 | siti musdah mulia yang saya tahu adalah salah satu tokoh perempuan Jaringan Islam Liberal. ga heran kalo pemikirannya sering nyleneh. pemikirannya yang jelas bukan mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Insya Allah aktivis Islam sudah ga asing lagi dengan beliau dan teman2nya. |
 | Oh, Islam tentu saja mengenal homosexual sejak dulu, bahkan sebelum Rasulullah lahir. Tapi mengenalnya setahuku bukannya berbetuk perhatian tingkat tinggi & kemurkaan dr Allah pada Sodom & Gomorah? Atau peringatan bagi Nabi Luth utk menjauhi org2 yg zalim seperti yg digambarkan di 2 kota tsb? Kalau cuma soal mengenal saja, agama mana di duniaini yg tidak mengenal homosexualitas? Tapi jangan harap praktek macam itu bisa diterima dengan tangan terbuka & pemikiran baru (dgn dalih2 nyeleweng) kalau seseorg itu memilih homosexualitas krn sebuah pekerjaan atau pengaruh lingkungan. |
 | Aku baca di kompas sih beberapa hari yang lalu.. di beberapa milis juga ada pembahasan ini... Tapi terus terang aja aku ga punya sikap setuju atau tidak setuju.. Tepatnya karena aku ga peduli sama orientasi seksual seseorang, ga akan nge-judge mereka, ga akan memandang mereka berbeda dari aku.. selama mereka ga minta aku merubah orientasi seksual aku aja hehehe...:D. Aku sih mendukung setiap gerakan untuk minta keadilan.. |
 | saya heran kenapa kaum gay dikucilkan tapi koruptor enggak ya? padahal gay paling jauh juga merugikan dirinya sendiri, sementara koruptor merugikan orang banyak... |
 | hiks..hiks.. ita dah mencurahkan isi hati panjang lebar namun ke hapus, karena ini sesuatu yang penting Bismillahirohman nirohim mau ta coba lagi. Menurut pendapat ita kaum gay itu tidak hanya merugikan diri sendiri bila di ibaratkan ia virus maka bisa menyebar dan menularkan kepada yang lain, memang tidak seperti koruptor yang virusnya bisa mematikan secara massal bahkan bisa mematikan suatu negara. Namun virus gay juga tidak bisa dianggap enteng, virusnya menyebar perlahan tapi pasti, hal ini bisa di buktikan dengan melihat situasi suatu negara yang kini telah melegalkan kaum gay ini tidak hanya melgalkan pernikahannya namun juga melegalkan bila mereka mau mengadopsi anak. Sebagai seorang ibu ita meras prihatin karena bukan tidak mungkin suatu saat di negara kita pun bisa terjadi seperti itu, bila kaum gay ini sudah bulat suaranya dan kekuatannya sudah tidak bisa di anggap enteng lagi. Punteun teh dy nya..segini aja dulu ahhhhh...maaf teh kalau ada yang kuran berkenan ya... |
 | oiya sih...menular juga...tapi kayaknya menularnya nggak semudah penyakit korupsi ya.. |
 | haha...kumaha iman...bener sih... tapi bayangin...lebih mudah 'tertular' mengganti orientasi seksual atau 'tertular' ngambil sesuatu yang bukan miliknya...
eniwei, saya sih nggak sependapat sama si artikel itu, tapi saya juga nggak setuju kalo seseorang dikucilkan karena dia gay. kalo ternyata homoseksualitas itu pilihan (lifestyle) dan si gay ybs muslim, ajaklah dia ke jalan yang menurut islam benar, bukan malah dikucilkan, dipenjara, dibunuh. tapi kalo homoseksualitasnya hereditary, sudah tertulis dalam DNAnya misalnya, yang lain dari kenormalan, bisa disalahkan nggak? dosa, atau sakit, atau memang tidak punya pilihan? |
 | albirru wrote on Mar 31, edited on Mar 31 you know Siti Musdah Mulia itu lah mbak Dydy...
IMHO, pasti setiap apa yang kita hadapi adalah pilihan. Tapi aku nggak terlalu setuju untuk membiarkan pilihan itu tampak polos tanpa adanya ajakan. Apa kita mau membiarkan saudara kita memilih jalan yang merugikan dirinya sendiri (dan mungkin) orang lain? Saling nasehat-menasehati utk menerapi kebenaran itu baik, bukan? Sekarang tinggal appoach kita aja kepada saudara kita itu. Yang pasti hukum nggak mempan kl kesadaran nggak dibangun, dan kesadaran nggak bisa diraih kl orang itu nggak dikasih pemahaman ttg hukumnya. Masalah hukum mana yg mau dipake... hmm... kembali kpd agama dan kewarganegaraan orang itu kali ya. tapi tetep kok.. nasehat dengan kalimat yang baik itu is the best deh. daripada nggak ngasih nasehat kl ada yg berbuat salah trus tiba2 mengucilkan atau sikapnya lain ke org itu kan nggak fair namanya. |
 | iya terasa lebih "ramah" penyampaiannya ya intinya sih... kita harus rangkul mereka ya kan? |
 | @mimin : bukan masalah menggugat Tuhannya, tapi salah atau enggaknya dia jadi homo. Tanpa kaki mah dalam islam kan bukan terhitung dosa, nggak bisa dibandingin.
btw, saya kadang-kadang baca juga pemikiran JIL, ada yang sependapat ada yang enggak. Biasa lah, baca segala-gala juga ada yang sependapat ada yang enggak, siapapun yang ngomong. Saya nggak mau menilai suatu pendapat dari siapa yang ngomong, tapi dari isinya.
@lia : tah! tepat sigana nu ieu mah...:D |
 | asyikkkk...ti kamari ngecek terus ternyata makin seru yah...sok lah semua orang bebas mengeluarkan uneg unegnya kan teh dy...he..he.. |
 | betul teh ita...silakan mau komen...yang penting objektif... |
| |