Baca postingan harley (sebelumnya juga mbak mia, teh uci) tentang perjalanan berhijab, tertarik nulis juga.

Saya dibesarkan di keluarga yang Islamnya biasa-biasa aja. Selain yang wajib-wajib seperti sholat (belang bentong pula) dan puasa dan belajar baca Quran, lainnya nggak begitu diperhatikan. Memang dulu sekolahnya juga di sekolah Katolik, yang menurut ortu saya punya nilai plus dari segi kedisiplinan, fasilitas sekolah dan kualitas pengajar pada waktu itu. Jadi nggak aneh kalo waktu SMA saya sama sekali nggak tertarik ikutan DKM, bahkan kadang-kadang saya pikir yang pada pake jilbab itu ekstrimis, serius, tertutup, anti sosial, terbelenggu, nggak cool (gitulah pemikiran orang tidak berpengetahuan...seperti saya waktu itu). Di angkatan saya semasa SMA, satu-satunya cewek berjilbab yang menurut saya (mengacu ciri di atas) anomali, adalah Devi yang ngocol dan tukang heureuy. Memang tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka....kenalanlah!

Saya baru agak tertarik belajar Islam lebih sungguh-sungguh setelah kuliah, karena sahabat, teman-teman kuliahnya banyak yang aktif di mesjid, kadang suka diskusi santai tapi kritis soal agama, juga karena program mentoring dari Salman.
Kalo ketertarikan berhijabnya sendiri, mungkin sejak sobat saya Ana dan kemudian Dyo berkerudung taun berapa ya...Ana 94, Dyo 94 juga apa 95 gitu. Saya jadi terpengaruh, tapi juga nggak ingin kalo akhirnya saya 'pake', sekedar karena ikut-ikutan. Musti jelas alasannya, musti yakin. Saat itu saya mikirnya masih : belom pantes, belom lancar baca Quran, pengetahuan Islam masih minim, dll.

Eniwei enihaw, suatu hari minggu Februari 96, saya bertiga Ana dan Dyo jalan-jalan ke BIP. Sempet ketemu beberapa temen kuliah yg juga lagi JJS. Pulangnya saya maen ke rumah Ana, terus iseng coba-coba kerudungnya. Seneng kali si Ana, saya coba-coba kerudungnya, dikasihlah 2 biji. Saya pulang ke rumah, matut-matut lagi di depan cermin. Semaleman mikir, "Pake ga ya, pake ga ya. Kenapa pake, kenapa enggak?" Pada akhirnya yang menang ternyata "Kenapa enggak".

Besoknya adalah hari pertama kuliah setelah libur lebaran. Saya berangkat dari rumah udah berkerudung, warna krem, baju sweater ijo pupus bermotif, celana slack warna khaki. Ibu saya cuma pesen "Pakenya jangan sekedar ikut-ikutan ya". OK.

Di kampus, di kelas tepatnya, pada heboh. Soalnya saya dikenal 'preman', makhluk malam penunggu studio, dengan penampilan tomboy abis, dengan jeans bolong dan kadang sepatu bolong atau cukup nyendal ke kampus. Ada dua reaksi temen yang saya inget : Dupi langsung terbahak-bahak liat saya pake kerudung, dan komentar Maya "Kok bisa kamu duluan yang pake?". Temen-temen saya emang lucu...

Eniwei enihaw lagi, pertengahan 96 karena sesuatu hal saya mengalami mental breakdown, serasa kehilangan pegangan. Pada saat itulah saya membaca iklan Pesantren Liburan Mahasiswa-nya Unpad. Wah, sepertinya ini nih solusinya. Ikutan deh. Dan betul, ini ternyata jawabannya. Pengetahuan Islam saya yang nol besar tiba-tiba bertambah menuju ke arah satu. Dalam waktu dua minggu aja luar biasa banyaknya yang saya dapet. Agak-agak shock therapy juga sebetulnya, tapi betul-betul ngefek. Dan efeknya sangat terasa, dan terlihat.
Lepas dari PLM, hijab saya berubah. Dari sekedar baju panjang dan kerudung standar, berganti dengan jubah dan kerudung panjang. Why? Karena dalam pikiran saya, hijab seperti inilah yang disuruh untuk dipakai dalam Quran. Karena jilbab adalah baju terusan panjang (jubah/gamis) yang menutup dari leher hingga mata kaki. Sementara kerudung itu 'hanya sekedar' khimar, bukan jilbab. Padahal yang disuruh kan berjilbab. Begitulah logika pemikiran saya saat itu.

