuk praktisnya, kalo memang mau bisa kok"
Buku ini disusun oleh Jay Walljasper, Senior Fellow di Project for Public Spaces, sebuah organisasi nonprofit internasional yang bekerja "menghidupkan kembali" ruang-ruang publik yang "mati" dengan pendekatan community-based.
Dalamnya berisi petunjuk "how-to" yang diilhami dari kumpulan contoh lingkungan-lingkungan yang 'sukses', yang suasananya hidup, bersahabat, dan mengundang orang untuk berinteraksi dan bersosialisasi.
Mudah? Tentu tidak. Butuh visi, kemauan, leadership, dan partisipasi masyarakat untuk bisa terwujud. Bahkan sebuah bangku di sudut jalan lingkungan bisa mengubah suasana lingkungan tersebut dan memicu lebih lekatnya hubungan antar tetangga.
Terdiri dari 8 bab, yaitu : 1. Feeling Right at Home : how to foster a sense of community 2. Where Everybody Knows Your Name : how to create great places to hang out 3. Going Places : how to tame traffic and improve transportation 4. Keeping Peace in the Streets : how to assure safety and promote justice 5. Where the Action Is : how to boost local economic vitality 6. Greening the Neighborhood : how to keep things clean, green, and natural 7. Pride in Your Place : how to nurture pleasure and pizzazz 8. Getting Things Done : how to make your dreams a reality
Tidak banyak teori-teori memusingkan, yang ada adalah cerita-cerita tentang manusia dan hubungan baik mereka dengan lingkungannya. Terlalu banyak isi buku ini yang ingin saya tulis dan bagi, sampai bingung sendiri :D. Nanti saya tambahin sedikit-sedikit deh. Intinya, "let's change this world, one place at a time".
*Seandainya bisa, saya kasih buku ini ke para ketua RT, RW, lurah, camat, kakanwil, walikota, bupati, untuk dibaca, diresapi, dihayati, direnungkan, dan...direalisasikan*
***
Sebenarnya kata penyusunnya, buku ini bertujuan untuk menyorot kesuksesan "everyday people" dalam menghidupkan lingkungannya, sehingga memberi inspirasi bagi para pembaca untuk melakukan hal yang sama. Everyday people di sini maksudnya penduduk yang bukan pejabat atau yang punya kuasa membuat kebijakan dalam hal penataan lingkungan/kota.
Yang mereka lakukan mulai dari yang simpel semacam menyediakan bangku di halaman depan rumahnya (membuka sebagian pagar rumahnya untuk memasang bangku itu, soalnya kan dia ga boleh bikin di trotoar yg bukan milik dia) supaya tetangga-tetangga bisa istirahat atau bersosialisasi di situ, hingga yang berskala lebih besar, di mana seorang ibu mengajak komunitas lokal untuk menghidupkan kembali taman di lingkungan mereka yang jadi tempat nongkrong preman lokal. Para preman itu malah juga diajak sama-sama berpartisipasi.
Kesamaan orang-orang ini adalah, mereka punya dedikasi untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lebih baik. Pola pikirnya sama : mereka sadar ada masalah di lingkungan sekitar mereka, mereka sadar kalau tidak bisa menunggu aksi dari pemerintah. Lalu, mereka memasyarakatkan visi atau ide mereka ke komunitas terkait. Merekalah para 'local heroes'.
Berikut ini adalah 4 karakteristik yang membentuk lingkungan yang baik : - lingkungan yang baik mendorong terjadinya interaksi sosial - lingkungan yang baik menawarkan banyak kegiatan - lingkungan yang baik terasa nyaman dan terlihat menarik - lingkungan yang baik mudah diakses publik
Dan berikut ini adalah 11 prinsip "Placemaking": 1. The community is the expert. Komunitas setempatlah yang paling tahu apa yang terbaik untuk lingkungan mereka, karena mereka yang sehari-harinya tinggal di situ. Apa yang dibutuhkan, dan apa yang harus dilakukan. 2. You are creating a place, not a design. Pengelolaan dan partisipasi masyarakat setempat lebih penting daripada blueprint rancangan. 3. You can't do it alone. Partner yang tepat akan memperkaya ide-ide inovatif, sumber daya, dan energi untuk bekerjasama. 4. They'll always say "It can't be done" Kalau ada yang bilang begitu, biasanya maksudnya adalah "We've never done it like this before". It's a sign you're on the right track. 5. You can see a lot by just observing. Cara cerdas memperbaiki lingkungan : amati dan perhatikan, what works and what doesn't. 6. Develop a vision. Visi ini seharusnyalah datang dari orang-orang di komunitas yang bersangkutan, bukan dari konsultan atau orang luar. 7. Form supports function. Saat membuat perubahan pada suatu fasilitas umum, jangan melupakan bagaimana orang-orang mempergunakan fasilitas tersebut sebelumnya. 8. Make the connections. Lingkungan yang baik menawarkan banyak kegiatan, mendorong interaksi yang saling mengisi. 9. Start with petunias. Hal-hal kecil bisa membawa perubahan besar. 10. Money is not the issue. Kalau masyarakatnya semangat ingin berubah, masalah keuangan akan teratasi dengan cara-cara kreatif. 11. You are never finished. 80% kesuksesan sebuah lingkungan yang baik tergantung pengelolaannya.
