Cik Mangga Diaos

Blog EntryPrakarya Kertas IIIJul 4, '08 1:00 AM
for everyone

Heheh...terpilih jadi moderator event Prakarya Kertas-nya mbak Dian nih. Mungkin gara-gara mbak Dian takut sama monster Hulkupu...hahaha...takut yang bikinnya berubah jadi monster Hulkydy...*tapi yang ini warnanya pink*.

Anyway by the way, berhubung periodenya dari 4 Juli - 25 Juli, jadi cucokkk banget buat saya, soalnya di periode ini ada ultah dua orang penting dalam hidup saya: Aliefya dan ibunya! Hahahah...

Jadi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain. Terpaksa dengan senang hati tema prakarya kertas kali ini adalah: IBU DAN ANAK. Gimana nerjemahin tema ini? Terserah! Yang penting jangan sampai mundur nggak ikutan event dengan alasan "saya belom punya anak". Ayam sama telor juga ibu dan anak lho...:P.

Oke deh, serius dikit. Instruksi ibu admin harus disampaikan nih. Aturan main:

1. Yang boleh mengikuti kegiatan ini adalah siapa saja, asal masih termasuk dalam network (misal: masih dalam networknya moderator, atau admin, atau network peserta lain yang ikut kegiatan sebelumnya).

2. Kegiatan ini berlangsung 3 mingguan. Kali ini dimulai tgl 4 Juli. Tanggal 23 Juli semua karya yang turut meramaikan harus sudah terkumpul semua. Kalau mau mengikutsertakan karya2nya lebih awal, silahkan. Dan kalau mau mengikutsertakan lebih dari satu karya, boleh2 saja.

3. Karya2 yang sudah jadi bisa dipasang di blog masing2 di bagian jurnal atau photo. Jangan lupa judulnya seperti begini: PRAKARYA KERTAS III: (nama karya anda). Uraikan bahan2 yang anda pakai & bagaimana cara pembuatannya (kalau bisa pakai photo rinci lebih bagus, kalau tidak ada juga tidak apa2). Buat link tentang kegiatan ini yg diambil dr blog moderator.

4. Karya harus sesuai dengan tema yang ditentukan moderator dan harus terbuat dari kertas (seluruhnya atau sebagian besarnya kira2 3/4 dr karya tersebut). Jika moderator menentukan warna2 tertentu, maka peserta harus menurutinya. Pemakaian warna lainnya diperbolehkan, asal tidak melebihi 1/4 bagian karya.

5. Sesudah membuat postingan karya (atau karya2), kirim PM ke moderator untuk memberitahukan dan kirim file photo ke admin di artsofcards@yahoo.com (untuk rangkuman di akhir kegiatan).

6. Berkreasilah sebaik2nya & seluas2nya, tapi ingat, bahannya harus tetap kertas. Jangan lupa tetap menjaga kesantunan antar kawan, beri semangat & masukan yang membangun. Usahakan untuk mengunjungi tiap postingan karya2 teman2 kita & jangan segan2 mengacungkan jempol untuk karya2 yang lebih nilainya menurut anda.

7. Tolong postingan Prakarya Kertasnya diset untuk "everyone".

Begitulah....

Selamat berkarya. Bebaskan imajinasimu.

Update:

Wah...udah ada yang submit karya

1. Tascha dengan kartu bertema kasih ibu. Cantik!

Blog EntryHappiness is knowing your friend loves youJul 2, '08 4:31 PM
for everyone
Kemaren pagi menjelang siang, ada paket datang. Padahal saya ataupun suami nggak lagi nunggu kiriman apapun. Waktu diliat kardusnya, lho kok dari salah satu toko online?

"Mas, kamu beli sesuatu?"
"Nggak tuh? Kamu kali?"

Penasaran, dibuka deh paketnya. Hah? Digicam?

"Ooooo....aku tau! Kamu ngasih aku surprise toh? Kamu beliin aku digicam?"
"Nggak! Nggak kok!?" Wajah si mas nggak bisa saya baca. Dia bingung beneran ato boongan. Maklum, dia sering ngisengin saya juga.
"Ah poker face! Itu senyum-senyum? Bener nggak ini kamu yang beli?"
"Bukan! Bener bukan!"

Karena tuduhan-tuduhan yang dituduhkan dengan kebahagiaan ini ditolak mentah-mentah, akhirnya saya (dan si mas) makin penasaran. Dibolak-balik itu paket. Eh, akhirnya ketemu juga 'clue'nya di alamat pengiriman. Alamat pengiriman memang saya, tapi nomor telepon yang tercantum di situ? Nomor telpon Connecticut, tepatnya sebuah apartemen di West Haven. Tepatnya punya mbak ini.

"Oalah...mbak Dian mas..."

Ah mbakku ini memang sangat baik hati. Si wonder woman yang murah hati. Nggak tau udah apa aja yang si mbak kasih buatku, si 'teman durhaka' yang lupa terus ultahnya sementara dia nggak pernah lupa ultahku.

Well, mbak, this friend loves you back!


p.s: coklat ini juga early birthday present dari si mbak. Datang sehari sebelumnya bersama buku-buku yang dia sumbang untuk craft library saya.

Blog EntryOspek, apa manfaatnya?Jul 1, '08 2:23 AM
for everyone
Membaca tulisan tentang opspek di blognya Indres, saya jadi ingin ngebahas juga tentang opspek, atau ospek, atau os. Saya gak hafal kepanjangan Ospek, saya cuma tau kalo OS (ini istilahnya yang dipake di ITB) itu Orientasi Studi.

Lalu kalau melihat lagi kegiatan OS, apakah mencerminkan namanya? Suatu kegiatan yang namanya Orientasi Studi harusnya (menurut saya) isinya ya kegiatan-kegiatan yang memberikan arahan dan pengenalan tentang studi perkuliahan di jurusan yang bersangkutan. Kenyataannya? Lebih banyak plonco-ploncoan kan? Ngerjain 'anak bawah'? Genjotan ala militer. Buat apa?

Saya mau cerita tentang OS jurusan saya, angkatan saya. Saya nggak merasakan manfaatnya sama sekali....eh ada sih satu yang kerasa. Saya jadi kuat lari. Tes lari di kuliah Olahraga (ada kuliah Olahraga! ya ampun...buat apa ya?) pas tingkat satu jadi termasuk yang tercepat.

Kegiatan OS yang saya inget: lari, lari, lari. Sampai capek. Push up. Sit up. Squat jump. Yang cowok merangkak-rangkak di lumpur. Dimarah-marahin. Dicela-cela. Dikerjain. Takut. Ngantuk. Bau. Kotor. Capek.
Pernah ada slideshow arsitektur oleh salah satu dosen. Berhubung ngantuk, nggak ada yang masuk.