Gaya berhijab saya bertahan seiring keaktifan di mesjid Unpad (meskipun bukan anak Unpad). Tapi lama-lama banyak yang membuat nggak sreg, juga karena kesibukan di kampus, gayanya bergeser...bergeser...yang lebih pendek, lebih praktis, balik lagi ke gaya semula. Ada yang beranggapan saya buka jilbab. Ya mungkin betul juga, saya nggak berjilbab lagi, tapi apakah saya jadi nggak berhijab? Belum tentu.

Hijab adalah salah satu topik yang menarik buat saya, jadi saya banyak baca dan tanya tentang itu. Tafsir dan pendapat begitu beragam, kata buku ini begini, kata buku itu begitu. Sampai saya pusing dan sempat nanya sama pak Aam Amirudin di acara Percikan Iman "Pak, yang bener yang mana sih?" begitu kira-kira pertanyaan saya. Pak Aam bilang, masing-masing punya nilai kebenarannya, punya landasannya, jadi keputusan kembali ke tangan Anda. Saya waktu itu nggak puas, karena saya pikir jawabannya harus satu. Padahal enggak. Saya nggak berhenti nyari, baca, dan tanya tentang ini.

Setelah membaca banyak referensi, Quran itu menyuruh berhijab tapi tidak pernah menyebut batas aurat, dan hadis yang sering dipake untuk menentukan batas aurat (hadis dari Aisyah yang mengisyaratkan harus menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan) ternyata dinyatakan dha'if oleh perawinya sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk diri saya sendiri, bahwa dalam hal berhijab, saya setuju sama tulisannya pak Quraish Shihab di buku Wawasan al Quran, bahwa berjilbab itu baik sebagai usaha menutup aurat sebaik-baiknya, tapi kita juga tidak bisa mengatakan kalo wanita yang tidak berjilbab itu telah secara pasti melanggar ajaran agama Islam, soalnya ya itu tadi, Quran tidak pernah menyebutkan batas aurat secara jelas.
(yang mau mendebat soal ini, langsung ke pak Quraish aja ya...)

Sekarang, gaya berhijab saya ya begini, sekedar baju yang sopan tertutup, tidak mempertontonkan yang enggak-enggak, plus kerudung yang tujuan utamanya adalah supaya saya dikenal sebagai muslim. Itu sajalah.

Karena luar tidak selalu mencerminkan dalam.

Apa artinya sehari-hari berjilbab/kerudung tapi masih membentak orang tua, atau memukul anak, atau korupsi, dan atau-atau yang lainnya.
Bisakah kita bilang yang tidak berjilbab/kerudung itu masih kurang iman atau tidak diberi petunjuk? Menurut saya nggak bisa.

Karena ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...

Ngomong-ngomong luar tidak mencerminkan dalam, saya jadi ingin cerita tentang seseorang. Sebut saja si M (kenapa M? karena saya suka huruf M). Dari luar dia tidak tampak seperti 'orang alim'. Penampilan biasa aja, jeans, kemeja. Ke mesjid nggak sering, pengajian jarang ikut. Bicara agama, lebih sering mendengarkan, apalagi kalau sama orang yang nggak deket banget. Gara-gara itu pula jadi cenderung disepelekan, dianggap orang nggak tahu tentang Islam.
Padahal kalau saja orang lain tau, wah pemahamannya tentang Islam daleeeeemmmm. Dan cintanya sama Allah itu...ya ampun...cinta mati. Betul-betul cinta mati.
Suatu saat saya pernah dapat ilham, mendapat gambaran rasa rindu si M kepada Allah.  Ya ampun,  gambaran rasa rindu itu bikin dada saya sakit, sesak, air mata saya keluar. Sebegitu rindunya dia setiap saat sama Allah.