segitu dulu... nanti disambung...  | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | 455 7th Ave, Brooklyn 11215 |
Asli saya ga tau di Brooklyn ada restoran Indonesia. Yang ngasih tau malah orang Connecticut!
Jadi ceritanya teman keluarga kami, salah satu sesepuh orang Indonesia di Connecticut, bu Dahlia (sama suaminya, pak Yitno), beberapa hari yang lalu nelpon, katanya mau ke New York. Tepatnya ke Brooklyn. Katanya temen beliau mau ngadain syukuran, dan beliau mengundang kami untuk datang juga. Sebetulnya kita sungkan sih tadinya, diundang ke acaranya orang yang belum kita kenal. Tapi karena udah satu setengah tahun nggak ketemu beliau, dan menghormati undangannya, jadi datenglah kita ke sana.
*Akhirnya....setelah hampir 3 taun di NYC, saya nginjekin kaki di Brooklyn juga...hihihi. Naik subway F turun di Prospect Park. Wah...daerahnya indah dan bersih. Parknya besar...*
Ternyata temennya adalah pemilik restoran Java Indonesian Rijsttafel, bu Rofiah Agoes, dan acara syukuran hari itu adalah acara potong rambut cucu pertamanya, Ardian yang hari ini berumur 44 hari. Bu Dahlia dan pak Yitno ternyata yang bagian ngaji dan ceramahnya di acara ini.
Restorannya terletak di pojok persimpangan 7th Ave dan 16th st. Ruangannya kecil dengan jendela-jendela besar. Di dinding terpampang lukisan-lukisan batik, wayang, dan beberapa ukiran. Hari ini susunan meja dan kursinya pastinya nggak seperti biasanya, jadi saya ga tau biasanya kayak apa. Hari ini meja-meja disusun merapat ke dinding untuk meja prasmanan. Kursi-kursi di tengah ruangan dan di luar untuk para tamu.
Tau nggak kenapa saya kasih bintang lima? Soalnya hari ini saya ketemu tempe bacem dan kue lupis enakkkkkkkkkk! Kapan2 ke sana lagi ah. Tapi memang dari review di internet, bintangnya sekitar segitu juga.
Oiya, restorannya baru mulai buka jam 4 sore sampai 9 malem.