Dulu katanya ikut OS supaya bisa masuk himpunan supaya bisa dapet banyak benefit yang cuma didapet kalo ikut himpunan. Buktinya? Saya menemukan 'niche' bergaul yang lebih sreg di hati di luar jurusan: LSS. Hasilnya, saya nggak aktif sama sekali di himpunan, tidak merasa memiliki. Karena nggak aktif, saya nggak dapet apa-apa tuh dari himpunan.

Katanya OS untuk mengompakkan angkatan. Buktinya? Angkatan saya sama sekali nggak kompak. Bukan sekali dua kali ada kumpul-kumpul angkatan untuk membicarakan kekompakan. Still, kekompakan nggak datang-datang. Banyak yang lebih interest gaul di luar jurusan. Seperti saya misalnya :D.

Dari dulu saya nggak suka plonco-ploncoan. Dikerjain, dimarah-marahin, saya malah sebel. Tau sih, itu cuma sandiwara. Tapi disuruh 'jangan dimasukin ke hati', susah buat saya. Saya pernah liat ada anak angkatan atas menampar anak yang diOS dengan sendal. Plak! Apa bukan abuse itu namanya?

Jadi, buat apa sih ospek ala militer seperti itu? Kenapa nggak ada inisiatif bikin ospek gaya baru yang lebih membangun? Yang lebih bermanfaat? Yang nggak jadi ajang balas dendam? Kalo ospek jadi ajang balas dendam, mending hapus aja semua ospek di dunia. Itu judulnya memberi wadah untuk berperilaku buruk.

Atau kalo nggak diospek ala militer, mahasiswa jadi 'lembek'? Saya dulu pernah berpikiran seperti ini, tapi sekarang berubah total. Lembek fisik ga ada apa-apanya dibanding lembek otak dan psikis. Temen saya satu angkatan ada yang nggak ikut OS, karena dia dulu sakit berat. Tapi urusan studinya...wow. Nilai-nilainya kebanyakan A. S1 terancam cum laude. Lanjut S2, katanya lulus summa cum laude. Selain masalah fisik, dia juga banyak cobaan hidup, tapi studi tetep jalan mulus. Soal gaul, dia juga gaul ke mana-mana. Pendeknya, nggak ikut OS nggak ada pengaruhnya. Malah dia lebih survive di jurusan dibandingkan banyak temen lain yang ikut OS. Lebih dapet banyak benefit dari jurusan.

Kita harusnya ingat-ingat lagi, apa sih yang penting untuk survive di dunia perkuliahan? Itu dong yang harusnya jadi landasan penyusunan program Orientasi Studi.

Baru nyadar. Mungkin ini juga yang jadi 'rants' para pejabat kampus. Tapi mahasiswa dong, emang semangatnya 'rebel', pasti nolak. Teteplah ada OS di mana-mana. Terselubung. Sepertinya ceritanya Indres.

Blog EntryMP Writing Event : The Power of DreamJun 27, '08 2:16 PM
for everyone
Sekali-sekali ngadain writing event ah. Tentunya ala saya.
Sebetulnya ini juga terinspirasi bukunya Martha Stewart yang dulu saya baca, dan buku The Specialty Shop yang lagi saya pinjem.

Temen-temen yang suka baca blog saya pasti udah ngeh kalo saya sering nulis tentang mimpi, baik yang artinya bunga tidur ataupun cita-cita. Nah, mimpi yang saya maksud sekarang adalah mimpi yang artinya cita-cita.

Setiap orang pasti punya mimpi yang ingin diwujudkan. Mimpi atau obsesi pribadi. Mungkin banyak halangan dan kenyataan hidup yang membuat mimpi-mimpi itu tidak bisa atau sulit diwujudkan.
"Saya ingin mendirikan sekolah."
"Saya ingin pergi ke Afrika, bikin hotel yang menyatu dengan savana."
"Saya ingin punya butik."

Now I want you to lay down, relax, and imagine. Gambarkanlah mimpimu sejelas-jelasnya.

(Misalnya, jangan sekedar tulis "Saya ingin mendirikan sekolah". Tulislah, saya ingin mendirikan sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu di kota kelahiran saya. Di sana nanti anak-anak tidak perlu membayar uang sekolah. Mereka diajari berbagai pelajaran dan keterampilan yang dapat membantu mereka berusaha sendiri mencari pendapatan di kemudian hari. Kalau ada yang terlihat cerdas berbakat, akan disediakan tutor tersendiri untuk memupuknya menjadi seorang ilmuwan. Sekolah itu lapangannya luas, ada ayunan, ada pohon besar. dll dsb....)

Nikmati proses membayangkan mimpi itu. No...bukan untuk melenakan diri. Do not underestimate the power of dream. Mimpi bisa memicu dan memacu semangat kita untuk mewujudkannya. Mimpi itu jadi goal yang ingin dicapai, membuat kita berpikir "Apa yang bisa saya lakukan untuk mewujudkannya?".
Kalaupun kelihatannya mimpi itu tidak mungkin terwujud, membebaskan imajinasi tentang mimpi itu...liberating...membuat bahagia.

Event terbuka untuk siapa saja yang baca tulisan ini.
Kalo tulisannya pendek, ditulis di reply posting ini boleh. Tapi lebih enak kalo ditulis di blog sendiri, ya kan? Bisa panjang...bisa dikasih ilustrasi....digambar....
Deadline 24 Juli.
Jangan lupa kasih tau kalo ikutan ya, atau dibikin link ke tulisan ini.

p.s : Event ini hadiahnya tidak berupa barang. Hadiahnya: a moment to enjoy your imagination. Dan siapa tahu, salah satu pembaca tulisan temen-temen ternyata punya mimpi sama dan mau bantu mewujudkannya! Who knows?

Update: Udah ada yang submit mimpinya nih...

1. Hernik dengan toko rajut dan quilt-nya
2. Mbak Hany dengan mimpinya yang pancen neko-neko *kata temennya lho* tapi terwujud juga :D
3. Mbak Phiphi dengan craft-related dreams yang sedang dalam perwujudan....*go phiphi go!*
4. Mbak Minet yang mimpi jadi ESOL teachernya terencana dengan sangat rapi...
5. Mbak Wanda dengan mimpinya memberikan bagian dirinya bagi orang lain yang membutuhkan.
6. Mbak Hani dengan mimpinya yang universal: bahagia dunia akhirat.

Blog EntryMenikmati blog ala sayaJun 27, '08 1:13 AM
for everyone
Saya ngeblog dari taun 2004. Tepatnya April 2004. Alasannya, kalo mengutip postingan pertama saya adalah "buat senang-senang n mengeluarkan pikiran aneh2 yang suka jalan2 di otak tanpa bisa dikeluarin sehingga akhirnya bikin ga bisa tidur..". Memang dulu saya sering banget susah tidur karena mikirin berbagai macam hal, yang penting ataupun ece-ece. Setelah punya blog ternyata lebih nyaman. Kenapa nggak buku diary? Soalnya saya lebih suka ngetik dibanding nulis. Saya jatuh cinta sama ngetik setelah berhasil menguasai teknik 10 jari kelas 1 SMA dulu. Hahaha...sama ngetik aja bisa jatuh cinta yah.