Kita sudah selevel itu belom? Saya jelas belom.

menutup tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan rambling saya 4 tahun yang lalu "...Banyak kejadian, orang-orang yang berbeda pendapat itu, bukannya sharing pendapat dan kemudian saling menghargai pendapat tersebut, tapi malah "saya benar kamu salah" tanpa argumen jelas dan berujung memberi gelar2 buruk. Munafik lah, fasik, kafir, dll. Hmmm...yang paling benar kan cuma Allah. Dalam ilmu tafsir aja ada kriteria bahwa si penafsir [mufassir] tidak boleh menganggap tafsirnya itu yang paling benar. Apalagi yang cuma ikut katanya mufassir.."

....saling menghargai itu lebih enak...
dan lagi-lagi, ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...

61 CommentsChronological   Reverse   Threaded
hobbygue wrote on May 2
dydy said
ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...
betul banget Dy.. jadi gk usahlah sibuk menilai orang lain, betul?
dydy wrote on May 2
betul banget Dy.. jadi gk usahlah sibuk menilai orang lain, betul?
heuheu...nambah2in pikiraneun aja...
ikaardina wrote on May 2
dydy said
ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...
Ya, betul sekali Dy.. Sayangnya banyak juga orang yang ngerasa paling tau ukurannya, sehingga berbuat seolah2 merekalah DIA..
lovusa wrote on May 2, edited on May 2
makasih teh tulisannya...bikin saya inget lagi ttg perjalanan berhijab saya.
nuhun teh......masa-masa itu bener-bener masa bahagia, sedih, stres dll..
boleh ya kalo kapan2 saya nulis postingan ttg ini juga....
tsuroiya wrote on May 2
another nice piece of you....aku setujuu....:)
ibutio wrote on May 2
dulu kan pelajaran etika saya dapet A karena saya berjilbab...ihhh hubungannya apa coba.....
manikamanika wrote on May 2
Wah teh dydy, kayak saya dulu. Sblm pake jilbab preman kampus hehe..
Saya jg sependapat sama tulisan anda. Allah lah yg tau benar salahnya org. Kita kan hanya berprasangka. Teteh tau berita yg lg hot disini? Pembakaran masjid ahmadiyah. Meski mgkn mrk salah tp apa lantas kita lgs menghakimi layaknya Tuhan? Perilaku org2 tsb spt org tdk beragama sj.
Yah mmg itu tantangan umat Islam skr ini. Org msh brpikiran saklek. Pdhl Islam kan tuntunan yg fleksibel. Karena jaman jg berubah.
Saya jg nemuin tuh mb, temen yg tdk brjilbab tp agamanya jauh lbh bgs drpd sy yg pake jilbab. Jd malu sy ma dia. Tp ada jg tmn yg pake gamis brkerudung panjang, tp demen bgt ngrumpiin org. Ya itu td, jilbab tdk bs jd ukuran. Tp sharusnya bs jd pemacu buat kt untk meningkatkan keimanan. Amien.
iniirma wrote on May 2, edited on May 2
dydy said
plus kerudung yang tujuan utamanya adalah supaya saya dikenal sebagai muslim. Itu sajalah.
bener dy.. karena memang itulah tujuannya..
"...hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu..." (QS Al-Ahzab 59)

tentang batasan jilbab itu seperti apa, wallahu 'alam bishawab. balik lagi sama keyakinan diri masing-masing dan yg penting mah saling menghargai apa yg jadi keputusan saudara-saudara kita para muslimah. :-)
elpusa wrote on May 2, edited on May 2
....saling menghargai itu lebih enak...
dan lagi-lagi, ukuran iman dan takwa hanya Allah yang punya otoritas. Siapalah kita ini...
Aku suka yang ini...

emang paling sebel kalo menghadapi orang yang merasa dirinya paling benar mbak Dy...
jhajha wrote on May 2
dydy said
Karena luar tidak selalu mencerminkan dalam.
aku suka kata-kata ini...