Jadi prens ya, restoran Indonesia enak di NYC bukan cuma di Elmhurst.  Habis baca tulisannya nenengceriwis tentang kontes putri-putrian yang 'mewakili Indonesia' tapinya nggak ada yang menguasai kesenian daerah, dan harus punya tinggi minimal sekian dan sekian. Habis itu baca tulisannya umminida tentang temennya, seorang ibu yang sudah meraih doktor di usia 30 dan baru saja mendapat beasiswa penelitian. Saya jadi inget satu kontes putri-putrian yang bener-bener beda banget dengan kontes-kontes putri-putrian jaman sekarang yang menurut saya lebih seperti kontes kecantikan, yaitu kontes Puteri Remaja yang diadain majalah Gadis sekitar awal 80-an. Saya nggak hafal mulainya dari tahun berapa, tapi sepertinya PR terakhir itu tahun 85 atau 86, soalnya tahun 87 mulailah tradisi Gadis Sampul yang berlanjut sampai sekarang. Taun segitu memang saya masih SD, tapi sampai kuliah pun saya masih suka buka-buka bundelan majalah Gadis jadul yang ada di perpustakaan rumah, soalnya isinya bagus. Yang saya ingat dari kontes Puteri Remaja adalah, nggak ada syarat tinggi minimal, dan yakin seyakin-yakinnya bukan kontes kecantikan. Kenapa? Soalnya saya inget ada kontestan yang kecil mungil, ada yang kacamatanya setebel pantat botol, dan banyak yang saya yakin nggak akan menang kontes kecantikan. Bukan menghina lho, yang baca pasti ngerti lah maksud saya. Tapi yang bikin kagum dari para kontestan adalah prestasi dan kemampuannya. Yang menang lomba karya ilmiah remaja bidang sains, yang aktif di organisasi, yang jago tari, teater, musik, dll. Jadi bukan tipe-tipe yang baru belajar sasando setelah menang kontes, atau yang baru punya kepedulian sosial setelah dinobatkan jadi putri, tapi yang sudah aktif dan punya keahlian dari awalnya. Karantina-nya Puteri Remaja bukan berkunjung ke pabrik kosmetik, belajar koreografi untuk malam penobatan, belajar dandan, sesi pemotretan dll. Isinya sesi diskusi, belajar berorganisasi, malam ajang bakat, semacam itu lah. Salah satu finalis Putri Remaja yang mungkin temen-temen kenal namanya adalah Tika Bisono. Tapi dari semua finalis dan pemenang yang pernah saya baca, satu yang paling saya inget adalah pemenang Puteri Remaja taun 85 : Ravenska Radjawane dari Ambon. Dia yang prestasinya juara lomba karya ilmiah remaja itu, meneliti cacing laut (gila juga nih saya masih inget kayak ginian). Gara-gara baca postingan si nenengceriwis dan umminida, saya jadi penasaran dan browsing namanya. Ternyata...yang bersangkutan sudah bergelar Doktor dan sekarang jadi peneliti di Canada. Memang pantes jadi juara. Ini baru namanya puteri. *berita ttg Ravenska Radjawane dan foto saya ambil dari http://abgnet.blogspot.com/2008/01/tahukah-anda.html*    | Chandni | Mar 20, '08 12:48 AM for everyone |
| Category: | Restaurants | | Cuisine: | Middle Eastern | | Location: | 11 W 29th St, New York, NY 10001 |
Restoran Pakistan ini nggak istimewa sih. Penampilannya seperti kantin dengan susunan meja-kursi berdesak-desakan dan antrian pengunjung yang minta dilayani di counter makanan. Suguhannya biasa aja juga, makanan khas India-Pakistan-Bangladesh. Disuguhin di atas piring kertas, gelas plastik dengan teko air dingin yang ngambil sendiri dari kulkas. Entertainment, tivi kecil berisi film-film India/Pakistan, atau kalo lagi ada turnamen, pertandingan cricket.
Yang bikin dia laku, rame dan banyak pengunjung adalah karena sebelahan sama mesjid Ar-Rahman. Kalo habis jam sholat pasti rame. Tadinya malah orang-orang yang mau sholat suka nebeng wudhu di wc-nya Chandni. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu wc-nya dikunci, cuma buat pengunjung restoran. Kalo mau ke wc harus minta ke penjaga counter buat dibukain.
Saya kalo ke sini selalu pesen kari kambing. Males aja yang lain-lain.
Pokonya kalo lagi di midtown Manhattan sekitar Macy's dan nyari mesjid plus restoran halal, ke sini paling deket.  | Category: | Books | | Genre: | Business & Investing | | Author: | Martha Stewart |
Siapa sangka ibu-ibu berpenampilan kalem ini one business genius?
Saya belum pernah baca buku bisnis. Topik ini bukan sesuatu yang menarik buat saya sampai akhir-akhir ini. Tanpa tertarik untuk membandingkan dengan buku tips sukses berbisnis lainnya, saya dengan senang hati ngasih bintang lima buat buku ini.
Martha Stewart sudah mencicipi bermacam pekerjaan sebelum akhirnya yakin menemukan 'passion'nya. Berlatarbelakang pendidikan sejarah dan arsitektur, dia pernah jadi model, jadi stockbroker di Wall Street, sampai agen real estate. Semuanya dia kerjakan sambil hatinya nggak sreg, "This is not for me".