Saya sempet nyoba macem-macem blog. Blogspot, blogdrive, blog-city, dan multiply. Tapi akhirnya settle di blog-city, soalnya (menurut saya) dia yang paling user friendly sambil penampilannya juga cocok dengan selera saya. Sampe saya rela bayar sekian dolar per bulan *ah bodoh*. Meskipun saya pake juga yang lain itu buat tulisan saya yang lain (tulisan mimpi dan deep thoughts di blogspot, tulisan belajar bahasa di blogdrive, multiply cuma sekedar repost dari blog-city).

Dulu blog saya nggak punya temen. Saya ternyata ngerasa sepi ngeblog sendiri tanpa ada yang mengunjungi. Cari temen deh. Temen pertama saya Indres yang waktu itu blognya masih di blogdrive. Terus nyari dan nyari, blogwalking everywhere, sampai list temennya banyak, tapi yang rajin dikunjungi sebetulnya cuma sedikit dan itu-itu lagi. Sebetulnya saya jarang minta tukeran link, kecuali saya betul-betul suka isi blog orangnya, atau saya udah kenal sebelumnya di tempat lain (milis, misalnya). Soalnya ya itu tadi, saya suka capek blogwalking, jadi cuma ke tempat-tempat tertentu aja. Kalo saya minta ngelink terus nggak dikunjungi, kan nggak enak tuh (meskipun pernah juga kayak gini).

Setelah Aliefya lahir, saya makin jarang posting di blog-city. Lama-lama rugi juga bayar tapi nggak diisi. Bedol blog deh akhirnya, pindah ke Multiply. Secara penampilan nggak terlalu cocok sama selera saya, tapi dibanding yang lain, di sini yang featurenya paling user friendly. Apalagi setelah taun berapa gitu, tiba-tiba temen-temen yang ngeMP jumlahnya melunjak. Tadinya temen saya di MP cuma teh Intan (yang sekarang malah ga pernah ngeMP lagi), sekarang...alamak...kontak saya jumlahnya 369! Siapa aja ini? :D

Yang saya perhatikan dari MP, kenapa dia begitu hebat daya candunya, karena dia memprioritaskan sosial di atas individu. Provider blog mana yang begitu login langsung masuk inbox yang isinya feed postingan semua kontak, sehingga kita bisa catch a glimpse of what's happening in our neighborhood? Biasanya kan kalo login kita masuk ke blog sendiri, lah MP beda sendiri. Saya sampai udah ga pernah lagi blogwalking keluar MP, karena serasa nggak punya neighborhood lain. Sampai-sampai saya baru tau salah satu kontak blog saya dulu sekarang lagi hamil anak ketiga, gara-gara udah hampir setahun nggak mampir ke sana. MP memenuhi kebutuhan anggotanya untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas, dan bersosialisasi di sana (maap...bahasanya...maklum baru nyelesain paper tentang komunitas online).

Anyway, sekarang saya sangat menikmati blogging di MP. Dan jujur aja, saya sangat sangat senang kalo postingan saya dibaca dan direply (memang ada yang nggak senang ya?). Saya juga suka blogwalking kalo senggang. Dan enaknya di MP, blogwalkingnya nggak cape. Sekilas-sekilas postingan dibaca. Apalagi setelah kontak mencapai ratusan...walah...mana bisa dibaca satu-satu. Cukup baca judul dan intro. Yang kira-kira bakal menarik diklik, yang enggak dilewat. Soal menarik atau enggaknya, tentunya menurut selera masing-masing (selera mah nggak bisa diganggu gugat). Nggak semua topik menarik buat saya, nggak semua bisa menuliskan topik dengan gaya tulisan yang saya sukai (lagi-lagi soal selera).

Soal gaya tulisan, kadang saya suka heran lho, nemu blog yang katanya punya penulis, tapi tulisan-tulisannya boring abis. Sebaliknya, ada yang bukan penulis, tapi blognya bikin saya betah!

Saya menikmati postingan-postingan jika dan hanya jika topiknya menarik buat saya. Mau yang serius ataupun tidak serius.
Saya menikmati tulisan-tulisan yang enak dibaca, dari segi penulisannya ataupun pilihan font dan background. Tulisan bagus tapi bikin mata jereng...males layaw.
Saya menikmati lempar-lemparan tagging, quiz dan event.
Saya tidak menikmati blog yang isinya cuma copy paste artikel. Nggak ada personal touch.
Saya tidak menikmati kalo blog saya dibombardir iklan.
Saya tidak menikmati kalo saya dipaksa baca dan reply postingan orang.
Saya tidak menikmati bahasa puitis.
Saya tidak menikmati tulisan-tulisan bigotry.

p.s: kalo ada yang merasa sakit hati nggak pernah saya kunjungi blognya, it's not about you. It's about me.
Karena saya menikmati blogging, dengan cara saya sendiri.

Blog EntryMenikmati hobi ala sayaJun 26, '08 4:06 PM
for everyone
Kalo jaman SD saya ditanya hobi (atau disuruh nulis di buku kenangan, biasanya sesudah tempat tanggal lahir dan sebelum cita-cita), saya biasanya nulis ngegambar, baca buku, dan dengerin musik.

Dulu memang hobi saya ngegambar, kalo definisi hobi sama dengan hal yang senang dikerjakan saat senggang. Kalo main sama sodara-sodara itu mah kewajiban yah? :D. Saya waktu kecil paling suka ngegambar orang dari samping, biasanya dengan hidung-hidung dan dagu-dagu yang kepanjangan. Di mata saya tentu aja proporsinya udah tepat. Malah pernah ada satu yang saya bilang mirip Meriam Bellina, dan pas saya liatin si "Meriam Bellina" ke kakak saya, dia cuma geleng-geleng tak mengerti belah mana miripnya. Kasian kau Kon...

Hobi gambar lainnya, adalah ngegambar "kereta terbang". Ini seperti apartemen, tapi bentuknya memanjang seperti kereta, dan terbang keliling langit all the time. Satu lembar kertas mewakili satu gerbong. Kebayang nggak panjangnya gambar saya itu? Berlembar-lembar disambung dengan selotip.

Setiap gerbong mewakili satu apartemen, yang biasanya penghuninya punya ciri khas. Si masinis tentu saja cowok cakep yang baik hati dan penolong. Tetangganya kemudian si pemusik yang punya keyboard seperti punyanya Fariz RM (keyboard yang disandang kayak gitar), rambutnya harus agak gondrong. Terus ada lagi pelukis, tukang masak, cewek scientist, dan sebagainya. Di kereta itu juga ada ruang-ruang bersama seperti restoran, dan saya inget di salah satu mejanya ada yang lagi nyatain cinta sambil ngasih mawar!