:)
chrissylah wrote on May 2
interesting, thank for sharing mba..
annidalucu wrote on May 2
panjang juga ceritanya teh

saling mendoakan ya, semoga istiqomah :)
harlia wrote on May 2
ok.. pertanyaan gw...

mana yang lebih preman, Dydy atau Dyo?
:D
virsaq wrote on May 2
dydy said
Banyak kejadian, orang-orang yang berbeda pendapat itu, bukannya sharing pendapat dan kemudian saling menghargai pendapat tersebut, tapi malah "saya benar kamu salah
this happen a lot..:D, sptnya kita harus belajar "Agree to Disagree" krn toh Islam sendiri mengajarkan kita untuk saling menghargai pendapat orang lain.
Nice posting...*jadi inget2 jaman2 di panggil kepsek gara2 berjilbab..hihi*...
supermom28 wrote on May 2
TFS Dy..
sebuah tulisan yg mengajak kita utk lebih introspeksi diri..
mamanatrixie wrote on May 2
iniirma said
yg penting mah saling menghargai apa yg jadi keputusan saudara-saudara kita para muslimah. :-)
yup leres pisan ;)

tfs yaa Dy..
jadi tau dulunya ternyata mantan preman kampus hihi
armansyah wrote on May 2
dydy said
Karena luar tidak selalu mencerminkan dalam.
setujuuuuuh bangettt mbak...
semoga Alloh selalu mampukan kita buat bercermin sampai ke hati..

thank you for sharing :-)
phitree wrote on May 2
'met kenal ya Mbak ... thanks for sharing ... :)
tmartiana wrote on May 2
dydy said
hadis yang sering dipake untuk menentukan batas aurat (hadis dari Aisyah yang mengisyaratkan harus menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan) ternyata dinyatakan dha'if oleh perawinya sendiri.
Tfs :-)

Kalau tidak ada hadits sahih yang menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan itu bukan aurat, konsekuensinya kita jadi wajib pakai niqab, dong.

Tapi katanya ada beberapa hadits sahih lain yang menyebutkan bahwa wajah dan telapak tangan bukan aurat, dibahas di sini http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3807&Itemid=60
dydy wrote on May 2
Ya, betul sekali Dy.. Sayangnya banyak juga orang yang ngerasa paling tau ukurannya, sehingga berbuat seolah2 merekalah DIA..
ya...seringkali begitu...
yang paling sedih dan tragis kalo sudah bunuh-bunuhan dengan mengatasnamakan kehendak Allah. Tau apa manusia tentang kehendak Allah?
dydy wrote on May 2
lovusa said
makasih teh tulisannya...bikin saya inget lagi ttg perjalanan berhijab saya.
nuhun teh......masa-masa itu bener-bener masa bahagia, sedih, stres dll..
boleh ya kalo kapan2 saya nulis postingan ttg ini juga....
sama-sama...
silakan aja nulis...saya juga ikut-ikutan aja nulisnya :D
dydy wrote on May 2
another nice piece of you....aku setujuu....:)
thanks mbak ienas...
dydy wrote on May 2
ibutio said
dulu kan pelajaran etika saya dapet A karena saya berjilbab...ihhh hubungannya apa coba.....
oh gitu alasannya? saya dapet A juga, tapi kenapa ya alasannya... masa karena itu juga?
dydy wrote on May 2
Ya itu td, jilbab tdk bs jd ukuran. Tp sharusnya bs jd pemacu buat kt untk meningkatkan keimanan. Amien.
ya...seharusnya sih gitu...
mudah2an kita yang pakenya selalu ingat itu...
dydy wrote on May 2
iniirma said
g penting mah saling menghargai apa yg jadi keputusan saudara-saudara kita para muslimah. :-)
sepakat...
dydy wrote on May 2
elpusa said
emang paling sebel kalo menghadapi orang yang merasa dirinya paling benar mbak Dy...
:-)...banyak yah yg begini...
dydy wrote on May 2
jhajha said
aku suka kata-kata ini...
aku suka jhajha...:D
dydy wrote on May 2
interesting, thank for sharing mba..
thanks for reading chris...:)
dydy wrote on May 2
saling mendoakan ya, semoga istiqomah :)
amiin
dydy wrote on May 2
harlia said
mana yang lebih preman, Dydy atau Dyo?
hmmm....dyo kayaknya ga pernah sampe dikira cowo...
kesimpulannnnn???
dydy wrote on May 2
virsaq said
kita harus belajar "Agree to Disagree" krn toh Islam sendiri mengajarkan kita untuk saling menghargai pendapat orang lain.
yup!
dydy wrote on May 2
TFS Dy..
sebuah tulisan yg mengajak kita utk lebih introspeksi diri..
sama-sama....
dydy wrote on May 2
jadi tau dulunya ternyata mantan preman kampus hihi
lingkup kepremanannya cuma di jurusan sih kayaknya...:D
dydy wrote on May 2
semoga Alloh selalu mampukan kita buat bercermin sampai ke hati..
amiiiiin
dydy wrote on May 2
phitree said
'met kenal ya Mbak ... thanks for sharing ... :)
met kenal juga mbak fitri...sama-sama...
dydy wrote on May 2
Kalau tidak ada hadits sahih yang menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan itu bukan aurat, konsekuensinya kita jadi wajib pakai niqab, dong.
lho kenapa konsekuensinya gitu?
redaksi ayat 24:31 kan "...janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya..."
perhiasan(zinah) di sini ditafsirkan sebagai anggota tubuh, dan 'yang tampak' itu bisa ditafsirkan sebagai bagian tubuh yang biasa tampak sehari-hari atau yang dibutuhkan untuk tampak karena jika ditutup akan menyulitkan (yang menafsirkan bukan saya lho yah).
Dari sini aja bisa ditafsirkan bahwa nggak semua bagian tubuh harus ditutup, hanya memang jadi nggak jelas batasnya di mana.