Ketika akhirnya dia menyadari bahwa passionnya ada di dunia kerumahtanggaan, dia terjun sepenuh hati ke bisnis seputar itu. Berawal dengan catering hingga kini menjadi raksasa Martha Stewart Living Omnimedia.
This book is very inspirational. At least for me. How one passionate business genius share her steps toward success and how she motivates and inspires so many people. Bahkan di penjarapun dia memberi kuliah2 small business untuk sesama napi.
Akhirnya kemaren saya beli bukunya. Penting buat pengingat.
Oya, yang penting juga buat saya, di sini diceritain tentang salah satu bekas anak buah Martha yang akhirnya buka knitting shop sukses Purl di SoHo, Manhattan.   Gara-gara kucingkembar yang ngomporin saya baca cerpen ini (katanya, "Dy, daku tadi malam baca cerita pendek Raymond Carver berjudul: "After the Denim." Sebagai knitter, Dydy mesti baca!"), saya browsing-browsing info sampai menemukan kalo cerpennya ada di buku kumpulan cerpennya Raymond Carver yang judulnya "What We Talk About When We Talk About Love". Habis itu pesen deh sama library.
Karena waktu membaca ga banyak, saya langsung baca After The Denim.
Ceritanya sebetulnya sederhana, tentang sepasang suami istri yang pergi ke permainan bingo. Si suami memperhatikan ada sepasang orang muda perpakaian serba denim yang bermain curang dan memenangkan sebagian besar hadiah. Kejengkelan si suami terhadap si pasangan denim teralihkan oleh hal lain di akhir cerita.
Yang saya tangkap inti ceritanya adalah "life's not fair".
Dan bukan cuma perempuan yang jago needlework! Betul ga Cing?
Eh ada lagi...bahwa ngerjain needlework itu meredam stress... makanya, belajar knitting yuk!   ...sebelumnya perlu dicatat kalo saya tidak punya afiliasi apapun dengan produk yang saya review di sini...ini sekadar hasil apresiasi pengamat mode busana muslimah amatiran...:P Berinovasi dalam merancang busana muslimah itu tidak mudah. Keterbatasan bentuk dan model pakaian menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi desainer busana muslimah. Karenanya saya lihat perancang busana muslimah lebih banyak bermain di pemilihan bahan, motif, detailing, serta penambahan hiasan dan aksesori. Jarang saya menemukan desain yang betul-betul baru. Salah satu yang menurut saya menarik karena desainnya baru adalah kerudung Taaj ( http://griyazulfa.multiply.com/journal/item/21/Tentang_Kerudung_Taaj). Kalau biasanya desain kerudung itu lebih bermain di teknik memasangnya, atau macam-macam hiasan pemercantiknya, kerudung Taaj berinovasi dengan bentuk. Kerudung instan never look this good! Bahkan tali pengikatnya menjadi bagian dari desain. Pilihan warna dan motifnya juga bagus-bagus. Meskipun saya nggak suka tambahan hiasan di bagian depannya, overall I'm happy to give 5 stars for this product. Saya salut dengan desainernya (salam buat temennya ya mbak Nelly). ...sekali lagi saya nggak ada afiliasi dengan kerudung Taaj selain jadi contact MP...hehehe...tapi saya dengan senang hati promosi di sini...memang bagus kok.  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
...saya kesampingkan kekecewaan terhadap musiknya...karena terus terang hal itu yang paling mengganggu saya dan membuat saya bahkan serasa bermurah hati memberi bintang satu. *saya masih penasaran, film versi bioskopnya musiknya seperti apa?*
Dari segi isi dan alur cerita, menurut saya seperti drama percintaan yang sering diangkat sinetron dan telenovela. Cowok keren yang dikelilingi cewek-cewek cantik yang semua jatuh cinta sama dia. Ketika si cowok memilih salah satu, yang lain patah hati. Lalu ada yang sakit keras, ada yang ditabrak, ada yang fitnah, ada yang dipenjara, ada yang mati. Bertaburan adegan dramatis penuh air mata. *Jadi inget Esmeralda*. Bintang satu aja deh.