Baca buku dan dengerin musik sebenernya formalitas aja. Saya ga pernah ngerasa bener-bener hobi baca buku seperti kakak-kakak saya, apalagi dengerin musik yang sampai koleksi kaset-kaset. Biasa aja.

Hobi ngegambar ini juga yang membawa saya milih jurusan arsitektur. Kenapa bukan seni rupa? Jawabannya (percayalah): saya bosen satu sekolah sama kakak saya (dia duluan masuk seni rupa. Jadi meskipun tertarik, tapi kebosenan itu lebih kuat..hihihi). Jadi aja milih arsitektur. Meskipun satu universitas, tapi beda "school".

Eh tapi ternyata, tuntutan harus menggambar di jurusan malah bikin saya nggak lagi menikmati kegiatan menggambar. Karena diharuskan, saya malah "lari" ke hobi lain: musik. Bibit suka musik memang udah ada dari kecil juga. Saya inget papa almarhum beli harmonika buat kakak saya, tapi pada akhirnya yang suka maininnya ya saya sendiri. Recorder punya kakak saya yang lain, juga 'diembat'. Saya inget kelas 1 SMP suka nongkrong di loteng mainin lagu...Hati Yang Luka! (aib...aib...:D)

Balik lagi ke musik sebagai pelarian, udah diceritain di Nostalgia di LSS. Anehnya lagi, karena merasa 'tidak diharuskan', saya hobi ngegambar di LSS. Hasilnya ya komik-komik Qoma, desain logo, kaos, dan poster-poster kampanye pupuhu.

Dimana-mana pressure memang mengganggu kenikmatan ya.

Sekarang, saya hobi merajut. Tapi lagi-lagi, ketika hobi itu bergeser menjadi status (owner milis dan website merajut), serasa ada kewajiban tidak tertulis bahwa saya harus merajut dan merajut. Padahal, itu bukan cara saya menikmati kegiatan merajut. I knit what I want, when I want (I crochet sometimes, but I prefer knitting anytime). Saya lebih suka merajut pola-pola rancangan saya sendiri, sesuai visi saya sendiri, meskipun bisa lama dan tidak terlihat produktif. Saya lebih suka merajut satu itu saja sampai beres, daripada banyak tapi nggak ada yang beres. Saya lebih memilih tidak terlihat produktif daripada mengerjakan rajutan-rajutan kecil yang tidak saya kerjakan sepenuh cinta. Saya punya banyak buku merajut tapi bukan untuk dikerjakan polanya, tapi cari ide dan inspirasi untuk membuat sesuatu yang lain. Ambil motif dari sini, modelnya seperti anu, tusukannya dari pola lain lagi. Hasilnya lebih unik dan lebih memuaskan, lagi-lagi menurut saya.

Buat saya merajut tetap hanya hobi. Tetap tunduk pada hukum "pressure mengganggu kenikmatan". Sekarang saya lagi merasa jenuh dengan merajut, dan saya lari ke hobi lain: MP! Rasanya hobi yang ini nggak ada pressure deh, jadi insyaAllah selalu dinikmati...hihihi. Makanya harap maklum kalo saya lagi rajin posting, lagi menikmati sih!

Blog EntryGajah ini sudah peotJun 26, '08 6:22 AM
for everyone

Kakak saya nyebut saya gajah. Bukan karena gendut (karena dia lebih gendut dari saya), tapi gara-gara bukunya Agatha Christie yang judulnya "Gajah Selalu Ingat". Saya emang biasanya bisa mengingat hal-hal penting dan nggak penting sabangsaning tanggal ulang tahun sodara-sodara dan temen-temen, nomer-nomer telepon (sampe temen saya nyebut saya buku telepon berjalan), nomer-nomer plat mobil (nggak penting banget lah), atau nama-nama pemenang Gadis Sampul (ini apalagi...).

Di keluarga saya, biasanya saya (dan ibu saya) yang pertama ingat ultah, dan si bungsu yang paling "nggak ngeh". Sekarang, saya biasanya jadi yang terakhir inget. Termasuk hari ini, hari ultahnya kakak saya nomer 2. Lagi-lagi saya telat.

Saya juga biasanya inget nama dan wajah orang. Tapi lagi-lagi beberapa hari yang lalu saya betul-betul lupa nama seseorang, yang sebetulnya sih belum lama-lama amat nggak ketemu. Saya nemu seseorang di friendster, pas diliat foto-fotonya ternyata istrinya adalah temen kantor saya waktu di Shafira produksi. Dipelototin foto istrinya, tetep ga inget-inget namanya. Padahal dulu suka curhat-curhatan, malah pas nikahannya di Garut saya juga dateng (kok saya ga ngeh ya kalo suaminya anak itb). Tapi sampe sekarang pun ga yakin apa saya bener nginget namanya: Rina. Kayaknya salah.

Dan banyak lagi. Baca aja postingan akhir-akhir ini...pasti banyak tulisan 'lupa', 'ga inget', 'memori parah' dll.

Gajah ini semakin peot....atau kebalik...gajahnya overload....

Blog EntryMenikmati sepakbola ala sayaJun 25, '08 10:08 PM
for everyone
Mau bikin seri baru ah...seri Menikmati. Seperti postingan yang dulu.

Mumpung lagi rame Euro nih (meskipun gaungnya cuma samar-samar di sini, cenderung ga kedengeran), jadi pengen ngobrolin sepakbola juga.

Dulu saya ga suka (nonton) sepakbola. Suka terheran-heran dengan hebohnya papa almarhum dan bibi (adik ibu yang bungsu) kalo lagi nonton pertandingan sepakbola di tivi. Hebohnya jangan ditanya lah. Saya pikir "Apa sih asiknya nonton segerombolan orang ngejar-ngejar satu bola keliling lapangan?". Kira-kira sama dengan pikiran rata-rata orang Amerika kali ya. Nggak tau aja orang Amerika kalo selain mereka orang-orang juga pada bingung nonton American football "Apa sih asiknya nonton segerombolan orang seruduk-serudukan ngerebutin satu bola?"

Anyway, lupa karena alasan apa, akhirnya waktu Piala Dunia 98 saya memutuskan nyoba nonton satu pertandingan bola dari awal sampai akhir. Saya lupa pertandingan siapa lawan siapa yang waktu itu saya tonton. Tapi yang jelas, surprisingly, I liked it!  Ternyata memang jangan judge a game by its cover. Kalo menganggap sepakbola simply sebagai segerombolan orang lari-lari ngejar satu bola keliling lapangan, dijamin nggak akan suka sampai kapanpun. Tapi coba perhatikan skill individunya, strategi yang diterapkan di lapangannya, ternyata menarik!