untuk Arab yang pada saat ayat diturunkan pun wanitanya udah pada berjilbab karena memang begitu tradisi berpakaiannya, yang biasa tampak itu muka, tangan, kadang kaki.

kalau seperti di Indonesia yang tradisi berpakaiannya tidak menutup kepala (rambut/kepala tidak tertutup adalah sesuatu yang biasa)....gimana?
atiecs wrote on May 3
thanks for sharing..
tmartiana wrote on May 3, edited on May 3
dydy said

untuk Arab yang pada saat ayat diturunkan pun wanitanya udah pada berjilbab karena memang begitu tradisi berpakaiannya, yang biasa tampak itu muka, tangan, kadang kaki.

kalau seperti di Indonesia yang tradisi berpakaiannya tidak menutup kepala (rambut/kepala tidak tertutup adalah sesuatu yang biasa)....gimana?
Kita masih boleh menggunakan pakaian yang kita pilih, kan? Jadi saya pikir di Indonesia atau di manapun berada sedapat mungkin kita berusaha untuk mengikuti standar agama yang kita pahami.

Cuman justru karena nggak jelas batas yang dikecualikan yang mana, kemudian ditambah dengan ayat satunya lagi (Al-Ahzab: 59) yang menyatakan bahwa "Hendaklah mereka (isteri nabi & isteri orang beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka", juga hadits-hadits sahih menyatakan bahwa Rasulullah kadang-kadang memalingkan muka dari wanita-wanita yang terbuka mukanya, maka yang paling afdol adalah sebanyak-banyaknya bagian tubuh kita ditutup. Untungnya, ada hadits sahih lain yang bisa menunjukkan bahwa muka dan telapak tangan bukan aurat.

Aduh maaf jadi berpanjang-panjang ya, Teh :-)

Wallaahu a'lam
ninoe06 wrote on May 3
Thanks Dy, jadi inget alasan aku berkerudung dulu, agak memalukan sebenarnya, kapan kapan ku sharing yaa
harlia wrote on May 3
dydy said
hmmm....dyo kayaknya ga pernah sampe dikira cowo...
kesimpulannnnn???
Dydylah pemenangnya!!
*tepuk tangan*
dydy wrote on May 3, edited on May 3
Aduh maaf jadi berpanjang-panjang ya, Teh :-)
tin, baca aja ini deh
http://media.isnet.org/v01/islam/Quraish/Wawasan/index.html
cari bab pakaian..
dijelasin semua kok dari berbagai tafsir..termasuk yg ditanyain tina
dydy wrote on May 3
ninoe06 said
Thanks Dy, jadi inget alasan aku berkerudung dulu, agak memalukan sebenarnya, kapan kapan ku sharing yaa
oke...ditunggu..:D
dydy wrote on May 3
atiecs said
thanks for sharing..
sama-sama...:)
dydy wrote on May 3
harlia said
Dydylah pemenangnya!!
*tepuk tangan*
trimkasih...trimakasih...
*bungkuk kiri-kanan*
dydy wrote on May 3, edited on May 3
Jadi saya pikir di Indonesia atau di manapun berada sedapat mungkin kita berusaha untuk mengikuti standar agama yang kita pahami.
kalo menurut saya sih, turunnya sebuah risalah Tuhan, pasti...pasti disesuaikan dengan budaya di tempat turunnya. kalo enggak, gimana akan dimengerti atau dipedulikan oleh orang-orang yang didakwahi?
misalnya bahasa. karena nggak akan pernah ada manusia biasa yang mengerti bahasa Tuhan. jadi 'diterjemahkan'lah oleh pembawa risalahnya, nabi. Risalah yang dibawa nabi Musa, nabi Isa, pastilah disampaikan ke umatnya dengan bahasa setempat. Begitu juga Quran.
Karenanya banyak juga budaya setempat yang disebut2 dalam ayat-ayat Quran, misalnya kebiasaan judi jenis tertentu, minuman/makanan lokal, jenis pakaian, dll, semata-mata supaya ajarannya sampai, karena si pendengar familiar dengan konteks perintahnya.
Ini sama sekali nggak berarti Quran dan risalah2 lainnya itu adalah produk budaya setempat.