Dari segi pemainnya, saya kadang bingung mengikuti cerita karena tidak tau mana yang "orang Mesir" dan mana yang "orang Indonesia", habisnya semua berwajah Indonesia, kecuali Maria. Saya pikir tadinya si yang diperkosa itu orang Indonesia yang kerja di Mesir. Tadinya saya pikir si Aisha ini orang Indonesia juga (apalagi yang jadi pamannya Surya Saputra...wajah Indonesia banget). Soal akting dan penghayatan, rasanya masih kelas sinetron juga. Kecuali pemain-pemain senior yang punya pengalaman teater seperti Rudy Wowor, yang istilahnya bisa 'bicara' hanya dengan sedikit tarikan ekspresi wajah, yang lainnya biasa aja. Saya nggak liat 'cinta' di mata Fahri saat memandang istri-istrinya. Dan akting orang-orang yang protes di pengadilan itu sandiwara banget. Saya kasih bintang dua aja deh. Ngomong-ngomong yang jadi Fahri itu kok tipe-tipenya mirip Onky Alexander ya....si Boy banget deh ah..
Tentang nilai Islam yang dibawa film ini. Saya suka karena film ini menunjukkan bedanya muslim dan Islam dan ingin meluruskan pandangan-pandangan luar Islam yang salah menilai keduanya.
Muslim atau orang Islam itu manusia, perilakunya manusiawi, dipengaruhi banyak nilai-nilai yang berbeda : kepercayaan/agama, tradisi, sosial, dsb. Muslim ada yang picik, yang bermuka asam kepada "kafir Amerika", menggeneralisir bahwa semua orang Amerika (atau yang dikira orang Amerika) setuju dengan langkah politik pemerintahnya, sehingga tidak pantas ditolong. Ajaran Islam tidak begitu. Islam mengajarkan "Janganlah bermuka asam" di surat Abasa. Islam mengajarkan jika ada yang kesusahan dan membutuhkan bantuan, harus ditolong, tidak perduli siapa orangnya. Islam mengajarkan untuk berlaku adil, tidak pantas menghukum seseorang atas kesalahan yang dilakukan orang lain.
Ngomong-ngomong tentang Amerika, kalau saja pemikiran "kafir Amerika" itu bisa dilepaskan, mungkin orang bisa melihat bahwa banyak nilai Islami yang lebih menerap di Amerika daripada di Indonesia. Ketaatan pada hukum (taat mengantri, taat mengikuti protokol pembuatan KTP dan SIM, taat di jalan raya, dll dsb), keadilan bahwa setiap orang punya hak diperlakukan sama, komitmen membasmi korupsi, kepedulian terhadap ilmu, soal menyantuni orang miskin juga Americans are very generous, dan masih banyak lagi. Seandainya mereka tau.
Yang saya kurang sreg, kenapa perempuan-perempuan di film ini di rumahnya pakai jilbab terus padahal nggak ada non-mahram. Tidak realistis. Kalau seperti diberitakan bahwa penulisnya tidak setuju ada adegan pegangan tangan, atau Aisha buka jilbab, dll, saya jadi mikir apakah penulisnya setuju bahwa dalam pembuatan film ini ada adegan berdua-duaan pemain yang bukan mahram, atau bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan syuting, perempuan-perempuan yang 'tidak menutup aurat', dll dsb. Kalau mau realistis, ya sesuaikanlah dengan kehidupan nyata. Kalau mau idealis, mungkin film ini nggak bisa dibuat.
Segitu cukup deh kayaknya. Saya nggak mau berpanjang-panjang ngomongin perbedaan tafsir tentang bersentuhan tangan, tentang aurat, dll. Bukan di sini tempatnya.
Akhir kata, untuk niat dan misi dakwah yang dibawa film ini, saya kasih bintang lima juga nggak cukup. Seribu bintang juga nggak cukup. Apalah artinya bintang dari saya dengan balasan dari Allah karena telah mendakwahkan Islam?
...tapi musiknya itu...kalau ternyata betul membajak lagu orang...ah nggak tau deh...
nb : saya dapat forwardan email cuplikan novelnya. Dari secuplik itu saya yakin bakal lebih suka bukunya daripada filmnya. | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Mungkin saya harusnya baca bukunya aja. Atau nggak. Kok rasanya nggak istimewa. Cuma film romantis biasa, bedanya yang ini bawa misi dakwah Islam.