Saya ingat dulu itu kagum sama Zinedine Zidane yang permainan kakinya hebat, duo pemain Chile (yang dulu inget namanya tapi sekarang lupa) yang jagoan dan kompak, Cafu yang nggak pernah keliatan capek lari kesana kemari ngoper-ngoper bola dari sayap, Ronaldo mah nggak usah dibahas lagi. Tim Inggris yang mainnya cepat, bola melesat syeng-syeng-syeng dari kaki ke kaki. Tim Italia yang meskipun pemainnya cakep-cakep tapi permainannya cenderung lambat dan membosankan, plus banyak diving. Tim Brasil yang aduuuh keren abis sih mainnya! Tim Prancis dulu jadi favorit saya, dan ternyata memang jadi juara akhirnya.

Sejak itu saya lumayan bisa menikmati pertandingan sepakbola, tapi dengan beberapa catatan: cuma bisa menikmati pertandingan sepakbola kelas Piala Dunia/Eropa/Amerika. Sepakbola Indonesia, ga bisa menikmati. Liga-liga nggak bisa menikmati juga, terutama karena mikir ini apaan sih pemain yang tadinya membela klub anu kok enak banget pindah-pindah. Buat saya kesetiaan jadi nilai plus plus juga soalnya :D.

Menikmati sepakbola ala saya rasanya nggak sampai terlalu tergila-gila sama tim atau pemain tertentu. Meskipun sebetulnya sempet saya bikin nickname "Didou" untuk diri sendiri, ngikut-ngikut "Zizou"-nya Zidane...hehehe...tapi nggak sampai ngoleksi foto atau posternya untuk dipasang di dinding kamar. Kalo ngikutin berita tentang dia sih rasanya iya, tapi ya udah sebatas itu aja. Kalo ada berita hayu, nggak ada okeh. Nggak maksa nyari-nyari.

Sayangnya, saya pindah ke negara yang tidak menyukai sepakbola. Jadi nggak pernah lagi nonton pertandingan sepakbola kalo nggak ada di tivi (sekali lagi, saya nggak pernah maksain nyari-nyari beritanya soalnya). Tapi kalo sekalinya ada (seperti Piala Dunia 2006 finalnya disiarin di sini) ya nonton. Dipikir-pikir kangen juga nonton bola. Dukung siapa ya sekarang... hmmm...Spanyol aja deh *iseng...nonton juga engga*

p.s : itu foto Aliefya yang kata adik saya mirip Thierry Henry.

p.p.s : inget sekarang, duo Chile itu Marcelo Salas dan Ivan Zamorano

Blog EntryNostalgia: di LSS ITBJun 23, '08 1:31 AM
for everyone
Seperti juga alasan saya masuk SMA 3 adalah supaya bisa gabung KPA 3, salah satu alasan saya masuk ITB adalah supaya bisa gabung LSS (Lingkung Seni Sunda)nya. Selain tentunya, karena pengen jadi arsitek, atau sekedar pengen jadi anak ITB. Atau kalo ancamannya kakak-kakak saya "Kalo ga masuk ITB, moal diaku adi! (ga akan diakui sebagai adik)". Hahaha, heureuy mereka memang kabina-bina. Tapi memang ancaman yang manjur. Gara-gara ancaman itu pasca Ebtanas saya belajar untuk UMPTN 8 jam sehari, mengurung diri di kamar, latihan soal-soal. Alhamdulillah lulus. Kalo ga lulus ke ITB, saya jadi mahasiswa STTTekstil Cicadas (serius).

Anyway, kenapa saya pengen gabung LSS? Pertama, karena ada something happened di KPA yang membuat KPAers angkatan saya sebagian 'bersumpah' kalo masuk ITB nggak akan masuk KPA. Apakah itu? Well, let's just keep it a mystery.
Kedua, sepertinya gara-gara cerita-cerita kakak saya yang ikutan LSS. Kok kayaknya asik. Bukan karena kegiatannya atau apa, tapi karena dari cerita-ceritanya sepertinya orang-orangnya rame, tukang heureuy dan pikaseurieun (yang nggak ngerti ngacung!).

Okeh, ceritanya udah masuk ITB nih. Daftarlah ke LSS, yang waktu itu tempatnya masih di... di...aduh apa namanya ya. Sesuatu Timur (Nanti kalo inget diganti. Memori saya udah parah sekarang.). Sekarang udah hilang tak berbekas, diganti Campus Center.

Seperti juga aktifnya saya waktu SMA di KPA, di ITB saya juga 'nyandu' LSS. Mulai dari proses orientasinya: belajar degung, sampe ikutan malam pelantikan (rasanya ada istilahnya, tapi lagi-lagi lupa). Setelah resmi jadi anggota makin aktif aja. Belajar segala-gala sambil tetep nyadar kemampuan (maksudnya, kalo buat nari mah, saya engga luwes...kurang cocog). Pas awal-awal biasanya angkatan baru dikaryakan buat maen degung dan upacara adat. Saya biasanya main bonang atau jadi mamayang (penari). Manggung di banyak acara kawinan, wisudaan, dll dsb. Jadi 'terbiasa' wajah bermake up tebal dan rambut bersanggul (waktu belom kerudungan).

Kesenian favorit saya di LSS adalah rampak kendang. Nontonnya, bukan maennya. Da maennya mah engga bisa. Meskipun pengen bisa.

Berorganisasinya juga ikut, meskipun nggak sepenuh hati karena sebetulnya saya nggak suka jadi pengurus. Lebih suka maen (siapa sih yang engga). Jadi seksi dokumentasi yang ga jelas, bendahara junior Lustrum yang ga ngerti jobdes, sekretaris yang juga teu baleg. Moral of the story: jangan mau memegang jabatan yang tidak disukai. Dijamin menderita. Jabatan yang saya sukai dan hayati selama di LSS adalah jadi tukang rias (sampe dikursusin ke salon di Balubur), dan redaktur MaCa (Majalah kaCa) dengan spesialisasi mengasuh kolom QoMa (Qomik Maca).

Yang pasti sih saya rajin bantu-bantu urusan dekor kalo LSS lagi ada acara. Sampai begadang-begadang di kampus, tidur di lantai Aula Barat pun hayu. Dan yang lebih pasti lagi, saya selalu menyediakan diri kalo LSS ada acara makan-makan atau nonton bareng. Dulu tempat makan yang sering jadi 'korban' LSS adalah Wendy's Dago (terus bangkrut diganti rumah makan Padang). Kenapa korban? Soalnya kalo barudak LSS makan di sana, dijamin paciweuh dan ribut.

Banyak yang memorable dari LSS. Saking banyaknya nggak bisa diceritain semua. Yang pasti saya tetep cinta sama LSS, dan kesenian Sunda. Tapi jangan minta sumbangan (dulu) yah, saya alumni yang tak berduit. Hihihi...



Blog EntryThese are a few of my favorite things...Jun 20, '08 1:47 PM
for everyone
(ngikutin postingan Mila, dibikin ala lagu soundtrack Sound of Music)

Knitted lace fabrics and warm cable sweaters,
Hot cappuccino while blogging for hours,
Thick tempe fritters with green hot chilis,
These are a few of my favorite things....