Jadi standar agama yang dimaksud itu, apakah perintah yang plek menyatu dengan konteks lokal, atau inti/hikmah/semangat/tujuan dari perintah itu?
rumahrajut wrote on May 3
Makasih mbak, enak bacanya enteng tapi dalem. bahasnya enteng tapi maknanya dalem.
tmartiana wrote on May 3
dydy said
tin, baca aja ini deh
http://media.isnet.org/v01/islam/Quraish/Wawasan/index.html
cari bab pakaian..
Makasih Teh. dibaca dulu, ya..
tmartiana wrote on May 3
dydy said

Ini sama sekali nggak berarti Quran dan risalah2 lainnya itu adalah produk budaya setempat.

Jadi standar agama yang dimaksud itu, apakah perintah yang plek menyatu dengan konteks lokal, atau inti/hikmah/semangat/tujuan dari perintah itu?
Iya Teh, setuju bahwa Qur'an memang bukan produk budaya. Lebih jauh lagi, saya pahami Qur'an (ajaran Islam) itu universal, jadi nilai-nilainya dan bahkan syari'atnya berlaku untuk seluruh manusia, lebih khusus lagi untuk mereka yang beriman. Jadi terlepas dilaksanakan atau tidak, syari'at itu ada.

Dan setuju juga kalau dalam dakwah, kita perlu menyesuaikan antara materi yang akan disampaikan dengan kondisi yang akan menerimanya. Namun, tentunya sedikit-sedikit ditingkatkan lagi, diajak (bukan dipaksa) kepada yang lebih baik.
dydy wrote on May 3
Namun, tentunya sedikit-sedikit ditingkatkan lagi, diajak (bukan dipaksa) kepada yang lebih baik.
nah ini tin, baik itu relatif...yg buat satu kaum baik, belom tentu baik untuk kaum lainnya...
dydy wrote on May 3, edited on May 3
Qur'an (ajaran Islam) itu universal, jadi nilai-nilainya dan bahkan syari'atnya berlaku untuk seluruh manusia, lebih khusus lagi untuk mereka yang beriman. Jadi terlepas dilaksanakan atau tidak, syari'at itu ada.
setuju...
cuma kita perlu tau juga mana yang syariat, dan mana yang berupa atribut penyertanya atau budaya yang mewarnainya...
ada yang bilang itu tidak terpisahkan, ada yang bilang itu harus dibedakan karena suatu budaya yang menjadi konteks adanya hukum tersebut, tidak bisa dipaksakan menerap ke budaya lain yang sudah ada.

saya ngambil contoh ayat ttg 4 istri aja lah. kalo nggak dipahami budaya poligami bangsa Arab waktu itu yg istrinya bisa sekian banyak sampai ada yang terlantarkan, lalu tiba-tiba diterapkan ke kaum yang melakukan monogami dari awal mulanya, gimana kira-kira dampaknya untuk kaum itu (terutama perempuannya)?
arti ayatnya jadi beda : untuk kaum pertama berarti pembatasan/pengurangan jumlah istri, untuk kaum kedua berarti penambahan jumlah istri.

makanya saya mah cenderung ke pendapat yang mempertimbangkan budaya lokal.