Dan kenapa film ini pakai musik2 dari film lain...seperti musiknya film Schindler's List dan Forrest Gump. Terus terang yg terakhir ini bikin apresiasi saya thd film ini drop. Maaf ya, para fans AAC...:P
update : saya denger di film versi bioskopnya musiknya diedit, bukan pakai musik2 di atas. Yang niat nonton, tolong perhatiin ya. Kalo memang bener, saya hapus komentar saya yang menyangkut musik. Soalnya itu hal yang paling bikin saya kecewa. Dan saya minta maaf kalau sudah mempengaruhi opini publik lewat sumber yang salah. Ditunggu infonya!  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | - |
Terinspirasi dari komentar mbak Dian tentang buku papercraft yang bagus, saya jadi ingin membandingkan buku-buku knitting yang pernah saya baca. Perjalanan menemukan buku-buku knitting yang bagus.
Sejak lebih dari 2 tahun yang lalu saya mulai 'melahap' buku-buku knitting di lantai 3 Mid-Manhattan library. Kalau dihitung-hitung sepertinya sudah puluhan buku dan majalah knitting yang saya baca, kalau ditambah buku dan majalah crochet mungkin sudah sampai seratus atau lebih. What can I say...I'm crazy about it.
Saya ingat buku-buku knitting pertama yang saya pinjam dan baca adalah Big Book of Knitting (BBoK) by Katharina Buss, How to Knit (HtK) by Debbie Bliss, sama Stitch 'n Bitch (SnB)-nya Debbie Stoller. Saya memang teknik-minded, jadi yang saya cari biasanya buku-buku teknik knitting, bukan buku pola. Membandingkan ketiganya, menurut saya semuanya bagus, tapi penyampaiannya yang berbeda membuat 'bagus'nya juga berbeda. BBoK, bagus dalam hal penjelasan mendalam tentang berbagai teknik detailing dan finishing. HtK, bagus dalam sistematika pengajarannya. SnB, bagus dalam hal penyampaiannya yang santai dan mengikuti perkembangan jaman, menarik anak-anak muda untuk belajar knitting.
Setelah itu banyak buku knitting yang saya temukan dan saya pikir bagus dari segi teknik: - Vogue Knitting, buku referensi knitting yang padat dan lengkap kap kap. - Designing Knitwear, di mana desainer knitwear Deborah Newton menulis tentang proses merancang knitwear. - Great Knits, Colorful Knitwear Design, dan Knitting Around the World, buku-buku kumpulan artikel teknis dari majalah Threads. - The Knitter's Handy Book of Patterns, buku pola dasar dalam berbagai ukuran dan tensi, dengan berbagai tips modifikasi.
Lalu saya bertemu dengan buku-buku Mary Thomas. Buku tua kecil jelek sobek-sobek. Secara penampilan tidak menarik. Tapi buat saya buku ini yang paling bagus dari semua buku knitting yang pernah saya baca. Padat berisi, dan yang paling penting, buku ini mengajarkan "how to understand knitting", tidak hanya "how to knit". Baca buku ini rasanya tiba-tiba "Eureka! Ternyata gini maksudnya, ternyata gitu dasarnya...".
Yah...jadi begitulah perjalanan saya menemukan buku-buku knitting yang bagus. Masing-masing punya jenis ke'bagus'an yang berbeda.
Saya masih pingin nyari buku-buku knitting yang klasik dari Elizabeth Zimmerman dan Barbara Walker. Dan saya super penasaran dengan buku The Principles of Knitting-nya June Hiatt yang super tebel, super langka dan super mahal. Di library ga ada...hiks.  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | North Light |
Buku ini terbitan 1993, jadi dari segi peralatan dan bahan-bahannya mungkin sudah terbilang 'kuno' (ya ampun...baru 15 taun yang lalu aja dibilang kuno...). Tapi dari segi ide dan hasil karya malah lebih bagus dari bukunya Michaels kemaren. Paling tidak menurut saya...:D. Dari segi teknik juga penjelasannya lebih bagus.
Buku ini dibagi 3 bab besar : Decorate with Paper, Personalize with Paper, dan Celebrate with Paper. Jadi pembagiannya menurut tema, tidak menurut teknik seperti buku Michaels.
Bab pertama, Decorate with Paper, membahas pembuatan pigura, tirai kertas, napkin ring, paper napkin, storage box, macam-macam decoupage, bunga kertas, papier mache bowls & masks, dan pierced paper lace.
Bab kedua, Personalize with Paper, membahas paper jewelry, kertas daur ulang, embossed paper, paper folders, teknik marbling, weaving dan collage.