Baby pink colours and comfy flat sandals,
Playing with Aliefya out on the green grass,
Sleeping in winter and my baby's kiss,
These are a few of my favorite things....

Homemade tofu soup and vanilla ice creams,
Scent of tuberoses and deep into fun dreams,
Warm popcorn while watching Tom Hanks' movies,
These are a few of my favorite things....

When PMS kicks,
When si Al cries,
When I'm feeling sad,
I simply remember my favorite things,
and then I don't feel so bad....

Blog EntryNostalgia: Ga suka jadi anak baruJun 20, '08 2:28 AM
for everyone
Saya dari dulu termasuk yang susah memulai bergaul. Apalagi waktu SD...waaah payah banget lah. Pendiam (sampe sekarang...meskipun keliatan banyak omong di blog yah...hehehe), dan enggak pedean. I always consider myself an ugly duckling (who turned into an ugly duck? heheh).

Makanya, buat saya jadi anak baru adalah penderitaan. Kalo pertama masuk sekolah di kelas 1 sih, ok lah, semuanya sama-sama anak baru. No problem. Semua sama-sama memulai. Tapi kalo jadi anak baru di lingkungan baru, nah...baru deh. Diem ga inisiatif, nunggu diajak aja. Kalo kata temen saya, "Kalo ga dipencet ga bakalan hurung" (hurung=nyala).

Karena papa dimutasi dari pusat ke daerah (biasa lah, karena clash sama pimpinan... politik...politik), jadilah saya juga ikut mutasi dari pusat ke daerah waktu kenaikan ke kelas 5. Meninggalkan sekolah yang sebelumnya sebetulnya nggak terlalu berat, soalnya ya itu tadi, saya bukan anak gaul. Nggak ada sobat yang terlalu dekat waktu SD. Beratnya malah karena ninggalin sekolah yang bangunannya bagus dan banyak fasilitasnya, dengan siomay yang terkenal enaknya. Ada yang nggak tau siomay Angela? ah rugi deh.

Pindah ke Sukabumi, ortu saya tetep cari sekolah yang segrup sama St.Angela mengingat kualitas pendidikannya. Jadilah saya sekolah di SD Yuwati Bhakti yang seordo (Ursulin) sama St.Angela. Pindahan, pastinya banyak ngebanding-bandingin, apalagi buat anak kecil yang masih self oriented, gengsian, merasa 'anak kota yang diturunkan ke daerah' (ah payah deh gue): ih kelasnya kecil dan gelap. Jauh sama kelas-kelasnya Angela yg besar dan terang benderang. ih kantinnya jelek, jualannya ga mutu. Dan ih ih lainnya. (Ga tau aja pada akhirnya si ih ih ini berubah jadi ah ah...jajanannya enak lho di YB.)

Saya masuk kelas 5B, wali kelasnya bu Mahrita (yang kena kanker rahim). Waktu itu di kelas saya ada 2 anak baru. Yang satu kecil imut lucu, yang satu gede ga imut ga lucu (si ugly duckling). Karena sesuatu hal, satu di antara kami akan diambil sama kelas 5A. Yang terpilih sama wali kelas 5A untuk masuk di kelasnya ternyata temen saya yang imut lucu. Ketidakpedean saya nambah dong (uh pasti karena saya ugly). Apalagi ketika ternyata pas pembagian raport caturwulan pertama, ada policy yang aneh: murid kelas 5B tidak bisa ada nilai 9 di raport meskipun layak. Sementara 5A bisa. Jadi kalo kata guru saya sih, sebetulnya saya punya beberapa nilai 9 di raport, tapi apa daya, dibikinlah jadi 8 semua.

Tapi ternyata....ternyata...temen-temen saya di sini sangat friendly. Hangat dan menyenangkan. Si ugly duckling langsung punya banyak temen baru. Senang deh. Apalagi karena kota kecil, rata-rata rumah temen-temen nggak jauh dari sekolah. Rumah saya waktu kelas 5 itu, ga sampe 100 meter dari gerbang belakang. Jadi ini pengalaman baru: pulang sekolah bareng sama temen-temen jalan kaki. Menyenangkan.

Yang baru lagi, di Sukabumi pelajaran olahraga paling populer adalah berenang! Kalo di Bandung kan basket. Di sini saya pertama kali belajar berenang dengan baik dan benar. Apalagi waktu itu di depan rumah saya ada kolam renang umum, yang sering dipake buat pelajaran renang oleh sekolah saya. Menyenangkan.

Ah pokonya banyak hal yang menyenangkan di Sukabumi (sementara ortu saya punya horrible memories tentang Sukabumi...that's another story in Nostalgia series. Wait for it!). SD 2 tahun di Sukabumi lebih berkesan dari 4 tahun di Bandung. Temen-temennya, jajanannya, pramukanya (wajib euy), berenangnya, ngewakilin sekolah pas Porseni (main catur! kalah pula di ronde pertama! lagiaaan...siapa suruh saya main catur. Sekedar main sih tau, strategi? Boro-boro), ngewakilin sekolah buat pelajar teladan (abis katanya saya satu-satunya murid non-Cina yang memenuhi standar. Maklumlah, Indonesia masih diskriminatif. Padahal ada Elke dan Elsa yang pinter-pinter. Tapi alhamdulillah sampai ke tingkat Jabar).

(ini foto perpisahan SD. NEM tertinggi dari kanan ke kiri. Tebak saya yang mana)

Pindahan kedua, waktu kenaikan ke kelas 2 SMP. Seperti yang sudah diceritakan, saya pindah ke SMP Negeri di daerah Kebon Kelapa. Yang ini banyak shock-nya. Pertama, pindah dari swasta ke negeri, yang katanya persaingannya bakal lebih ketat. Kedua, dari sekolah Katolik ke sekolah umum, ada pelajaran agama Islamnya (haha...dulu mah ini nightmare, karena ga bisa). Ketiga, ada sekolah siangnya. Kalo mau ngebandingin bangunannya, walah...jauh pisan. Saya asli kaget waktu pertama kali masuk kelas 2D: ih! Gelap! Kotor! Belum lagi di laci/kolong mejanya banyak...kulit kwaci! Ya ampyun.

Lagi-lagi saya jadi ugly duckling yang lama baru bisa adaptasi. Apalagi suasana nggak sehangat di YB. Alhamdulillah, yang bikin status dan kepedean mulai terangkat adalah waktu pelajaran bahasa Inggris. Soalnya saya satu-satunya yang bisa ngejawab pertanyaan si bapak dengan benar. Heheh.