miapiyik wrote on May 3
mampir Dy,dari hibernasi
TFS, senang bacanya
dydy wrote on May 3
mampir Dy,dari hibernasi
TFS, senang bacanya
sama-sama mb mia..
abis dari mana sih?
tmartiana wrote on May 4
dydy said

ada yang bilang itu tidak terpisahkan, ada yang bilang itu harus dibedakan karena suatu budaya yang menjadi konteks adanya hukum tersebut, tidak bisa dipaksakan menerap ke budaya lain yang sudah ada.
Jadi kelihatannya yang paling mudah sih menyampaikan apa adanya saja, ya Teh, apa-apa yang ada di Qur'an & Sunnah dan komentar para ulama. Biar informasinya lengkap dan terperinci.

Oh ya, hasil baca-baca tulisan pak Quraish Shihab yang dikirim teh Dy kemarin, yang disebutkan paling longgar itu kelihatan muka, telapak tangan, dan kelihatan kaki. Cuman kaki di sini mungkin maksudnya dari mata kaki ke bawah ya? Karena sebelumnya tercantum perhiasan kaki juga perlu ditutup. Juga tidak sampai tercantum kalau rambut bukan aurat.

Tfs, Teh. :-)
dydy wrote on May 4, edited on May 4
Jadi kelihatannya yang paling mudah sih menyampaikan apa adanya saja, ya Teh, apa-apa yang ada di Qur'an & Sunnah dan komentar para ulama. Biar informasinya lengkap dan terperinci.

Oh ya, hasil baca-baca tulisan pak Quraish Shihab yang dikirim teh Dy kemarin, yang disebutkan paling longgar itu kelihatan muka, telapak tangan, dan kelihatan kaki. Cuman kaki di sini mungkin maksudnya dari mata kaki ke bawah ya? Karena sebelumnya tercantum perhiasan kaki juga perlu ditutup. Juga tidak sampai tercantum kalau rambut bukan aurat.

Tfs, Teh. :-)
pilihan tina seperti itu...mangga...
saya milih yang nggak mudah tapi sreg ajah...:D

saya mah mau ngutip tulisan pak Quraish yang ini aja :

"Memang, kita boleh berkata bahwa yang menutup seluruh badannya kecuali wajah dan (telapak) tangannya, menjalankan bunyi teks ayat itu, bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan tangannya, bahwa mereka "secara pasti telah melanggar petunjuk agama". Bukankah Al-Quran tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat.

Namun demikian, kehati-hatian amat dibutuhkan, karena pakaian lahir dapat menyiksa pemakainya sendiri apabila ia tidak sesuai dengan bentuk badan si pemakai. Demikian pun pakaian batin. Apabila tidak sesuai dengan jati diri manusia, sebagai hamba Allah, yang paling mengetahui ukuran dan patron terbaik buat manusia."

tfs,r&d (thanks for sharing, reading and discussing) tin..
iyapoenya wrote on May 4
Guru SMPku pernah memberi pendapat...yg rada nyeleh..tapi kl dipikir2 rada bener juga...
"Rambut adalah aurat bagi wanita,jd sewajarnya semua bagian tubuh wanita yg berambut,hendaklah ditutup"

saat itu guruku mencontohkan dengan -maaf- alat kelamin,yg ditutup CD..

..maaf kl ngelindur..
qiyani wrote on May 4
Salam kenal Mba,...
erlinaayu wrote on May 4
Jadi pengen cari bukunya p Quraish
dydy wrote on May 4
"Rambut adalah aurat bagi wanita,jd sewajarnya semua bagian tubuh wanita yg berambut,hendaklah ditutup"

saat itu guruku mencontohkan dengan -maaf- alat kelamin,yg ditutup CD..
padahal semua bagian tubuh manusia tertutup rambut kecuali telapak tangan, telapak kaki, bibir, kuku....cuma ga keliatan aja...:D
dydy wrote on May 4
qiyani said
Salam kenal Mba,...
salam kenal juga...
dydy wrote on May 4
Jadi pengen cari bukunya p Quraish
sok atuh cari...banyak kok...
saya mah suka bukunya pak Quraish, adem bin sejuk bacanya...
pingkanrizkiarto wrote on Jun 16
dydy said
Siapalah kita ini...
aku kehabisan kata-kata.....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help