Bab ketiga, Celebrate with Paper, membuat kartu-kartu, gift wrap & boxes, origami decorations.  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Judy Poulos |
Saya bukan quilters, belom pernah sama sekali bikin quilt, tapi baca buku ini bikin saya tau jauh lebih banyak tentang quilting.
Buku ini menjelaskan dengan baik macam-macam jenis quilting. Terbagi dalam 4 kategori besar : hand-quilting, machine-quilting, applique, dan special techniques. Masing-masing bab berisi penjelasan teknik dasar, dan 7 desain quilt.
Menurut saya penyusun buku ini patut diacungi jempol, karena sistematika penyampaiannya sangat teratur dan mudah dimengerti. Langkah-langkah pengerjaannya sangat jelas, selain dengan tulisan, juga ilustrasi gambar dan foto.
Desain-desain quilt dari berbagai desainer quilting yang ikut berkontribusi dalam buku ini juga bagus-bagus. Yang klasik, yang modern, dengan warna-warna yang harmonis. Bener deh, warnanya bagus-bagus. Saya biasanya nggak suka warna ngejreng, tapi quilting2 ngejreng yang ada di buku ini bagus-bagus. Yang nggak ngejreng apa lagi...hehehe. Motif-motifnya juga bagus.
Dari buku ini saya tau macam-macam teknik yang dipake di quilting. Kemaren saya sempet bingung ceritanya Hernik tentang patchwork bargello kenapa kok tubular. Lewat buku ini saya tau, soalnya ngebahas juga tentang patchwork bargello. Di bab Special Techniques membahas tentang crazy patchwork, miniature quilt, broderie perse, shadow trapunto, english method, dan foundation piecing.
Buat para quilters, ini buku bagus! This goes to my craft library.
  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Cusick & Kirby |
Kreasi kerajinan tangan berbahan kertas ada banyak macamnya. Dalam buku ini kategorisasinya dibagi menjadi : - scrapbooking - card making - book and journal making - decoupage ini melapisi suatu permukaan dengan kertas - paper folding (origami) - papier mache & paper clay - collage - paper cutting, punching, and piercing - paper quilling, rolling, weaving teknik gulung dan anyam kertas - surface design menghias permukaan kertas dengan material lain (benang, manik2 dll)
Saya sebetulnya bingung mereview buku ini selain sekedar menyebutkan kategorisasinya dengan penjelasan singkat. Soalnya menurut saya sih paper crafting itu sangat-sangat tergantung kreativitas masing-masing crafter. Tekniknya bisa bermacam-macam tanpa standar tertentu, apalagi desain karyanya.
Satu yang signifikan tentunya, di US ketersediaan alat dan bahan paper crafting bisa bikin paper crafters di Indonesia ngiri abis. Variasi jenis kertas, mesin-mesin pemotong kertas, mesin stiker, cramping machine, gunting dengan berbagai bentuk gerigi, dll dsb.
Ada masukan, apa yang harus saya review?   | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Amy Carroll |
Selama ini kirain needlepoint itu = sulam. Titik. Ternyata enggak ya. Hehe. Bodoh. Tadinya masih suka bingung antara needlepoint dan embroidery. "Kenapa ada dua macam istilah untuk sulam?". Makanya, cari info dulu ceuceu! Bedanya sulam embroidery dan sulam needlepoint adalah fondasi sulaman. Embroidery itu menyulam freehand di atas kain, sementara needlepoint adalah menyulam di atas kain/kanvas jala seperti yang biasa dipakai kristik/cross stitch. Malah sepertinya sih kristik itu termasuk needlepoint. Ya betul, soalnya di buku ini juga ada kategori Cross Stitches, malah ada beberapa macam cara tusuk silang. Buku ini kecil mungil, tapinya lengkap penjelasannya. Alat dan bahan yang dipakai, bagaimana menyiapkan rangka untuk proyek needlepoint ukuran besar, dll dsb. Dan saya terkagum-kagum melihat macam-macam jenis stitches di buku ini. Keren-keren, tekniknya, juga permainan warna di beberapa jenis stitches, terutama bargello.  Chevron Trellis  Pomegranate pattern Buku-buku tua yang berharga. This will go to my dream craft library. btw, kenapa di kategori book review-nya MP ga ada kategori Hobbies and Crafts ya.   | Category: | Books | | Genre: | Home & Garden | | Author: | Dyah Dyanita, Safrida Purwati |