Tapi memang betul, persaingan di sekolah negeri kerasa banget lebih susah dibanding waktu saya di Sukabumi. Atau mungkin gara-gara saya pindah dari daerah ke pusat lagi. Kalo di YB saya langganan juara 1 atau 2, di sini, nggak gampang! Langganan juara 1 di kelas saya dipegang Budiyana (yang akhirnya sejalur juga ke SMA 3 dan ITB). Saya mah, ah berapa ya, lupa. Sekian sekian deh, meskipun masih 10 besar.

Yang asik dan memorable semasa di sini adalah: pelajaran masak, jajanan enak (gehu, lumpia basah, roti kukus, martabak mini), grup angklung, guru-guru yang baik hati. Yang memorable tapi nggak asik: difitnah (digosipin suka sama seorang cowo yang ternyata dikeceng sama seorang cewek berbadan gede. Alhasil tiap ketemu cewe itu saya dipelototin).

Hihihi...asik ya mengingat masa kecil. Lucu.

Tapi saya tetep ga suka jadi anak baru, sampai sekarang. Termasuk jadi orang baru di lingkungan pertemanan yang sudah established. Soalnya saya susah gaul. Kecuali online. :D


Blog EntryNostalgia: Politik masuk sekolahJun 19, '08 4:53 PM
for everyone
(Nostalgianya dibikin berseri ah...)

Kadang-kadang saya ngerasa seperti Miss Marple, suka menghubung-hubungkan dua kejadian yang berbeda, tapi mirip.

Mengikuti berita-berita kampanye presiden Amerika, salah satu janji yang dikampanyekan oleh kedua kandidat adalah menumpas lobbyists dan special interests groups, yang seringkali merugikan kepentingan orang lain yang sebetulnya punya hak sama tapi tidak punya lobbying power (termasuk money).

Karena kampanye-kampanye ini saya jadi inget waktu SMP. Kenaikan ke kelas 2, saya pindah ke Bandung, setelah 3 taun di Sukabumi. Saya didaftarkan ortu ke SMP Negeri paling top di Bandung. Eh ternyata nggak keterima, katanya alasannya karena saya (dan kakak saya juga, sama2 ditolak) pindahan dari sekolah swasta di luar daerah, apalagi katanya kakak saya pindahnya di kelas 3. OK lah, whatever. Akhirnya kita berdua masuk SMP di daerah Kebon Kelapa.

Bertahun-tahun kemudian, saya ngobrol soal ini sama temen seangkatan sejurusan di kampus. Dia lulusan SMP Negeri paling top seBandung itu. Komentarnya ngagetin saya. "Kok aneh? Saya dulu juga pindahan, dari sekolah swasta, kelas 3, jauh lagi dari Jogja. NEM saya lebih kecil dari kamu, tapi saya keterima." Whattt???? Fyi, temen saya ini ortunya termasuk kaya raya, dibanding ortu saya mah jauh lah.

Gara-gara obrolan ini saya jadi sebel sama SMP Negeri paling top seBandung itu. Meskipun alumninya banyaaaaaaaaaaaaaaaak yang jadi temen-temen saya. hihihi...

politiiik politik...

Blog EntryNostalgia: di KPA 3Jun 18, '08 3:50 PM
for everyone

Abis baca tulisan Ajeng tentang buku KPA 3 keliling Eropa, jadi mood bernostalgia, kembali ke 17 taun yang lalu. *omg omg omg...17 taun..*

Saya aktif ngangklung sebetulnya dari SMP kelas 3. Waktu itu grup angklung SMP saya udah sekian taun nggak aktif, baru mulai diaktifkan kembali oleh pembimbingnya, pak Hasan guru sejarah yang kusayang *da bageur*. Lupa gimana kok akhirnya bisa gabung, apa karena si bapak nyari orang ke tiap kelas gitu ya? Yang pasti akhirnya angkatan saya yang ikut cuma sedikit banget, mungkin 5. Lainnya anak kelas 1 dan 2.

Lupa juga gimana akhirnya kok saya jadi ketua grup angklung SMP saya, plus kebagian tugas ngedisain kaos buat penampilan di perpisahan nanti. Anyway anyhow, perkenalan dengan dunia angklung di SMP ini yang bikin saya bertekad masuk SMA 3: biar bisa gabung KPA! (Soalnya tadinya pengen juga masuk SMA 8 yang ada jurusan A4-bahasa, tapi dipikir-pikir SMA 8 ga ada KPA!).

Masuk SMA 3, pilihan pertama ekstrakurikuler tentu aja KPA, karena saya sudah terlanjur cinta sama angklung. Setelah gabung, makin cinta karena saya suka jenis-jenis lagu yang dimainin di sana. Kalo ada yang mengira angklung itu cuma buat mainin lagu tradisional atau klasik, itu salah! Pemandu-pemandu visionaris dan berbakat di KPA mengaransir lagu-lagu pop bahkan rock untuk dimainkan angklung. Angkatan saya paling kenal sama Winter Games-nya David Foster sama soundtrack MacGyver. Angkatan 96 mungkin Santorini-nya Yanni.

Banyak pengalaman di KPA 3 yang nggak terlupakan. Menang festival, gagal main di Konferensi Asia Afrika padahal udah latihan selama liburan, main waktu study tour ke SMA 1 Jogja, ikut ngecat ruang KPA, ngadangdut bersama cowo-cowo bandel 96, rebutan main bas betot, latihan tiap Sabtu, manggung di mana-mana, dikira cowok sama mahasiswa Elektro, jalan-jalan, dan kampanya calon ketua KPA.

Yang terakhir ini inget banget satu pertanyaan: "Bagaimana visi kamu tentang KPA 10 tahun lagi?" Waktu itu saya jawab, KPA saat itu sudah terkenal dan mendunia. Tapi memang jawaban paling bijak dari Nane, bahwa itu semua tergantung anggota dan pengurusnya. "Kalo mau usaha dan kerja keras, bisa berkembang dan jadi kuat. Kalo nggak ya nggak akan jadi apa-apa". Nggak heran memang kalo akhirnya Nane yang jadi ketua KPA.

Ternyata memang anggota, pengurus, dan pemandunya sangat mau usaha dan kerja keras, sampe akhirnya bener-bener mendunia. Bravo!

Blog EntryAkhirnya...selesai juga...Jun 18, '08 3:01 PM
for everyone
Hari-hari begadang sampai pagi sudah berakhir...
Hari-hari nongkrongin Google Docs (maklum, ga punya MSWord) sudah berakhir...

Sekarang bisa ngerajut lagi, ikutan event prakarya kertas lagi, baca buku-buku craft lagi, ngurusin website lagi....

Hmmm....enaknya ngapain dulu ya...

*nuhun dalus tos ngarerepot...hehehe*

Blog EntryKenapa sekarang banyak anak kembar?Jun 15, '08 6:00 AM
for everyone
...ini asli nanya.

generasi saya kayaknya nggak banyak kenal orang kembar. Sekarang, dihitung-hitung sudah ada 5 kenalan dekat (bukan kenal online, bukan temennya temen, dll) yang anak-anaknya kembar.
Is this a phenomenon?

Blog EntryApa yang didapat dari kuliah di jurusanmu?Jun 11, '08 11:58 PM
for everyone

Sambil baca milis temen-temen angkatan jurusan, saya merasa 'out of touch'. Seperti orang awam dengerin obrolan eksklusif kelompok tertentu yang nggak...eh...kurang saya mengerti. Memang udah lama banget nggak berurusan dengan dunia arsitektur. Dulu masuk jurusan arsitektur pun 'hanya' gara-gara saya hobi gambar dan terinspirasi pelajaran gambar teknik-nya pak Sutarya di kelas 2 SMA. Di jurusan pun saya nggak terlalu antusias sebetulnya, selain urusan ngegambarnya dan mata kuliah pilihan desain interior. Lebih suka nongkrong main degung dll di LSS.

Sekarang, ketika di milis ada berita salah satu teman seangkatan saya jadi satu dari "13 (indonesian) young architects under 40", dengan kata lain jadi arsitek sukses, saya jadi mikir seperti judul postingan ini. Apa yang saya dapat dari kuliah di jurusan arsitektur? Apa ya? Jadi arsitek (udah) nggak (lagi). Berhubungan dengan dunia arsitektur udah nggak lagi. Kalo ditanya kira-kira bikin rumah dengan luas segini dan tampilan seperti anu, saya udah ga bisa lagi ngira-ngira biayanya. Udah out of touch. Isi kuliah-kuliah sudah berlalu dari memori...

Apa ya?

Gimana dengan temen-temen, terutama yang bekerja tidak sesuai jurusannya, atau yang tidak bekerja sama sekali?

Blog EntryPanas!Jun 8, '08 12:28 PM
for everyone
kena heatwave...
seperti 2 taun yang lalu...
kemaren lebih panas dari hari ini, besok katanya lebih panas juga ....
ga ada AC lagi...



Blog EntryTipe-tipe buku craft di USAJun 7, '08 3:05 AM
for everyone
Ini saya tulis di obrolan buku craft di Forum HoKKi, tapi saya pengen sharing di sini juga.

Secara umum buku-buku craft di USA kalo saya liat sih ada beberapa tipe :

1. buku teknik (basic how-to) dengan contoh projek2 tingkat pemula.
Misalnya buku-buku seri for Dummies, atau di bawah ini buku basic series dari Barron's :


2. (kalo buku tingkat pemula udah banyak) buku-buku yang mengkhususkan diri ke teknik tingkat menengah sampai mahir. Ini juga nggak membahas keseluruhan, seringnya cuma beberapa atau malah satu teknik tertentu.
Misal :


3. (kalo buku how-to sudah banyak) buku-buku di bidang yang sama, yang isinya contoh ide/projek aja. Udah masuknya ke design/styling.
Misal :


4. buku kumpulan pola dan motif dasar untuk dikembangkan
Misal :


5. buku yang mengambil bahan/material sebagai tema utama
Misal :


6. buku sharing pengalaman pribadi ttg craft tertentu
Misal :


sepertinya ada lagi...tapi lupa...
nanti kalo kepikiran saya tulis.

Oya, banyak yang sebetulnya isinya simpel sekali, malah kadang projeknya nggak terlalu bagus juga, tapi penyampaiannya menarik.

Blog EntryHadiah Ulang TahunJun 6, '08 4:21 AM
for everyone
Sebuah plakat kuning yang menempel di bangku taman New York Botanical Garden menjadi inspirasi tulisan ini. Di plakat itu tertulis "For my father (nama), happy birthday!".

Kalau ada yang ultah, apa yang biasanya dilakukan? Memberi ucapan selamat dan doa, kasih kartu, makan-makan, kasih kado, pesta. Jarang (meskipun ada beberapa) teman-teman saya yang merayakan ulang tahun dengan sesuatu yang punya dampak sosial (di luar mengenyangkan teman-teman :P). Saya juga rasanya belum pernah.

Beberapa yang merayakannya dengan sesuatu yang 'lain', biasanya berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang beruntung, seperti anak-anak panti asuhan atau panti jompo, menyumbangkan uang untuk dana sosial. Saya pribadi sepanjang ingatan belum pernah ketemu kenalan yang merayakan ulang tahun dengan menyumbangkan sesuatu untuk digunakan oleh publik, seperti bangku taman di New York Botanical Garden tadi. Kalaupun ada, saya lupa.

Mungkin bagus juga ya dijadikan tradisi. Merayakan ultah atau memberi hadiah ultah dengan cara menyumbangkan sesuatu untuk umum. Kalau setiap yang ultah menyumbangkan buku untuk membentuk sebuah perpustakaan umum di daerah tertinggal, misalnya, wah...dampaknya bisa besar sekali.

Ultah tahun ini saya mau ngapain ya?

Blog EntryNila-nila perusak susuJun 4, '08 1:37 AM
for everyone
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Salah satu peribahasa Indonesia yang familiar ya?

Kadang-kadang karena satu kesalahan (kesalahannya tergantung preferensi pemirsa juga sih) yang dilakukan seseorang, rusak sudah image orang itu di mana pemirsanya.

Salah satu nila di mata saya adalah rokok. Gara-gara rokok penilaian saya terhadap seseorang bisa berubah drastis. Memang nggak adil sih. Saya sendiri berusaha nggak melupakan kualitas yang lain dari orang yang bersangkutan, tapi kadang-kadang itu otomatis aja. Terutama kalo saya nggak kenal baik sama orangnya.

Misalnya Ferdi Hasan. Cakepnya langsung ilang di mata saya waktu saya liat dia merokok di salah satu ruang tunggu Trans TV. Hahaha...nggak objektif banget ya? Padahal tetep cakep.

Nila lainnya yang subjektif, misalnya kalo si orang itu bikin saya sebel. Biarpun orang-orang misalnya suka sama dia, atau orang-orang bilang dia baik....gara-gara si nila, saya ga bisa berpendapat sama. Again, nggak adil sih. Maklum, masih belajar.

Nila memang jagoan. Susu seberkualitas apapun bisa rusak hanya dengan setitik. Ingat gubernur Eliot Spitzer dengan nila-nya, skandal seks. Portfolionya yang panjang jadi tidak berharga. Tapi nila yang ini memang nila kelas tinggi, soalnya selain merusak moral image, juga mencerminkan kemunafikan pak mantan gubernur, karena salah satu kampanyenya adalah memberantas prostitusi.

Nila yang hampir sama menitik Bill Clinton. Tapi imagenya kok nggak begitu rusak ya? Mungkin karena prestasinya jauh lebih banyak dan warga Amerika merasakan manfaatnya, and he's very likable.

Ah..nila-nila perusak susu. Mudah-mudahan kita masih bisa ingat rasa enaknya susu itu sebelum tertitiki nila...

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help