Merajut yuk! Dyah Dyanita, Safrida Purwati Harga : Rp 38.000,- Ukuran : 17 x 21 cm Tebal : 112 halaman Terbit : Januari 2008 Soft Cover Buku ini akan membahas secara khusus tentang knitting. Kerajinan tangan ini sangat menarik dan dapat menghasilkan karya yang sangat beragam dengan tampilan yang indah. Untuk efisiensi dan menghindari kesalahpahaman, dalam buku ini knitting selanjutnya disebut merajut, dan crocheting disebut merenda. Jika menengok sejarahnya, merajut berasal dari Timur Tengah, tepatnya dari jazirah Arab. Keterampilan ini digunakan untuk membuat permadani yang diperdagangkan oleh para pedagang Arab yang kemudian disebar ke berbagai belahan dunia. KeTimur hingga negeri Tibet, ke Barat hingga Spanyol, dan ke daerah-daerah pelabuhan di wilayah Mediterrania. Dari Spanyol, keterampilan merajut ini kemudian menyebar ke daerah-daerah Eropa lainnya. Dengan adanya kolonisasi Eropa di berbagai wilayah dunia, keterampilan ini menyebar pula hingga ke Amerika, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Pada awalnya, merajut merupakan keterampilan para pria sebelum akhirnya berangsurangsur lebih diminati oleh wanita dan menjadi keterampilan standar seorang wanita muda Eropa untuk membuat pakaian hangat dan renda. Meskipun popularitas rajut tangan sempat menurun karena munculnya mesin tenun dan mesin rajut, kini keterampilan ini semakin banyak peminatnya. Tua-muda bahkan anak-anak, tidak hanya wanita, tetapi juga pria. Merajut menjadi salah satu hobi yang sangat diminati karena bahan dan peralatannya yang sederhana, dan dapat dikerjakan di mana saja, selain tentu saja menghasilkan karya yang menarik sekaligus bermanfaat. ISBN : 978-979-22-3411-4; 21008004 http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=IAOK5444&kat=3#  Tentu aja Aliefya belom ngerti nontonnya, tapi setidaknya theme song di awal film bisa bikin dia ketawa dan goyang. http://www.youtube.com/watch?v=vwzuQIgIQqk&mode=related&search= Kalo ibunya memang suka nontonnya. Habis, lucu. Jenis film kartun anak-anak yang mendidik tanpa menggurui.
Ceritanya tentang Arthur Reed, third grader di Elwood City, tentang keluarganya, teman-temannya, gurunya, anjingnya, dan lain-lain. Karakter-karakternya unik dan lovable. DW, adik Arthur yang sok tahu dan cerewet. Buster, joker of the class. Brain si pintar. Binky si tinggi besar yang bully tapi senang ballet. Francine yang jago olahraga. Muffy yang kaya raya dan bermulut besar. Semua punya plus minusnya, tapi semua lovable.
Dan ceritanya bagus....   | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Paul Jackson |
Buku ini membahas teknik melukis efek cahaya dengan cat air. Setelah membahas teknik dasar di bab pertama, bab-bab berikutnya membahas tentang berbagai karakteristik cahaya dan pencahayaan : Elements of Light, Qualities of Light. Bab-bab berikutnya berisi workshop melukis still life, suasana, arsitektural, dengan fokus pencahayaannya. Workshopnya diterangkan langkah demi langkah yang jelas untuk diikuti. Workshop terdiri dari : Light and Glass; and Metal; and Water; and the Landscape; and Architecture; Candlelight; Light at Night.
Hasilnya...betul-betul spektakular...*terkagum-kagum sama lukisan2 arsitekturalnya"   | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Beverley Johnston |
Bagi yang ingin belajar melukis dengan pensil warna, buku ini merupakan awal yang baik. Isinya terdiri dari dua bagian; bagian pertama membahas tentang material dan teknik, meliputi pengenalan alat dan bahan, memilih pensil warna, menggambar bentuk dasar, teknik mencampur warna dan layering, dll hingga perencanaan komposisi lukisan.
Bagian kedua berisi workshop, terdiri dari 12 proyek, antara lain : Cat's Eyes, Study of Feather, Study of Nature, Potrait of a Swan, dll. Masing-masing proyek diperlihatkan langkah demi langkah pengerjaannya, juga pemilihan warna dan penjelasan kesulitan apa yang dihadapi dalam proses pembuatannya.

| |